Masih belum menemukan apa yang Anda cari? Masukkan kata kunci pencarian Anda untuk mencari artikel yang ada di Blog ini:

Jodoh Yang Sesuai Kehendak Tuhan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Mengasihi Diri Sendiri

Mengasihi Diri Sendiri

BERSYUKUR KARENA DISELAMATKAN

BERSYUKUR KARENA DISELAMATKAN

e enjte

Doa Pada Hari Kenaikan Kenaikan Tuhan Yesus

Ya Tuhan Allah yang Mahabesar, kami mengucap syukur kepadaMu, sebab Engkau sudah mengutus AnakMu yang tunggal, turun ke bumi dan mengambil tabiat kami yang lemah. Dialah yang memberi keadilan kepada kami dengan kematian dan kebangkitanNya dari antara orang mati, dengan jalan membayar lunas hutang dosa kami. Dia sudah menang atas musuh kami, dan sudah berkorban demi pemberontakan kami atas Engkau karena dosa. Engkau sudah menaikkan Dia ke sorga dengan kemuliaan besar, maka sekarang pun Ia duduk di sebelah kananMu untuk memberikan kepada kami, yang ada di bumi, RohMu yang kudus dan segala berkat sorgawi sampai selama-lamanya. Juga akan mengangkat kami, pada kesudahan dunia ini, berpindah ke dalam surga.

Ya Tuhan Yang Mahabesar, sekarangpun kami tahu ada di mananya pengharapan kami, dan siapa yang melindungi kami, di segala waktu dan di segala tempat, sehingga tiada ketakutan apapun dapat membujuk hati kami lagi, selama kami menaruh pengaharapan kepada AnakMu, Raja kami itu. Dia telah melindungi kami dengan pengasihan. Maka sekarang kami memohon kepadaMu, lepaskanlah kiranya kami dari dosa dan dari keinginan dunia, supaya kmai boleh mengingat kepada pengharapan kami di surga, dan menempatkan diri kami di dunia ini, seperti seorang perantau yang negeri asalnya adalah surga.

Ya Kristus, Tuhan kami yang Maha Kudus! Kami memuji NamaMu dan mengucap syukur dengan segenap hati kami, karena Engkau sudah mengingat kami dengan belas kasihan, sudah datang ke dunia ini untuk menebus dengan darahMu, jiwa kami daripada hukuman dosa dari kematian. Biarlah sekarang kami hidup dan mati bagiMu juga dengan pertolongan Roh Kudus. Amin

e martë

04. YANG DIKANDUNG OLEH ROH KUDUS, LAHIR DARI ANAK DARA MARIA.

1. Allah Yang Telah Menyatakan Diri Dalam Manusia

Injil Yohanes dengan jelas menegaskan bahwa, ”Firman itu telah menjadi manusia”. (Yoh. 1:14). Tujuannya tidak lain untuk mendamaikan manusia dengan Allah dan dengan demikian Firman yang telah menjadi Manusia itu juga menyelamatkan manusia.

Rencana penyelamatan Allah tidak dimulai sejak manusia jatuh dalam dosa. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, Allah sudah memberi peringatan kepada manusia supaya tidak mengambil makanan atau buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat (lih. Kej. 2:17). Ini menunjukkan bahwa Allah mengasihi manusia dan tidak menghendaki manusia mengalami kebinasaan akibat dari dosanya (Yoh. 3:16).

Kasih Allah tidak pernah berhenti meskipun manusia sudah jatuh dalam dosa (Kej. 3:21; 4:15; 6:8, 13, Mat. 20 :1-16). Dengan penuh kasih sayang Allah tetap memelihara hidup manusia, bahkan untuk yang pertama kalinya, Allah berkenan menyatakan janji-Nya (Kej. 3:15). Rencana penyelamatan Allah ini kemudian dinyatakan dengan peristiwa pemanggilan Abram dari Ur-Kasdim. Kemudian dilanjutkan dengan memberi Israel, Sepuluh Hukum di Gunung Sinai.

Rencana penyelamatan Allah juga disampaikan kepada para nabi. Namun dalam kenyataan manusia tetap tidak peduli akan kehendak Allah yang kudus. Kasih setia Allah akhirnya mencapai puncaknya dalam kedatangan Yesus, yang adalah Sang Firman. Kehadiran-Nya di dalam dunia adalah karena inisiatif dari Allah sendiri. Ini berarti Yesus tidak datang dari dunia ini, melainkan datang dari Allah sendiri (lih. Mat. 1:20). Allah dalam mewujudkan rencana dan kehendak-Nya memiliki kehendak yang bebas. Cara yang dipakai Allah kali ini adalah melalui kandungan seorang wanita, yaitu Maria. Allah berkenan memakai Maria sebagai sarana dalam mewujudkan kehendak-Nya.

Dapat dikatakan bahwa Yesus adalah ungkapan dan perwujudkan kasih Allah kepada manusia. Sang Firman itu telah hadir dalam sejarah kehidupan manusia. Rasul Paulus memberi gelar Yesus sebagai Adam kedua (bdk. Rm. 5:12). Namun kehadiran-Nya tidak mendapatkan sambutan yang selayaknya dari manusia. Bahkan atas dasar kecemburuan, kebencian manusia. Yesus, Sang Firman yang menyelamatkan harus mengalami kematian di atas kayu salib. Ia disalibkan sebagai seorang penjahat yang tidak layak menerima pengampunan. Meskipun demikian karya Allah belum berakhir. Kematian Yesus di kayu salib bukan akhir dari usaha Allah dalam menyelamatkan manusia. Pada hari yang ketiga Ia bangkit kembali dari antara orang mati. Ia dibangkitkan oleh Allah sendiri.

Kasih Allah memang luar biasa. Ia bersedia menanggung resiko yang seharusnya dipikul oleh manusia, yaitu mati akibat dari dosanya (bdk. Fil 2:5-8). Melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, manusia memperoleh keselamatan seperti yang sudah dijanjikan oleh Allah sendiri. Manusia diselamatkan dari kebinasaan yang kekal. Dengan perantaraan kematian, Yesus manusia lama turut dimatikan, sebaliknya dengan perantaraan kebangkitan-Nya, manusia baru juga dibangkitkan. Berarti manusia di dalam Yesus Kristus telah memasuki kehidupan yang baru. (Rm. 6:4; Kol. 2:12; 3:9-10; 2Kor. 5:17).

Karya penyelamatan Allah telah menjadi nyata dalam diri Yesus akan digenapi dan disempurnakan ketika Ia datang kembali yang kedua kalinya (Ikor. 15:22-25; Ibr. 9:28). Dalam menyambut kadatangan-Nya yang kedua kali setiap orang percaya dipanggil untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik untuk melibatkan diri dalam karya Yesus Kristus. Semua itu sebagai ungkapan rasa syukur kita atas keselamatan yang telah dinyatakan oleh Allah dan dianugerahkan oleh Yesus Kristus (2Ptr. 3:14; Kol 1:17; 3:15-17).

