Masih belum menemukan apa yang Anda cari? Masukkan kata kunci pencarian Anda untuk mencari artikel yang ada di Blog ini:

Jodoh Yang Sesuai Kehendak Tuhan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Mengasihi Diri Sendiri

Mengasihi Diri Sendiri

BERSYUKUR KARENA DISELAMATKAN

BERSYUKUR KARENA DISELAMATKAN

Po shfaqen postimet me emërtimin Renungan. Shfaq të gjitha postimet
Po shfaqen postimet me emërtimin Renungan. Shfaq të gjitha postimet

e shtunë

Allah Menghendaki Anda Selamat

 

Allah Menghendaki Anda Selamat

 

Kehendak Allah Bagi Anda

Allah menghendaki Anda dan saya selamat! Bagaimana kita tahu hal ini? Alkitab menyatakan demikian! Alkitab mengatakan bahwa Allah, “...yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Timotius 2:4). Kemudian Alkitab menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah seorang pengantara antara Allah dan manusia, dan Dia menyerahkan diriNya sendiri sebagai tebusan bagi kita semua (1 Timotius 2:5, 6). Itu adalah kabar luar biasa.

Kasih Allah Kepada Anda

Apa yang mendorong Allah menghendaki kita selamat? KasihNya yang begitu besar kepada kita, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Sudahkah Anda juga mendengar atau membaca berita dalam 1 Yohanes 4:9? “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.”

Anugerah Allah Bagi Anda

Apakah benar untuk menyimpulkan bahwa anugerah Allah memungkinkan keselamatan kita? Mutlak sekali! “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Jelas bahwa tanpa anugerah Allah, manusia tidak mempunyai kesempatan untuk selamat. Apakah anugerah itu? Anugerah adalah pemberian tanpa menuntut balas jasa, yakni pemberian yang tidak dapat kita bayar. Melalui anugerah Allah, Dia memberikan kepada kita hal yang tidak layak/tidak pantas kita terima atau dapatkan. Apakah mungkin bagi Anda dan saya mendapatkan keselamatan dengan usaha sendiri? Tidak! Dapatkah kita selamat dengan perbuatan-perbuatan moral baik kita? Tidak akan pernah! Mungkinkah bagi kita membuat rencana kita sendiri atau memeriksa tindakan-tindakan yang dengannya kita mungkin dapat menyelamatkan diri kita sendiri? Masih jawabannya “tidak.”

Juru Selamat Dari Allah Bagi Anda

Inilah “gambaran” yang diberikan Perjanjian Baru kepada kita: Karena kasihNya kepada kita, Allah menginginkan semua manusia selamat. Sehingga melalui anugerahNya, Dia mengutus AnakNya ke bumi ini. Dan apakah maksudNya dengan mengutus Yesus? “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1 Timotius 1:15). Mengapa Anak Allah diberi nama “Yesus”? Jelas karena “Yesus” berarti “Juru Selamat”, seperti kita lihat dalam perkataan ini, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Matius 1:21).

Kebutuhan Terbesar Kita

Apakah Anda tahu bagaimana Alkitab mengartikan “dosa”? Alkitab mengatakan bahwa “dosa adalah pelanggaran hukum” (1 Yohanes 3:4). Jadi, seorang “pendosa” adalah seorang yang melanggar hukum Allah. Jadi siapakah yang cocok/pas dalam kategori orang-orang berdosa? Alkitab menjawab dengan jelas, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).
Kebutuhan terbesar manusia adalah selamat dari dosa. Anda tahu, dosa menyebabkan manusia terpisah dari Allah, seperti ada tertulis, “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yesaya 59:2). Konsekuensi mengerikan dari melakukan dosa adalah terpisah dari Allah.
Bukankah hal ini menaruh kita ke dalam suatu posisi tidak berpengharapan? Tanpa Yesus, ya. Tetapi melalui Yesus ada harapan! Ingat Yesus datang ke dalam dunia ini untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Dan bagaimanakah Dia melaksanakan hal ini? Dengan mati di kayu salib di Kalvari dan mencurahkan darahNya agar dosa-dosa kita dapat disucikan. Dengan darah Yesus kita dapat dibenarkan atau didamaikan dengan Allah. Dengarkan perkataan ini, “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5:9, 10).
Tetapi bukankah ada cara lain untuk menerima pengampunan dosa dan didamaikan dengan Allah? Tidak. Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Akankah Semua Manusia Selamat?