2. Hidup dan pelayanan Yesus

Kedatangan Yesus merupakan puncak rasa kesetiakawanan / solidaritas Allah kepada manusia. Rasa kesetiakawanan Allah sudah nampak sejak Yesus sudah ada dalam kandungan. Dalam keadaan hamil, Maria dan Yusuf harus meninggalkan Nazaret di daerah Galilea menuju desa Betlehem di daerah Yudea. Jarak yang harus ditempuh saat itu sekitar 11 km. Bayi Yesus yang masih dalam kandungan dan yang seharusnya mendapatkan perawatan yang terbaik atau perhatian khusus dipaksa mengalami perjalanan yang panjang dan melelahkan.

Demikian juga ketika saatnya dilahirkan. Seharusnya Yusuf dan Maria mempersiapkan segala sesuatunya. Tetapi sampai saatnya Ia dilahirkan, Yusuf dan Maria belum mendapatkan tempat yang layak, karena semua rumah di Betlehem sudah penuh (Luk. 2:7). Ketika saatnya sudah dilahirkan, Ia terpaksa dibaringkan di palungan, di tempat yang biasanya untuk menaruh makanan ternak. Yang mengunjungi ketika Ia dilahirkan pertama kali adalah para gembala yang kebetulan sedang menggembalakan ternaknya tidak jauh dari Betlehem. Bersamaan dengan kedatangan orang Majus, Herodes memerintahkan pembantaian anak-anak yang masih di bawah umur 2 tahun. Herodes khawatir dengan rumour tentang lahirnya Raja Besar, Herodes khawatir Dia akan menyaingi ketika dia berkuasa.

Sehingga Yesus yang baru dilahirkan terpaksa dibawa mengungsi ke Mesir, yang jauhnya sekitar 300 km. Baru setelah situasi aman, Yesus yang masih kecil dibawa kembali ke Nazaret.

Sebelum mengawali karya-Nya, Yesus berpuasa selama 40 hari di padang gurun. Masa puasa merupakan masa persiapan bagi Yesus di dalam mewujudkan rencana Allah. Begitu puasanya berakhir, iblis datang untuk menggoda Yesus. Tujuannya tidak lain untuk menggagalkan karya Yesus. Semua tantangan yang dihadapi Yesus bisa diselesaikan dengan baik, karena Yesus lebih memperhatikan kehendak Sang Bapa daripada memperhatikan kehendak iblis.

Dalam mewujudkan karya Allah, Yesus banyak mengajar bangsa Yahudi. Di samping itu, Ia juga banyak membuat mujizat. KepandaianNya mengajar dan kemampuanNya membuat mujizat tidak membuat Yesus menjadi tinggi hati. Ia juga tidak menuntut fasilitas yang istimewa bagi diri-Nya sendiri. Ketika ahli taurat dan kaum Farisi menuntut supaya Yesus mau membuat sebuah ”tanda”. Yesus tidak mau melayani (Mat. 16:4, dst). Bahkan ketika disalib, Yesus tetap menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Bapa (lih. Luk. 22:51). Ia bersedia melayani siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati menyiratkan makna pelayanan dan perhatian-Nya terhadap penderitaan sesama tanpa memandang latar belakang orang yang ditolong. Dengan demikian ketika melaksanakan karya-Nya, Yesus tetap berpegang teguh pada kehendak Alla, Sang Bapa. Karya dan pelayanan-Nya juga merupakan persiapan bagi Dia memasuki kematian-Nya di kayu salib.

e diel

03. Dan Kepada Yesus Kristus, AnakNya Yang Tunggal, Tuhan Allah Kita.

Penulis Injil Markus mengawali tulisannya dengan sebuah pernyataan yang cukup jelas tentang Yesus, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Markus 1:1). Nama Yesus, dalam bahasa Ibrani berarti, Allah membebaskan.

Ketika Allah dengan perantaraan malaikatNya menyampaikan berita tentang rencanaNya kepada Maria, juga menegaskan, siapakah Dia dan untuk apa Dia diutus (lihat Lukas 1:31-33). Ia adalah Allah sendiri yang telah datang dan menyatakan diri sebagai manusia (lihat Yohanes 1:14), dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa.

Pernyataan Allah dalam diri Yesus sesungguhnya merupakan suatu misteri yang tidak pernah dimengerti oleh manusia. Akan tetapi peristiwa ini juga menjadi sumber sukacita manusia. Karena dengan perantaraan karyaNya, Allah yang sejak jatuhnya manusia dalam dosa tidak terhampiri, sekarang menjadi yang terhampiri dan berkenan menyambut kehadiran manusia. Suatu peristiwa yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh manusia. Dengan perantaraan Tuhan Yesus, Allah berkenan hadir dalam pribadi AnakNya.

1. Yesus

Menurut Injil Matius (Matius 1:21) dan Injil Lukas (Lukas 1:31), nama Yesus berasal dari Allah sendiri seperti yang disampaikan oleh malaikatNya. Artinya, dalam nama itu ada sesuatu yang penting tentang diri Yesus. Memang kalau diperhatikan dalam Injil Matius, yang menerima pesan dari malaikat adalah Yesus, sedangkana dalam Injil Lukas yang menerima pesan adalah Maria. Adanya perbedaan ini tidak menunjukkan adanya pertentangan antara kedua Injil. Adanya perbedaan ini tidak lain karena dipengaruhi latar belakang budaya kedua penulis Injil. Keduanya mempunyai maksud yang sama, yaitu ingin menunjukkan bahwa Yesus tidsak berasal dari manusia, tetapi dari Allah sendiri. Selanjutnya Yesus mempunyai peranan yang penting dalam rencana keselamatan Allah.

Hal ini sebenarnya bukan hal baru dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, Allah telah memerintahkan supaya nama Abram diganti menjadi Abraham (Kejadian 17:5), Yakub diberi nama Israel (Kejadian 32:29). Dalam Perjanjian Baru hanya ada dua nama yang berasal dari Allah, yaitu Yohanes Pembabtis dan Yesus sendiri.

Sebagai manusia yang mendapatkan nama dari Allah, maka Yesus tidak hanya menerima tugas khusus dari Allah, tetapi juga ditempatkan di bawah perlindungan Allah secara khusus pula. Ia juga menjadi “milikNya” yang paling istimewa dari antara umat manusia. Nyatanya Yesus mempunyai hubungan yang khas dengan Allah.

Nama Yesus juga mempunyai arti, “Yahwe adalah penolong / keselamatan”. Dalam Matius 1:21 ditegaskan, “Sebab Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka”. Berdasarkan keterangan dari Injil Matius, arti keselamatan bukan sekedar selamat dari bahaya atau penderitaan, tetapi selamat dari hukuman Allah akibat dosa.

Dalam keempat Injil, khususnya Injil synoptis, nama Yesus sering dikaitkan dengan nama kota Nazaret. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah tokoh sejarah, bukan sekedar makhluk surgawi atau malaikat yang turun ke dunia. Memang dalam Perjanjian Baru ada beberapa kitab yang dalam menempatkan Yesus menimbulkan kesan berbau mitos. Misalnya dalam Injil Yohanes (Yohanes 3:13; 6:62) atau dalam surat Efesus (Efesus 4:9-10). Meskipun para penulis Injil Yohanes dan Efesus memberikan keterangan yang seperti itu, Perjanjian Baru pada umumnya selalu berkata bahwa Yesus adalah seorang manusia.


Seringkali Yesus disebut sebagai Isa (nabi Isa). Kata Isa berasal dari bahasa Arab. Asal-usul nama Isa yang dikenakan pada diri Yesus sampai saat ini tidak jelas. Ada yang berpendapat bahwa di antara bangsa Yahudi menyebut Yesus sebagai Esau. Sebutan Esau bagi orang Yahudi sebenarnya merupakan sebutan yang nadanya penghinaan. Esau dianggap sebagai pencuri bakat dari Yakub. Ada lagi yang berpendapat bahwa dalam bahasa Siria nama Yesus diterjemahkan menjadi Yehsu, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab menjadi Isa. Karena asal-usulnya tidak jelas, seyogyanya kita tidak perlu menyebut Yesus dengan nama Isa.

2. KRISTUS

Pada suatu saat Yesus bertanya kepada murid-muridNya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu ?” (Matius 16:13; Markus 8:27; Lukas 9:18). Uniknya, pertanyaan itu diajukan oleh Yesus ketika sedang berada di Kaisarea-Filipi, sebuah daerah di luar Palestina. Pertanyaan itu sangat penting artinya. Setelah para murid menjelaskan, bagaimana pendapat orang banyak, sekarang Yesus bertanya kepada mereka. Petrus menjawab “Engakaulah Kristus” (Matius 8:30).

Kristus adalah kata Yunani untuk ungkapan Messias, yang artinya, Yang Terurapi. Yesus mendapatkan nama Kristus karena menjadi utusan Allah dalam rangka menyatakan rencana dan karya keselamatan. Dalam Perjanjian Lama pengurapan atas nama Allah sudah biasa dilakukan. Bangsa Israel selalu mengurapi raja dan imam dengan cara menuangkan minyak ke atas kepala mereka yang menerima tugas dari Allah. Biasanya yang diurapi adalah raja, imam dan kadang-kadang nabi (lihat I Raja-raja 19:16).

Yesus sendiri diurapi oleh Allah saat dibabtis oleh Yohanes Pembabtis (Matius 3:13-17). Maka apabila kita menyebuat nama Yesus itu Kristus, berarti Yesus adalah orang yang dipilih dan diutus oleh Allah untuk tugas khusus, yaitu menjadi Raja dan Penyelamat manusia. Bahkan Ia juga adalah Imam dan Nabi.

3. Yesus, Anak Allah yang Tunggal

Sebutan Anak Allah sudah dikenal dalam Perjanjian Lama. Sebutan ini diberikan kepada,malaikat (Ayub 1:6), bangsa Israel (Keluaran 4:22), anak-anak Israel (Ulangan 14:1) dan juga kepada raja Israel (2 Samuel 7:14; Mazmur 82:6). Sebutan anak atau anak-anak Allah menunjukkan adanya hubungan yang dekat antara Allah dengan manusia. Sama sekali tidak menunjukkan hubungan secara biologis. Allah tidak mungkin mempunyai anak. Pengertian anak tidak harus berarti yang dilahirkan secara biologis.

Yesus juga disebut sebagai Anak Allah. Sebutan ini menunjukkan bahwa Ia mempunyai hubungan yang istimewa dan begitu dekat dengan Allah. Yesus sendiri telah menyatakan bahwa, “Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30; 5:19). Bahkan dalam Yohanes 3:16, Yesus menyatakan bahwa diriNya adalah Anak Allah yang tunggal. Dengan demikian Yesus telah meneguhkan pra-adanya yang abadi (bandingkan Yohanes 10:36). Sekaligus Yesus berharap agar semua orang percaya kepada, “nama Anak Allah yang tunggal” (Yohanes 3:18).

Bahwa Yesus adalah Anak Allah juga diakui oleh bangsa bukan Yahudi, yaitu kepala pasukan yang telah menyalibkan Dia, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”. (Markus 15:39).

Kedudukan sebagai Anak Allah mencapai puncaknya ketika ia dibangkitkan dari antara orang mati (Roma 1:4). Ia dinyatakan sebagai Anak Allah dalam kekuasaanNya Roh Kudus. Lalu para rasul yang lain pun dapat mengakui kemuliaanNya, …… kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. (lihat Yohanes 1:14). Jelas bahwa sebutan Anak Allah dalam diri Yesus bukan sekedar sebutan atau gelar kehormatan yang diberikan oleh manusia. Pengakuan Petrus yang menyatakan bahwa Yesus adalah Messias, Anak Allah yang hidup jelas bukan berasal dari Petrus sendiri. Tetapi Allah, Bapa di surga yang menggerakkan hatinya. Demikian juga dengan pengalaman Paulus, seperti yang dinyatakan dalam Galatia 1:15-16. Paulus mengakui bahwa semuanya itu berkat pertolongan Allah.

4. Yesus, Tuhan kita.

Bagi bangsa Israel nama Allah yang ditulis dengan empat huruf, yaitu YHWH, tidak boleh diucapkan. Mengucapkan nama itu dianggap sebagai penghujatan. Sebagai gantinya, jika menjumpai empat huruf ketika membaca kitab Taurat, mereka akan menyebut Adonai, yang artinya juga sama dengan Tuhan. Jadi sebutan Tuhan untuk Allah bukan hal yang asing bagi mereka. Perjanjian Baru juga memakai kata Tuhan sebagai sebutan untuk Allah Bapa, tetapi bersamaan dengan itu juga kata Tuhan dipakai untuk Yesus. Ini merupakan sesuatu yang baru, yang sebenarnya tidak dikenal oleh bangsa Yahudi sebelumnya.

Agaknya Yesus sendiri sadar dengan sebutan Tuhan itu. Hal ini bisa dilihat ketika berdiskusi dengan orang Farisi tentang arti Mazmur 110 (Lihat Matius 22:41-46). Yesus seakan-akan menuntut sebutan itu. Yesus merasa berhak menerima sebutan Tuhan seperti yang dikatakan dalam Kisah Para Rasul 2:36, Allah sendiri yang memberi sebutan Tuhan.

Paulus dalam suratnya yang ditujukan pada jemaat di Korintus (I Korintus 12:3) menegaskan, “Tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus”. Dengan demikian Paulus menyampaikan kepada kita sebuah pengakuan iman Kristen yang paling tua, yaitu tentang kedudukan Yesus sebagai Tuhan.

Dengan menyebut Yesus sebagai Tuhan, tidak berarti bahwa orang Kristen telah menyembah dua Tuhan atau lebih, yaitu Tuhan Allah, yang juga sebagai Bapa dan Tuhan Yesus, yang juga sebagai Anak. Dalam I Korintus 8:6, dengan jelas disebutkan bahwa, “…., namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripadaNya berasal segala sesuatu yang untuk Dia kita hidup dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”.

Dalam kata Tuhan (Yun – Kurios) tidak mengandung ide Allah. Kata kurios memang agak sukar diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Jawa kata yang sama diterjemahkan menjadi Gusti. Kata Gusti tidak hanya untuk Allah, tetapi juga bisa dipakai untuk manusia, misalnya, Gusti Kanjeng Pangeran (gelar pangeran Jawa). Kata Gusti disini menunjuk kepada gelar kebangsawanan Jawa.