Jika Yesus memberikan diriNya sendiri sebagai sebuah tebusan bagi semua manusia, maka apakah ini berarti bahwa setiap orang akan selamat dan pergi ke surga?” Dengarkan apa yang dikatakan tentang hal ini: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya" (Matius 7:13, 14). Selanjutnya Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 7:21).

Apakah Tanggapan Anda?

Yesus mengundang semua manusia kepadaNya untuk mendapatkan keselamatan, sambil berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Tolong dimengerti bahwa Allah surgawi tidak memaksa seorang-pun untuk menerima anugerah yang Dia sampaikan kepada kita melalui Yesus. Kita masing-masing mempunyai kebebasan berkehendak atau memilih untuk menerima atau juga menolak anugerah Allah, kasih Allah, dan keselamatan. Allah memanggil atau membawa manusia kepada Yesus melalui pengajaran firmanNya yaitu Injil (2 Tesalonika 2:14; Yohanes 6:44, 45). Sementara Anda dan saya mendengar berita Injil itu, maka terserah kepada kita menerima atau juga menolaknya. Apakah jawaban Anda? Sekarang apakah Anda seorang penerima atau penolak kehidupan rohani dan keselamatan yang ditawarkan Allah kepada Anda melalui Kristus?

Apakah Yang Harus Anda Lakukan Supaya Selamat?

Anda berpikir adakah sesuatu yang harus dilakukan oleh seseorang supaya selamat? Ya, tetapi bukankah keselamatan sebuah pemberian? Tentu saja Ya (Efesus 2:8). Tetapi, keselamatan adalah sebuah pemberian bersyarat. Ini berarti bahwa Allah memberi jaminan keselamatan kepada hanya ketika kita memenuhi syarat-syarat yang telah Dia tetapkan di dalam firmanNya, Alkitab.
Kita tidak boleh lupa bahwa kita memperoleh “.... penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Efesus 1:7). Jadi, jika pertanyaan, “APA yang dapat membasuh dosa-dosa saya”, maka jawabannya, “darah Yesus Kristus”, tetapi jika kita bertanya, “KAPANKAH darah Yesus membasuh dosa-dosa seseorang?” Itu adalah pertanyaan yang sepenuhnya berbeda.
Barangkali Anda telah mendengar atau membaca pernyataan ini: “Supaya selamat dari dosa-dosa Anda, semua yang perlu Anda lakukan adalah berdoa kepada Yesus, mengaku dosa-dosa Anda kepadaNya, dan menerima Dia di dalam hati Anda sebagai Juru Selamat pribadi Anda.” Memang tidak meragukan hal ini adalah gagasan yang sangat populer yang telah diterima oleh jutaan orang. Tetapi apakah Anda tahu? Gagasan seperti ini tidak pernah ditemukan di dalam Alkitab. Jelas tidak ada! Jika demikian, lalu mengapa banyak orang yang menyebarkan pengajaran seperti ini? Pertanyaan yang baik!
Kebenaran adalah jika seorang mau meluangkan waktu belajar Perjanjian Baru Yesus Kristus, maka dia akan mempelajari bahwa hal-hal berikut ini adalah tindakan yang harus diambil seorang supaya dosa-dosanya disucikan oleh darah Yesus:
  • Mendengarkan Injil yang diberitakan, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17).
  • Percaya keberadaan Allah: “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibrani 11:6).
  • Percaya Yesus sebagai Anak Allah: “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yohanes 3:18).
  • Bertobat dari setiap dosa: “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” ( 2 Petrus 3:9). Bertobat tidak berarti hanya mengatakan, “Saya menyesal” tetapi berarti merubah pemikiran. Dalam proses pertobatan yang sesungguhnya (murni), setelah seseorang berdosa kepada Allah, dia akan: (1) Menyesali apa yang telah dilakukannya; (2) Menetapkan (memutuskan) di dalam hatinya untuk tidak mengulangi kesalahan ini (yaitu dia akan merubah kehendaknya); (3) Merubah (memperbaharui) kehidupannya.
  • Mengaku iman dalam Yesus Kristus, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:10).
  • Dibaptiskan: “Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!” (Kisah Rasul 22:16). Alkitab tidak mengajarkan bahwa seorang harus dibaptiskan setelah seseorang itu selamat, atau bahwa seorang itu harus dibaptiskan sebagai tanda luar saja untuk menunjukkan bahwa dia telah selamat (sebelum baptisan) melalui iman. Yesus sendiri berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Markus 16:16). Menurut perkataan Yesus ini, siapakah yang akan diselamatkan? Seorang yang hanya percaya? Tidak! Seorang yang dibaptiskan saja? Tidak! Tetapi, seorang yang percaya dan dibaptis. Catatan: Di dalam Perjanjian Baru kata “baptisan” berarti “suatu pembenaman (penyelaman)”, bukan suatu percikkan atau menuangkan air.
  • Terus setia kepada Kristus: “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” ( Galatia 3:27) bukanlah akhir dari kehidupan rohani seseorang di dalam Kristus, tetapi baru permulaan! Setelah baptisan seseorang harus hidup/menjalani kehidupan dalam sebuah pelayanan setia kepada Tuhan. Dia melakukan hal ini dengan hidup harmonis sesuai ajaran-ajaranNya. Mengikuti Kristus bukanlah hal kecil, tetapi sebaliknya sebuah komitmen seumur hidup
Seperti yang telah kami katakan, “Allah menghendaki Anda selamat!” Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mau selamat? Jika kami dapat menolong Anda dalam pengertian Anda atau ketaatan kepada kehendak Kristus.
 