Kalau sekarang kepada Yesus diberi kata Tuhan atau Gusti, karena Yesus menjadi pokok keselamatan yang datang dari Allah dan sekaligus sebagai gelar yang diberikan kepadaNya.


Maka dengan memberi sebutan Tuhan bagi Yesus, kita mengakui bahwa Yesus sebagai yang berkuasa sehubungan dengan karya keselamatan dan penyelamatan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah sendiri. Di samping Yesus (dan Allah) tidak ada yang setinggi Dia (bandingkan I Korintus 8:6). Yesuslah yang menjamin keselamatan bagi mereka yang taat kepadaNya.

e shtunë

02.KEPADA ALLAH, BAPA YANG MAHAKUASA, PENCIPTA LANGIT DAN BUMI.

1. Allah

Dalam masyarakat Pancasila setiap orang berusaha mengetahui dan mengenal Allah. Ternyata tiap-tiap agama yang ada di negara Indonesia mempunyai pengertian yang tidak sama tentang Allah. Masing-masing berusaha memberikan pengertian yang sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Allah, sebagaimana yang dikenal dalam iman kristen adalah Allah yang berkenan “memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” (Kisah Para Rasul 17:25). Bahkan, Allah dalam iman Kristen adalah Allah yang berkenan menyatakan diri kepada manusia. Melalui pernyataan ini Allah tidak hanya sekedar ingin memperkenalkan diri kepada manusia. Tetapi Allah juga ingin menyatakan rahasia kehendakNya, yaitu karya penyelamatan.

Mengenal Allah tidak sama artinya dengan mengetahui Allah. Untuk mengetahui Allah tidak perlu beriman. Melalui pengetahuannya seseorang bisa mengetahui Allah, hanya melalui iman yang benar. Tetapi juga harus diingat bahwa Allah tetap Allah “yang bersemayam dalam terang yang tidak terhampiri; seorang pun tidak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (I Timotius 6:16). Pengertian ini tidak berarti bahwa keberadaan Allah merupakan sesuatu yang selalu diliputi misteri atau serba rahasia. Allah dalam mewujudkan kehendak dan rencanaNya justru berkenan menyatakan diri sebagai manusia, yaitu dengan perantaraan Yesus Kristus. Meskipun demikian keberadaan Allah tetap tidak terbatas. Karena keberadaanNya yang tidak terbatas maka kehadiranNya juga tidak terbatas. Allah dapat hadir di mana-mana sebagaimana yang dikehendaki. Allah juga berkenan hadir dalam hidup manusia. Kehadiran Allah tidak bisa dibatasi dalam ruang dan waktu. Maka dari itu seperti yang dikatakan oleh penulis Kisah Para Rasul bahwa, “di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kisah Para Rasul 17:28).

Allah berkenan hadir dalma hidup manusia karena menghendaki agar manusia menemukan kebenaran dan kebahagiaan. Oleh sebab itu makna yang paling luhur dalam martabat manusia adalah dalam panggilanNya untuk memasuki persekutuan dengan Allah.

2. Bapa yang Maha Kuasa

Pada dasarnya manusia selalu berusaha mengenal Allah dengan baik. Dalam iman Kristen, Allah seringkali juga disebut sebagai Bapa. Tuhan Yesus ketika mengajar para murid berdoa juga menyebut Allah sebagai Bapa. Bahkan bangsa Israel sebenarnya juga sudah mengenal Allah sebagai Bapanya (lihat Keluaran 32:6)

Dengan disebut sebagai Bapa, menunjukkan adanya dua hal yang ingin disampaikan kepada kita. Pertama, bahwa Allah adalah awal mula dari segala sesuatu dan yang kekuasaanNya penuh kemuliaan. Kedua, mencerminkan kebaikan dan kepedulian Allah atas umat manusia. Kebaikan Allah ini kadang-kadang juga digambarkan dalam sebutan “ibu” bagi Allah (lihat Yesaya 66:13 ; Mazmur 131:2). Ini berarti keberadaan Allah sifatNya melebihi keberadaan laki-laki dan perempuan.

Sebagai Allah yang hidup dan yang telah menyatakan diri sebagai Bapa dan atau Ibu, Ia tidak hanya mempunyai hidup dan kekuasaan yang besar. Tetapi juga berbeda total dengan manusia dan makhluk lain. Namun demikian Allah tetap menyatakan diri sebagai Allah perjanjian. Dalam janjiNya, Allah merencanakan karya keselamatan bagi umat manusia. Sehingga apa yang dilakukan oleh Allah semata-mata demi keselamatan manusia sendiri.

Oleh karena itu dengan beriman kepada Allah akan menumbuhkan rasa aman. Bahkan iman akan memberikan kesadaran bagi manusia bahwa hidupnya akan ditampung oleh Allah. Ini tidak berarti bahwa beriman kepada Allah akn menjadikan manusia kehilangan martabatnya. Justru dengan beriman kepada Allah akan membawa manusia kepada cara hidup yang lebih kreatif dan bermartabat.

3. Pencipta Langit dan Bumi

Tidak seorangpun yang mengetahui pada tahun berapa alam semesta ini diciptakan. Alkitab bukanlah suatu buku sejarah yang menguraikan sejarah dan proses penciptaan atau terjadinya alam semesta ini. Meskipun demikian Tuhan tidak membiarkan manusia selalu bertanya. Dalam kitab Kejadian 1:1 dengan jelas menyebutkan bahwa sejak semula Allah telah berbuat sesuatu atas alam semesta. Melalui firmanNya yang penuh dengan kuasa, Allah berkenan menciptakan segala sesuatu sehingga alam semesta yang semua “tidak terbentuk dan kacau balau”(kejadian 1) “diubah” menjadi dunia yang teratur dan Tuhan melihat dalam keadaan baik (lihat Kejadian 1:10,12,18,21,25).

Kalau melihat urut-urutan peristiwa penciptaan seperti yang diuraikan dalam kitab Kejadian memang kelihatan sangat kacau bahkan sangat tidak masuk akal. Misalnya, pada hari pertama Allah menciptakan terang. Sedangkan matahari yang adalah sumber terang baru diciptakan pada hari yang keempat. Bumi ini berbentuk bentangan yang ditutupi oleh langit. Tetapi seperti yang telah dijelaskan di depan, bahwa Alkitab, khususnya kitab Kejadian tidak bermaksud menulis proses penciptaan menurut ilmu pengetahuan.

“Proses” penciptaan yang seperti yang tertulis dalam kitab Kejadian tidak bisa dilepaskan dari kerangka karya Allah sendiri. Yaitu awal dari rencana keselamatan Allah atas manusia. Itulah sebabnya dalam menulis “proses” terjadinya alam semesta sama sekali tidak mementingkan kebenaran secara ilmiah. Penulis kitab Kejadian ingin memberikan kesaksian bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini merupakan karya Allah.

Untuk menjelaskan asal usul alam semesta, para ahli ilmu pengetahuan, khususnya astronomi mempunyai dua teori. Teori pertama dikenal dengan nama Teori Ledakan Besar (Big Bang) dan teori kedua adalah Teori Keadaan Statis (Steady State). Teori ledakan besar dikemukakan pada tahun 1929 dan sampai sekarang masih banyak orang yang meyakini kebenarannya. Menurut teori ini terjadinya alam semesta dimulai dengan adanya gumpalan materi yang sangat padat dan panas. Pada suatu saat gumpalan materi ini meleddak dan kemudian menjadi dingin. Peristiwa ledakan yang maha dahsyat diperkirakan terjadi sekitar 10 sampai 20 milliar tahun yang lalu. Dalam proses pendinginan materi yang meledak tadi terwujudlah alam semesta ini.

Teori kedua menjelaskan bahwa alam semesta ini terus berkembang dan proses perkembangannya tidak akan pernah berakhir. Kedua teori ini tidak berhubungan langsung dengan iman dan penciptaan seperti yang tertulis dalam kitab Kejadian. Sebab teori-teori ini merupakan perkiraan manusia yang sebenarnya, kebenarannya belum bisa dibuktikan.

Dengan demikian Alkitab hanya ingin menegaskan bahwa dunia yang sudah diciptakan oleh Allah merupakan kemuliaan Allah sendiri. Jadi bukan merupakan suatu peristiwa yang terjadi secara acak atau kebetulan atau karena Tuhan membutuhkan adanya dunia.

Ilmu pengetahuann dalam upaya menguak rahasia terjadinya alam semesta memberi kesan bahwa dunia ini ada karena terjadi secara kebetulan saja. Meskipun demikian, jawaban yang diberikan oleh ilmu pengetahuan masih belum memuaskan manusia. Masih ada sesuatu yang belum bisa dijawab sepenuhnya oleh ilmu pengetahuan. Para ilmu pengetahuan belum bisa mengetahui bagaimana dari tidak ada bisa menjadi ada. Namun demikian tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan telah melakukan pekerjaan yang sia-sia. Banyak sumbangan yang bisa dan telah diberikan oleh ilmu pengetahuan sehingga manusia semakin mendapatkan gambaran, betapa kuasanya Allah, Sang Pencipta yang sejati.

Karya Allah yang menciptakan tidak berhenti ketika alam semesta sudah tercipta dan tertata dengan baik. Sebagai puncak karya Allah, Sang Pencipta adalah menjadikan manusia (lihat Mazmur 8:1 dst). Kehadiran manusia dalam alam semesta, ciptaan Tuhan bukan sekedar melengkapi ciptaan Allah. Manusia diberi tugas dan tanggung jawab yang besar, yaitu memelihara dan mengelola alam semesta. Sesuai dengan maksud penciptaan maka kehadiran manusia tidak dapat dilepaskan dari rencana keselamatan Allah sendiri.

Pada mulanya memang hanya seorang manusia saja. Namun Allah tidak menghendaki manusia itu seorang diri saja. Maka Allah menjadikan seorang manusia lagi, yang sepadan dan mempersekutukan mereka dalam persekutuan yang diikat ddalam kasih. Dengan demikian awal dari sejarah dunia ini tidak dimulai dengan proses penciptaan, tetapi justru dari manusia yang sudah dipersekutukan dengan sesamanya yang sepadan oleh Allah. Allah memberikan hak dan wewenang sepenuhnya kepada manusia dalam mengelola dan memelihara ciptaan Tuhan, yaitu dunia yang sudah tertata dengan baik.

4. Manusia sebagai citra Allah

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang mulia dan sekaligus sebagai mahkota dari seegala ciptaanNya (Mamur 8:1 dst). Sebagai mahkota ciptaan Tuhan, manusia mendapat tugas dan tanggung jawab yang besar, yaitu mengelola alam semesta demi kesejahteraan bersama.

Sebagai mahkota ciptaan Tuhan manusia dijadikan menurut citra atau gambar Allah (Kejadian 1:26-28). Tidak berarti bahwa keberadaan manusia addalah sama seperti Allah. Manusia juga bukan sebagai duplikat atau foto copy dari Allah. Hakekat Allah adalah roh dan tidak terbatas. Hakekat manusia bersifat jasmani dan dibatasi oleh ruang dan waktu.

Sebagai makhluk yang dijadikan, manusia dijadikan dalam kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Alkitab tidak meengajarkan bahwa manusia itu terdiri dari badan, jiwa dan roh seperti yang diajarkan oleh filsafat Yunani kuno. Manusia dijadikan oleh Allah menurut citra/gambar Allah dalam wujud jasmani dan sekaligus rohani. Alkitab menjelaskan masalah tersebut dalam bentuk kiasan, yaitu ketika Allah berkenan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kejadian 2:7) . Demikianlah, manusia menjadi makhluk yang hidup seutuhnya seperti yang dikehendaki oleh Allah sendiri.

Sebagai citra/gambar Allah berarti manusia memiliki martabat sebagai pribadi. Dia atau manusia bukan hanya sesuatu tetapi seseorang yang dalam hidupnya harus bisa mencerminkan kehendak Allah. Allah penuh kasih dan setia, adil benar. Maka kasih setia, keadila dan kebenaran Allah juga harus tercermin dalam hidup manusia.

Manusia dijadikan oleh Allah sebagai laki-laki dan perempuan (Kejadian 2:18,23). Artinya, manusia dijadikan dalam persamaan yang sempurna. Di satu pihak, sebagai pribadi manusia di pihak lain dalam keberadaannya sebagai laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki dan perempuan, keduanya juga sudah dipersekutukan dalam ikatan kasih.

Sesuai dengan rencanaNya, manusia dipanggil untuk, “mengolah bumi dan segala isinya dan sekaligus memenuhi bumi ini” (Kejadian 1:28). Manusia sebagai penguasa di atas bumi yang diciptakan Allah. Sebagai penguasa manusia bertindak sebagai wakil Allah. Berarti dalam diri manusia ada panggilan Allah untuk ikut ambil bagian dalam karya Allah.

Sebagai makhluk yang dijadikan oleh Allah, manusia ditempatkan dalam sebuah taman, yaitu Firdaus. Kehidupan dalam taman Firdaus mencerminkan suasana kehidupan yang bebas, selaras dengan kehendak Allah, selaras dengan dirinya sendiri. Bahkan manusia juga harus selaras dengan alam semesta. Sebagai makhluk yang bebas, manusia bertanggung jawab kepada Allah. Jelas bahwa manusia bukan robot. Allah tidak bermaksud menciptkan robot yang berakal, tetapi makhluk sepenuhnya sadar akan tugas dan tanggung jawab yang besar dalam membangun kehidupannya di dunia.

Di sinilah martabat manusia akan menjaddi nampak, yaitu manusia yang mempunyai hak dan kewajiban. Oleh sebab itu Allah menghendaki juga agar manusia bisa menghargai hak dan kewajiban sesamanya di dalam kehidupan bersama.

Sejak Charles Darwin mencetuskan teori evolusinya pada tahun 1859. Manusia mulai mempertanyakan kebenaran kesaksian Alkitab. Banyak orang yang kemudian meragukan keberadaan Allah dan percaya bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini merupaka proses yang alamiah saja.