e hënë

Menikmati BERKAT


Melihat judul tulisan ini, kayaknya tidak berbobot atau pun bisa dikomentari sebagai sesuatu yang biasa atau datar saja. Namun apa yang tertulis itu, sebenarnya memiliki siratan filosofi yang dalam untuk bisa meski sekadar memahaminya. Mengapa?

Berbicara tentang berkat sungguh menarik hati. Apalagi kalau ditambahi dengan makna ‘menerima’. Maka setiap insan pasti ingin menerimanya, kalau perlu setiap hari. Namun kalau ditambahi dengan makna memberi, maka ada sedikit kerikil yang akan mengganjalnya untuk segera berkata, “Ya…,” dibanding saat menerima berkat.

Memang manusia lebih suka membuka kedua tangannya. Sebuah tanda bahwa ia lebih siap untuk menerima ssuatu. Padahal dalam kehidupan yang nyata tak meski demikian. Tangan sudah bersedia menerima, tetapi tak ada yang memberi, malahan harus memberi. Meski ini terpaksa.

Mengapa yach… kalau sesuatu itu sudah dalam genggamannya, begitu sulitnya untuk dibagikan? Ada yang berkata, “Memang sifatnya begitu!” “Coba lihat ayah ibunya juga begitu!” “Mungkin dapatnya susah kali yach…?” “Lha iyalah…, namanya juga keturunan pedagang.” “Kayaknya setelah menikah, baru pelit kok!” “Mungkin usahanya sepi.” Dan masih banyak alasan lainnya, yang membuat seseorang susah untuk berbagi dengan sesama. Yang pasti, saat ingin berbagi, pasti sedang memikirkan, “Apa yang bisa didapat setelah berbagi ini?”

Paling tidak memikirkan, nanti pasti Tuhan yang akan membalas. Apalagi kalau habis mendengar khotbah yang berkata, “Ini akan memiutangi Tuhan. Dan Tuhan tidak senang berutang kepada umat-Nya. Dia pasti membalas berlipat kali ganda. Percayalah…, Tuhan tidak mau berutang kepada kita.”

Benarkah Tuhan berutang berkat pada kita? Apakah tidak sebaliknya kita yang berutang kepada Tuhan? Dan ini tidak mungkin bisa terbayar sampai kita meninggalkan dunia ini. Lalu, apakah utang kita kepada Tuhan? Itu lho…, harga tiket masuk ke Sorga. Harganya tak ternilai yaitu darah Yesus yang tercurah di bukit Golgota. Bagaimana cara menikmatinya? Dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah. Maka kita akan menjadi berkat kapan pun dan di mana pun tanpa lagi menghitung untung dan ruginya secara hukum ekonomi dunia ini.

Orang yang memahami makna ini akan bisa menikmati berkatnya setiap hari. Bukan masalah menerima berapa banyak, namun bagaimana menikmatinya itu lebih penting. Jikalau oksigen yang kita hirup ini harus dibayar, seperti para pasien di ruang ICU rumah sakit, maka hidup kita akan diisi dengan bekerja mencari uang hanya untuk membeli oksigen setiap harinya. Kita lahir pun tidak pakai baju, apalagi bawa uang. Dan semuanya kita peroleh selama selang waktu saat menanti untuk antri ke liang lahat kembali. Namun mengapa berkat yang kita peroleh selama hidup ini, kok dirasa kurang terus? Cobalah melihat ke orang yang lebih menderita dari kita. Akan ada ucapan syukur yang mengalir dari bibir. Namun kalau melihat ke atas terus, maka akan menimbulkan ketidakpuasan bahkan ketamakan.

Dan pada Desember ini, kita memperingati kembali meluncurnya berkat yang bernilai kekekalan itu. Kalau kita mau percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, niscaya Sorga kelak akan dinikmati. Tuhan Yesus memberkati. 

 Oleh Pdm. Juanda. M.Th.



Sumber:

Tabloid Rohani Keluarga Bulan Desember 2010 hlm. 2.



Profil Pdm. Juanda:
Pdm. Juanda, S.Sos., M.A., M.Th. adalah Pemimpin Redaksi Tabloid Rohani Interdenominasi Keluarga sekaligus melayani di Gereja Bethel Indonesia (GBI) House of Healing, Surabaya. Beliau pernah studi theologi di Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) maupun di Sekolah Tinggi Theologi Bethany, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Sosial (S.Sos.) Komunikasi di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Surabaya; Master of Arts (M.A.) bidang Misiologi di Sekolah Tinggi Theologi Injili Indonesia (STII) Surabaya; Master of Theology (M.Th.) di Sekolah Tinggi Theologi Moria, Surabaya; dan mengikuti ujian negara M.Th. Theologi di STT Institut Injil Indonesia (I-3), Batu, Malang. Sekarang, beliau sedang menyelesaikan studi Doctor of Theology (D.Th.) di STII Yogyakarta dan Doctor of Missiology (D.Miss.) di Sekolah Tinggi Misiologia Yogyakarta.

JANGAN MENYEBUT YHVH SEMBARANGAN

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan.” (Matius 7:21-23).