Ajaran tentang penciptaan dan teori evolusi sebenarnya merupakan dua pendekatan yang berbeda atas dunia. Bahkan juga membicarakan dua aspek yang berbeda. Teori evolusi mengungkapkan kenyataan yang nyata dari dunia, sedangkan ajaran penciptaan berbicara tentang dimensi baru yang harus dihayati sebagai pendasaran dari kenyataan yang nyata tadi. Teori evolusi hanya mau dan bisa menjelaskan perkembangan dari sesuatu yang ada.

Dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan kita tidak boleh berpikir bahwa pada mulanya Allah yang menciptakan alam semesta ini kemudian Allah beristirahat dan selanjutnya ilmu pengetahuan yang berperan atau melanjutkan. Allah tidak pernah beristiraha. Penemuan-penemuan di bidang ilmu pengetahuan seharusnya mendorong manusia untuk lebih menghargai dan mengagumi karya Allah.


5. Manusia Jatuh Dalam Dosa

Kebaikan dan karya Allah tidak terbatas. Namun manusia meremehkan dan sekaligus menyalahgunakan kebaikan dan karyaNya. Manusia tidak menghargai kedudukannya yang mulia di antara segala ciptaan Allah. Hanya karena ingin menjadi sama dengan Allah, manusia terbujuk oleh godaan iblis supaya memberontak melawan Allah ddan sekaligus memutuskan hubungannya dengan Allah (Kejadian 3:5-6,22). Inilah yang disebut dengan dosa.

Kata dosa, dalam bahasa Yunani, hamartano, mempunyai beberapa arti :

(1).meleset, meyimpang dari sasara, (2). Kehilangan tujuan lihat Keluaran 20:20; Amsal 8:36 dan (3). Bengkok, keliru, berbuat salah.

Di samping kata hamartano, juga ada kata anomia yang artinya : (1). Tidak adanya kepercayaan kepada pribadi yang memberi hukum, ketidaktaatan, ketidaksetiaan (lih I Yohanes 3:3 ; 4:8), (2) memberontak terhadap kekuasaan yang syah ( I Raja-raja 12:19; 2 Raja-raja 8:20). Juga pemberontakan terhadap hukum Tuhan (Yesaya 1:12 ; Hosea 8:1)

Jadi yang dimaksud dengan pengertian dosa bukan hanya soal salah atau benar, juga bukan soal kekhilafan, tetapi menyangkut hubungan dengan Allah yang baik dan benar itu. Dalam pemberontakkannya kepada Allah manusia ingin menjadi sama seperti Allah dan sekaligus memutuskan hubungannya dengan Allah.

Tuhan Yesus, melalui perumpamaan anak yang hilang dengan tepat telah merumuskan arti dosa (Lukas 15:11-dst). Dalam ayat 12 disebutkan bahwa anak yang bungsu meminta warisan kepada ayahnya. Padahal ayahnya saat itu masih hidup dan setelah menerima bagiannya ia segera meninggalkan rumahnya dan menghambur-hamburkan kekayaan yang ia miliki. Dengan kalimat tersebut, menurut Tuhan Yesus yang dimaksud dengan dosa tidak lain adalah, pemberontakan dan pemutusan hubungan dengan Allah dan selanjutnya hidup di jalan yang tidak benar, atau menyimpang dari tujuan yang benar. Dengan demikian Alkitab tidak menyampaikan asal-usul dosa.

Dalam kejadian 3 memang diceritakan tentang peranan ular dalam usaha membujuk manusia. Tetapi di sini, ular tidak dimaksudkan sebagai lambang iblis. Dimasukkan unsur ular dalam kisah jatuhnya manusia dalam dosa supaya proses jatuhnya manusia dalam dosa bisa dikisahkan. Perlu juga diperhatikan bahwa ular adalah binatang darat yang diciptakan oleh Tuhan. Berarti ular bukan sebagai kekuatan illlahi. Jadi sumber kehancuran manusia bukan dari Allah, tetapi justru dari manusia sendiri.

Akibat dari pemberontakkannya, hubungan dengan Allah yang semula ada dalam suasana persekutuan yang serasi menjadi terputus. Manusia menjadi makhluk yang terasing di hadapan Allah. Ia dikuasai iblis dan sekaligus telah menjadi budaknya (Roma 6:17, 20). Manusia gagal dalam mewujudkan kehendak dan rencana Allah dalam hdupnya. Jatuhnya manusia dalam dosa mengakibatkan kebinasaan bagi seluruh ciptaan Allah. Tidak hanya manusia saja yang hancur, tetapi seluruh dunia ini (lihat Roma 5 :12-21).


6. Manusia Merindukan Keselamatan


Dosa telah menjadikan manusia terpisah dengan Allah. Sejak itu hidup manusia tidak lagi dalam suasana yang selaras lagi, baik hubungannya dengan Allah maupun hubungannya dengan sesamanya. Di antara manusia muncul suasana saling membenci, penuh kekerasan , kegelisahan dsb. Manusia juga kehilangan hubungan yang selaras dengan ciptaan Allah yang lain. Kodrat manusia yang semula sebagai citra / gambar Allah telah rusak dan ditaklukkan leh kebodohan, kesengsaraan bahkan juga berada di bawah kekuasaan maut. Di pihak lain, Allah pada dasarnya tidak menghendaki hidup manusia menjadi binasa, “Allah tidak menghendaki kematian pendosa, melainkan supaya dia bertobat dan hidup” (Ezra 3:11), demikian yang dikehendaki oleh Allah atas manusia.

Sejak manusia jatuh dalam dosa, berusaha menemukan kembali martabatnya sebagai ciptaan Allah yang mulia namun tidak pernah beerhasil. Cara yang ditempuh bermacam-macam. Misalnya, dalam agama primitif, percaya akan adanya kuasa-kuasa gaib yang menguasai dan mengatur hidup manusia dan menyelamatkannya. Manusia juga berusaha menemukan kembali keselarasan hidupnya, baik kepada sesama maupun ciptaan yang lain melalui upacara-upacara yang ditujukan kepada sesuatu yang dianggap berkuasa. Oleh mereka disebut sebagai dewa-dewi. Ada dewa surya, dewa agni, dewi sri, dewi pertiwi, dsb. Mereka juga percaya bahwa di puncak-puncak gunung, di pohon-pohon tertentu adalah tempat para dewa-dewi bersemayam. Di samping mereka percaya kepada dewa-dewi yang mempunyai kekuasaan juga percaya adanya dewa tertinggi yang kekuasaannya melebihi kekuasaan dewa-dewi tadi. Tetapi sayangnya, dewa tertinggi berada “jauh” dari hidup manusia. Sebagai sarana untuk berhubungan dengan dewa-dewi dibutuhkan sesaji atau korban. Bahkan tidak jarang pula manusia melakukan upacara dengan cara menyiksa diri dengan harapan agar dewa tertinggi mau memperhatikan dirinya.

Di lain pihak, Allah tetap setia kepada manusia. Seperti yang disaksikan oleh Ezra, bahwa Allah pada dasarnya tidak menghendaki manusia mengalami kematian akibat dari dosanya (Ezra 3:11). Dalam Roma 6:1-23, Paulus dengan jelas menguraikan bahwa dosa tidak hanya merusak suasana kehidupan manusia, tetapi juga memperbudak manusia.