Ayat ini menunjuk pengikut Yesus yang menyebut nama Yesus dengan ‘Kurios’ (Tuhan), kata mana dalam konteks Septuaginta (LXX, Tanakh dalam bahasa Yunani) digunakan sebagai terjemahan Adonai (yang ditujukan YHVH) dan untuk membaca nama YHVH dengan ‘Adonai’ agar tidak menyebutnya sembarangan. Ini menunjukkan bahwa baik YHVH maupun  Yesus diimani sebagai Tuhan oleh umat Kristen, apalagi dalam PL disebutkan “barangsiapa yang berseru kepada namaYHVH akan diselamatkan” (Yl.2:32) dan dalam PB hal sama ditujukan kepada Yesus bahwa “di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis.4:12)
Mengapa Ditolak?
Mengapa seruan orang-orang diatas ditolak Tuhan? Pasalnya mereka menyebut ‘Nama Tuhan’ namun ‘tidak melakukan kehendak Bapa’! Jelas disini, bahwa kehendak-Nya bukan asal menyebut ‘Nama-Nya’ (apalagi kalau menuliskan sendiri Nama Itu didahi sendiri [Why.14:1] dan bukan ditulis oleh Tuhan Yesus [Why.3:12]), tetapi menghormati dan memuliakan ‘pribadi dibalik Nama Kudus itu dan mentaati kehendak-Nya.’ Seperti diketahui, salah satu gejala aliran kultus abad XIX adalah usaha kembali ‘memulihan dan menyebutan nama YHVH (empat huruf tetragrammaton) yang dirintis Jehovah’s Witnesses.
Nama YHVH sejak awal sudah tidak dikenal ejaannya, bahkan inskripsi tertua yang ditemukan di Mesir menulis Nama Suci yang masih menggunakan aksara Ibrani kuno (Funisia) juga tidak menunjukkan ejaannya. Hukum ketiga menyebut “Jangan menyebut nama YHVH, Allahmu, dengan sembarangan” (Kel.20:7), apalagi disebutkan bahwa “menghujat nama YHVH, haruslah dihukum mati” (Im.24:16). Ayat-ayat itu membuat umat Yahudi Ortodok secara turun temurun menghindari penyebutan nama itu agar tidak menyebutnya salah dan melanggar kedua perintah itu.
Ketika ditawan di Babil, ditengah penyembahan berhala, rasa hormat untuk menguduskan nama itu menyebabkan orang yahudi tidak lagi menyebut Nama Suci YHVH sekalipun dalam Tanakh tercatat sekitar 6800 kali (Ketiv), Yahudi ortodok kemudian karena rasa hormat dan untuk memuliakannya mengucapkan (Qere) keempat huruf tetragrammaton ‘YHVH’ sebagai ‘Adonai’ (diterjemahkan Kurios dalam LXX, LORD dalam Bible, dan TUHAN dalam Alkitab), disamping ‘Adonai’ yang ada dalam Tanakh yang ditujukan Tuhan Israel (diterjemahkan Kurios dalam LXX, Lord dalam Bible, dan Tuhan dalam Alkitab. Adon artinya lord/tuan ditujukan a.l. raja). Agar dibaca sebagai ‘Adonai,’ dalam naskah Massoret, nama YHVH diberi tanda baca huruf hidup ‘a-o-a’ (huruf hidup Adonai). Namun, bila dalam Tanakh ada nama ‘Adonai YHVH’ maka agar tidak terjadi pengulangan dibaca ‘Adonai Elohim’ (diterjemahkan ‘Kurios Theos’ dalam LXX, ‘Lord GOD’ dalam Bible, dan ‘Tuhan ALLAH’ dalam Alkitab).
Karena tertulis dalam naskah Massoret, nama YHVH yang bertanda ‘a-o-a’ kemudian ada yang mengejanya ‘Jahovah’ tetapi karena dianggap masih mengandung separuh tetragrammaton diganti ‘Jehovah.’ Dalam terjemahan Inggeris KJV nama ini digunakan 4 kali, dan kemudian di kalangan Sacred Name Movement (SNM, Gerakan Nama Suci). Nama ‘Jehovah’ pertama kali digunakan oleh Jehovah Witnesses (JW/Saksi-Saksi Yehuwa) termasuk 273 nama itu yang dimasukkan ke dalam PB SSY (NW).
Naskah asli PB bahasa Yunani koine ditemukan sekitar 5000 copy dan tidak satupun memuat tetragrammaton (Why.19 hanya memuat digrammaton ‘hy’ dalam bahasa Yunani ‘ia,’ itupun mengutip pujian ‘haleluya’ dalam kitab Mazmur), bahkan sekalipun Yesus dalam doanya mengucapkan “Yang Di sorga: Dikuduskanlah nama-Mu” (Mat.6:9), Ia tidak mengucapkan nama YHVH melainkan menyebutnya dengan hormat sebagai ‘Bapa’ (Pater). Karena itu kalau Yesus, Para Rasul dan PB tidak menyebut nama YHVH samasekali melainkan menggantinya dengan panggilan kehormatan, apakah kita mau menyalahkan Yesus dan para Rasul?
Apa Ejaan yang Benar?
Bila empat huruf YHVH saja banyak orang tidak sepakat bagaimana mengejanya, apakah IHVH, IHWH, JHVH, JHWH, YHVH, atau YHWH, apalagi ejaan Nama Suci itu. Semula, dipelopori JW (SSY), digunakan ejaan ‘Jehovah’ namun banyak yang tidak setuju sehingga sejak tahun 1930-an berkembang aliran-aliran SNM yang menggunakan bermacam-macam ejaan tetragrammaton seperti JAHAVEH, JAHVAH, JAHVE, JAHVEH, YAHVE, YAHVEH, YAHWE, YAHWEH, YAHWAH, YAHOWAH, dll. Dapat dimaklumi mengapa Yahudi Ortodok dan LXX, dan PB tidak mengeja YHVH melainkan membacanya dengan sebutan kehormatan ‘Adonai/Kurios’ dan ‘Yesus’ memanggil dengan hormat ‘Pater’ (Bapa), karena tidak tahu ejaannya mereka kuatir terjadi penyebutan dengan ‘sembarangan’ seperti pemanggilan yang bermacam-macam itu yang semuanya rekaan dan belum tentu mencerminkan nama YHVH dengan benar bahkan artinya bisa makin jauh dari kebenaran. Apalagi kalau penyebutan ‘Nama Suci’ YHVH digunakan sebagai alat untuk melegitimasi Holy Scripture / Kitab Suci hasil plagiat karya terjemahan orang lain yang merupakan kebiasaan sekte demikian tentu ini contoh jelas mengenai ‘Menyebut YHVH Sembarangan.’ (Baca: Artikel Kitab-Kitab Suci Baru dalam www.yabina.org
Kebiasaan kalangan SNM adalah menggunakan naskah Bible yang ada kemudian mengganti nama ‘LORD, Jesus dan God’ dengan nama Ibraninya, juga beberapa nama dan kata lainnya namun dengan ejaan berbeda-beda. Dalam 60 tahun sejak ‘Holy Name Bible’ dicetak SNM (1950), sudah ada belasan versi diterbitkan kelompok-kelompok SNM yang berbeda yang menerbitkan versi sendiri. Yang menarik ada juga yang menyalahkan penggunaan ejaan nama Yahweh yang paling populer. ‘The Scriptures’ (1993) menggunakan Bible yang sudah ada kemudian mengganti LORD dengan YHVH (huruf Ibrani Kitab Suci). Bible kelompok SNM lainnya ‘Yahweh, The Besorah’ memplagiasi naskah The Scriptures (edisi 1998) dan mengganti tetragrammaton dengan aksara Ibrani Kuno (Funisia), bahkan versi ‘The Restored King James Version’ yang plagiat KJV, menggunakan tetragrammaton dengan tulisan Ibrani modern! Menyebut nama YHVH dengan sembarangan menghasilkan kebingungan karena tidak adanya kesepakatan dan kesehatian dalam mengejanya. Karena itu lebih terhormat dan mulia sikap Yahudi Ortodok yang membacanya sebagai ‘Adonai’ (LORD dalam Bible dan TUHAN dalam Alkitab) daripada bersepekulasi dengan ejaan yang salah.
Sebenarnya apakah benar bahwa nama YHVH adalah ‘nama diri’ yang berdiri sendiri, ‘berasal dari akar kata lain,’ atau bagaimana? Dan apakah semangat kembali keakar yahudi (Hebraic Roots Movement) benar-benar menemukan jawaban bahwa Nama Itu berakar yahudi? Biasanya nama sesembahan dipakai untuk menamai anak, dan sangat menarik untuk diketahui bahwa pada masa pra-Musa (kitab Kejadian), tidak ada nama orang yang mengandung komponen YHVH padahal yang mengandung nama ‘El’ banyak (Ismael, Israel). Ada juga yang mengemukakan bahwa Nama Itu sudah dikenal dalam inskripsi kuno sebelum Musa dalam bentuk tulisan paku, dimana ditemukan kata Yawi-ilum dan Yaum-ilum yang keduanya dianggap artinya ‘Yawi/Yau adalah ilum’ (Yawi/Yau is God), namun kemudian diketahui bahwa arti sebenarnya kata-kata itu adalah ‘Ilum itu milikku’ (God is mine). Ada juga tulisan ‘Ahu-yami’ yang mengkaitkan ‘yami’ dengan nama YHVH, tetapi ternyata kemudian bahwa yami adalah sebutan dan bukan nama. Ada juga usaha untuk mengkaitkan nama sesembahan Akkadia kuno ‘Ea’ dengan ‘Yah,’ namun ini disangkal karena YHVH diklaim sebagai sesembahan khas Israel dan berasal Sinai. (Hebrew Origin, hlm. 102 dst.)
Nama YHVH Berasal Sinai?