Karena manusia telah memutuskan hubungan dengan Allah dan merusak hubungannya dengan sesama dan ciptaan yang lain dan dari dirinya sendiri tidak mampu menyelamatkan hidupnya dari kekuasaan dosa, maka sekarang Allah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan dan memulihkan kembali martabat manusia. Inisiatif dari Allah sudah nampak dari janjiNya (lihat Kejadian 3:15). Janji itu semakin dipertegas ketika Allah berkenan memanggil Abraham dari Ur-Kasdim. Disini Allah sudah mempersiapkan rencana karya keselamatanNya. Janji yang disampaikan kepada Abraham diteguhkan kembali dalam peristiwa pemberian Kesepuluh Hukum kepada bangsa Israel ketika berada di gunung Sinai dalam perjalanan pulang dari Mesir ke tanah yang dijanjikan Allah ( Keluaran 20:1-17, Ulangan 5:1-21). Meskipun demikian, usaha Allah dalam menyelamatkan manusia “kurang” mendapatkan tanggapan yang baik dari manusia. Berulangkali umat Allah melanggar ketetapan-ketetapan Allah. Maka Allah juga berkenan mengutus nabi-nabiNya untuk mengajar dan mengingatkan bangsa Israel. Karya penyelamatan Allah atas manusia mencapai puncaknya dalam kedatangan Yesus. Dengan perantaraan Tuhan Yesus, Allah berkenan menyatakan diri kepada manusia (Yohanes 3:16, Roma 3:23-26; 5:15, 17, 21).

Kehadiran dan pernyataan Allah dalam diri Tuhan Yesus menunjukkan besarnya perhatian Allah kepada manusia. Tetapi keberhasilan “usaha” Allah dalam menyelamatkan manusia juga tergantung dari keputusan manusia sendiri. Apakah manusia mau menerima uluran tangan Allah ? Yang jelas Allah tidak akan pernah memaksakan kehendakNya kepada manusia.

01. Aku Percaya

Pengakuan Iman Kristen diawali dengan rumusan yang mengakui adanya Allah. Dalam rumusan pengakuan iman dengan sengaja dipakai kata, Aku, bukan, Kami. Dipandang dari sudut tata bahasa Indonesia, maka kata, Aku berfungsi sebagai kata ganti pertama tunggal. Sedangkan kata, Kami berfungsi sebagai kata ganti pertama jamak. Maka jika dalam rumusan pengakuan iman dipakai kata Aku, maka yang mengakui iman kepada Allah bukan kelompok atau sekelompok orang, tetapi justru diri sendiri sebagai pribadi yang berdiri sendiri di hadapan Allah.

Dengan mengucapkan “Aku percaya …”, berarti sebagai orang yang beriman atau percaya kepada Allah harus berani menyatakan pengakuannya di hadapan orang lain, Mazmur 118:6, TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?. Sebab belum tentu orang lain juga mengakui Allah yang sama seperti yang disembah oleh orang Kristen.

Beriman kepada Allah berarti menundukkan seluruh pikiran dan kehendakNya kepada Allah. Abraham bersedia meninggalkan Ur-Kasdim menuju tempat yang akan ditunjukkan oleh Tuhan karena percaya kepada kehendak Allah sendiri (Kejadian 12). Dalam peristiwa ini, Abaraham tidak lagi mengandalkan kehendak dan pikirannya sebagai manusia, tetapi sepenuhnya mengandalkan kehendak dan rencana Allah sendiri. Karena imannya kepada Allah yang begitu besar maka Abraham tidak hanya menjadi orang yang beriman atau orang yang percaya, tetapi juga akhirnya menjadi Bapa bagi orang percaya. Demikian juga dengan kisah Rut, wanita dari bangsa Moab. Rut berani mengambil keputusan yang berat, yaitu meninggalkan sanak keluarganya di Moab dan ikut Naomi ke Israel. Maka percaya atau beriman juga merupakan suatu ikatan pribadi manusia sebagai pribadi dengan Allah dan sekaligus mempercayai segala kebenaran yang telah dinyatakan oleh Allah sendiri.

a. Manusia mencari Allah

Manusia setiap hari melihat kenyataan yang sulit dimengerti, yaitu adanya siklus kehidupan yang berkisar sekitar kelahiran dan kematian. Dua peristiwa ini dirasakan sangat bertolak belakang dan manusia hidup di antaranya. Kelahiran seorang anak manusia umunya disambut dengan sukacita, sebaliknya peristiwa kematian seorang manusia dirasakan menyedihkan, menyakitkan hati dan juga dianggap sebagai peristiwa yang tidak masuk akal serta mengerikan.

Oleh sebab itu dirasakan dan dianggap sebagai sesuatu yang berharga. Manusia ingin menikmati hidupnya dengan kebahagiaan. Maka dalam diri manusia selalu timbul kerinduan untuk mempertahankan hidupnya dengan segala cara. Salah satu cara yang dilakukan adalah menciptakan hubungan yang baik dan selaras dengan sesama dan lingkungan. Bahkan juga dengan dunia yang berada di luar jangkauan akal budinya, atau sering disebut sebagai dunia akodrati.

Bersamaan dengan itu pula manusia mulai bertanya-tanya, “Apa arti dan tujuan hidup ini ? Mungkinkah kebahagiaan bisa terwujud ? Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan. Demikian juga jawabannya bisa beragam. Hanya saja dari sekian banyak jawaban ternyata tidak ada yang bisa memuaskan hati dan kerinduan manusia. Akhirnya manusia cenderung mengakui adanya Yang Mahakuasa, yang disebut sebagai Tuhan. Kepada-Nya manusia berusaha mempercayakan seluruh perjalanan hidupnya .

Meskipun demikian tidak berarti manusia sudah puas dan berhenti bertanya. Bahkan sekarang muncul pertanyaan baru, yaitu, “Siapakah Dia itu? Apa pula maksud dan rencanaNya sehingga menciptakan alam semesta dan manusia? Kalau memang Dia yang menciptakan segala-galanya, mengapa dalam kenyataan harus ada siklus kehidupan dalam hidup manusia ? Bahkan juga ada yang mulai berpikir, apakah percaya kepada Allah itu bisa dipertanggungjawabkan?

Munculnya pertanyaan seperti itu dari manusia tidak lain karena manusia itu sendiri yang tidak bisa dilepaskan dari kodratnya. Manusia, menurut kodratnya memang merupakan makhluk yang selalu merenungkan kebenaran adanya Illahi. Di samping itu kemajuan iptek telah mendorong manusia berpikir secara rasional. Segala sesuatu yang tidak masuk akal akan diragukan kebenarannya.

Sebagai makhluk manusia yang mempunyai akal. Ini menunjukkan bahwa manusia manusia bukan sekedar makhluk yang kedudukannya sama dengan makhluk lain. Dengan akalnya manusia bisa berpikir dan merenungkan tujuan hidupnya, lihat .Mazmur 8. Sebagai makhluk yang berakal,manusia mempunyai cita-cita, rencana dan juga memikirkan tujuannya. Hanya saja tidak semua yang dipikirkan, dicita-citakan dapat dijawab dan terpenuhi. Tidak aneh kalau pada akhirnya ada yang beranggapan bahwa hidup ini sebagai misteri.

b. Allah yang telah menyatakan diri

Allah yang dikenal dalam iman Kristen sebagaimana yang disaksikan dalam Alkitab adalah Allah yang telah menyatakan diri kepada manusia (bangsa Israel) sebagai Allah yang esa (Kel. 6:4-5) “Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing,

tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku”. Sebagai Allah yang esa berkenan memanggil manusia supaya senantiasa berpaling kepadaNya, Yesaya 45:22-24, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam TUHAN. Semua orang yang telah bangkit amarahnya terhadap Dia akan datang kepada-Nya dan mendapat malu”.

Sebagai yang esa, Allah juga Allah yang hidup. Dalam Keluaran 3:6, Allah berkenan menyapa Musa, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Iskhak dan Allah Yakub”. Di sini Allah berkenan menyatakan kepada Musa bahwa sebagai Allah yang hidup selalu akan melakukan kehendakNya tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat. Meskipun demikian Allah, manusia patut menaruh rasa hormat, pakering dhateng Gusti.

Lebih jauh lagi Allah berkenan menyatakan namaNya yang kudus. Kepada Musa Allah telah berfirman, “AKU ADALAH AKU” (Keluaran 3:13-15).

Menurut kepercayaan bangsa-bangsa Timur Tengah kuno, nama mengungkapkan hakekat seseorang, identitas pribadi dan juga menyangkut hidup dan matinya seseorang, identitas pribadi dan juga menyangkut hidup dan matinya seseorang. Oleh sebab itu tidak kepada setiap orang seseorang menyatakan namanya, kecuali pada orang terdekat atau orang yang dipercaya. Khawatir kalau orang yang mengetahui namanya itu akan mengetahui juga kelemahannya, sehingga ia akan mudah dikalahkan. Dengan memperkenalkan namaNya, berarti Allah berkenan menyatakan dirinNya, kehadiranNya dan kesetianNya kepada manusia.

Mengingat kehadiran Allah yang penuh dengan rahasia dan kemuliaanNya, manusia menjadi sadar akan kehinaannya. Ketika Musa berdiri di depan Allah, harus menanggalkan kasutnya dan menutupi mukanya, demikian juga dengan nabi Yesaya yang harus mengakui kehinaannya dengan berseru, “Celakalah aku, aku binasa. Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam”. (Yesaya 6:5).

KehadiranNya juga menunjukkan bahwa Allah tidak hanya bersemayam di tempat yang jauh. Tetapi Ia juga hadir di antara umatNya untuk menyatakan firman dan kebenaranNya.

“Mazmur 119:160. Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya.

II Samuel 7:28. Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu. “

Dengan perantaraan firman dan kehendakNya, Allah berkenan mengatur dan mengarahkan hidp manusia. Karena Allah selalu menepati firmanNya. Dengan beriman kepada Allah telah mendorong manusia supaya senantiasa berpaling kepadaNya. Sebab Dia adalah awal mula dan tujuan akhir manusia.

Selanjutnya Allah senantiasa menawarkan dan menyatakan diriNya kepada manusia. Tawaran ini mempunyai arti bahwa Allah pada dasarnya menghendaki agar manusia mau mempersekutukan diri dengan Allah. Tidak berarti bahwa ada persamaan antara Allah dengan manusia. Allah tetap Allah dan manusia tetap manusia. Tetapi sekaligus Allah bersekutu dengan manusia dan manusia bersekutu dengan Allah. Dengan ungkapan lain, Allah yang transenden atau yang melampaui segala sesuatu menjadi Allah yang imanen atau Allah yang hadir.

c. Alkitab

Allah yang disembah orang Kristen adalah Allah yang hidup dan yang senantiasa menyatakan kehadiranNya. Sebagai Allah yang hidup, ia juga menyapa manusia dalam bahasa manusia. FirmanNya yang disampaikan kepada manusia dalam bahasa manusia “dikumpulkan” dalam Alkitab. Melalui apa yang sudah tertulis dalam Alkitab, Allah bermaksud menyatakan DiriNya seutuhnya, Ibrani 1:1-3, Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, 1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi.

Oleh sebab itu Alkitab bukan sekedar sebuah buku yang hendak memuat kisah tentang asal-usul manusia dan makhluk hidup yang lain. Tetapi melalui firmanNya manusia diharapkan mendapatkan kekuatan, penghiburan dan inspirasi yang bermanfaat bagi hidupnya sehari-hari.

Sebagai Firman Allah yang telah dinyatakan dalam bahasa manusia, tidak berarti bahwa Alkitab merupakan wahyu yang langsung diberikan kepada orang tertentu, dalam hal ini para nabi. Alkitab lebih merupakan kesaksian iman umat Allah tentang iman yang sejati dan yang benar. Melalui kesaksiannya umat Allah – termasuk para penulis Alkitab – ingin menyatakan bahwa Allah telah berkarya sejak kekal. Maksud dan tujuan karyaNya tidak lain untuk keselamatan manusia.

Agama-agama lain, selain agama Kristen, pada umumnya memandang kitab sucinya sebagai wahyu yang langsung diturunkan oleh Allah kepada manusia melalui utusanNya. Sehingga apa yang tertulis dalam kitab suci juga dianggap sebagai sesuatu yang suci dan tidak boleh dirubah.

Kata “wahyu” merupakan kosakata yang diambil dari bahasa Arab yang sudah diindonesiakan. Dalam pandangan saudara-saudara yang beragam Islam, kata “wahyu” dibedakan dengan kata “ilham”. Wahyu adalah petunjuk dari Allah yang disampaikan melalui Nabi atau RasulNya dan ditujukan kepada orang banyak atau kepada manusia.

Sedangkan ilham adalah petunjuk, ajaran, pesan perintah Allah untuk orang yang menerima dan bukan untuk orang banyak. Tidak demikian wahyu menurut iman Kristen, wahyu leebih dekat dengan pengertian, pengalaman orang tertentu yang dipahami sebagai campur tangan Tuhan sendiri. Tuhan yang membuka kekhendakNya kepada manusia.

Meskipun Alkitab bukan sebagai wahyu Allah, seperti dalam pengertian pada umumnya, orang Kristen tetap diperbolehkan memandang Alkitab sebagai wahyu Allah. Sebagai wahyu dari Allah karena berkat Roh Kudus yang berkarya melalui orang-orang yang dipilih oleh Allah sendiri.

Doa Untuk Anda

Apakah Anda Ingin mendapat kiriman text Doa-Satu-Menit setiap hari ? Kirim Email Kosong ke : doa-satu-menit-subscribe@yahoo.com
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)

Jika Kamu di Surabaya, Stay Tuned at

  • Bahtera Yuda at 96.4 MHz
  • Bethany FM at 93.8 MHz
  • Nafiri FM at 107.10 MHz

Firman Tuhan Untuk Anda

"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yohanes 6:51)




Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. (Yohanes 10:14-15)




“Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)




Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yohanes 11:25-26)




Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)




“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakan lah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)




-----000000------00000------00000---------