Musa baru mengenal Nama YHVH setelah diberitahukan kepadanya di Sinai (Kel.6:1-2), namun adakah petunjuk dari kitab lainnya dalam Tanakh? Disebutkan dengan jelas bahwa YHVH berasal dari Sinai a.l. dalam ayat: “YHVH  datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir” (Ul.33:2) “YHVH bergerak dari Seir … melangkah maju dari daerah Edom … Sinai.” (Hak.5:4-5), “Namanya Yah … Sinai bergoyang dihadapan Allah.” (Mzm.68:5,9). “Aku adalahYHVH, Allahmu sejak di tanah Mesir” (Hos.13:4 ), “Akulah YHVH … Aku menebus engkau dengan Mesir” (Yes.43:3), “Akulah YHVH … membawa mereka dari tanah Mesir” (Yeh.20:5-6), “Akulah yang menuntun kamu keluar dari tanah Mesir … firman YHVH” (Am.2:10-11).
Lalu, bagaimana dengan nama YHVH yang sudah ada dalam kitab Kejadian? Nama-nama itu ditulis ketika nama YHVH sudah dikenal Musa, karena diketahui dari tradisi Israel bahwa kitab Pentateuch (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) disebut sebagai kitab Musa sesudah Musa mengenal nama YHVH sehingga penulisan Nama Itu bukanlah ingatan historis melainkan ‘ingatan teologis.’ Dan jauh sesudah masa Musa mengenal nama itu baru ingatan teologis yang berkembang itu ditulis dalam Tanakh. Ini dimaksudkan agar YHVH tidak hanya menjadi ‘Tuhan eksklusif Israel,’ tetapi Ia juga ‘Tuhan semesta alam’ (Kej.2:4) dan ‘Tuhan umat manusia’ (Enoch = manusia, Kej.4:26).
Ujian iman Abraham/Ibrahim yang mengorbankan anaknya (Kej.22:1-2) dikenang di Arab Islam sebagai ‘perayaan Idul Adha’ termasuk tradisi sunat yang berawal dari perjanjian sunat dengan Abraham & keturunannya (Kej.17:10), tetapi nama YHVH yang tidak dikenal dalam tradisi Arab/Islam keturunan Ismael memperkuat bahwa nama itu baru dikenal Musa keturunan Ishak di Sinai. Fakta bahwa Para patriakh baru mengenal ‘El’ yang tenang ditunjukkan bahwa sebelumnya keturunan Abraham dan orang Kanaan bisa berdampingan dengan damai, setelah mengenal nama YHVH di Sinai, diawali pembebasan bangsa Israel dari Mesir, Kanaan dibasmi, dan timbul sifat agresif sebagian umat terutama Lewi untuk membela nama YHVH, bukan saja dalam melawan musuh Kanaan melainkan juga orang Israel (Kel.32:27-; Ul.33:8-11).
Tetapi bagaimana dengan nama ‘Yoshua’ dan ibu Musa ‘Yokhebed’ yang mengandung nama ‘Yo’? Yosua adalah nama baru yang diberikan Musa sesudah ia mengenal nama YHVH karena nama aslinya adalah ‘Hiskia bin Nun’ (Bil.13:8 band. Ul.32:44). Yoshua artinya ‘YHVH penyelamat’ dan itu terjadi setelah Israel keluar dari Mesir dan bertemu YHVH di Sinai. Mengenai Yokhebed ada yang mengemukakan bahwa nama itu mengandung nama ‘Yo’ (singkatan YHVH?) namun ini dipersoalkan karena tidak mungkin orang bisa menyingkat nama yang belum dikenal, jadi nama ‘Yo’ sebelum Musa belum mempunyai arti sebagai singkatan YHVH, dan kalau itu nama asli yang sudah dikenal maka tentulah YHVH bukan murni nama diri tetapi nama yang terbentuk dari nama lain ‘Yo.’ Dari kondisi ini lebih mungkin nama itu diberikan sebagai penghormatan kepada ibu Musa setelah Musa anaknya menerima wahyu dari YHVH dan menjadi pembebas Israel, sebab sebelum Musa mengenal nama YHVH (Kel.6:1-2), nama ibunya hanya disebut ‘perempuan Lewi’ (Kel.2:1), seorang perempuan biasa, namun sesudah tua dan beranak pinak dan setelah Musa mengenal nama YHVH baru disebutkan namanya Yokhebed (Yo adalah kemuliaan, Kel.6:19) sebagai penghormatan. Lagipula kalau Yo sudah tertuju kepada YHVH tentulah argumentasi yang menjadikan ayat Kel.6:1-2 sebagai kalimat bertanya karena lupa (yang biasa dikemukakan kalangan ini) menjadi tidak berarti karena masakan lupa sedangkan nama ibunya Musa yang masih hidup saat itu sudah dianggap mengandung nama YHVH, dan kalau sudah tahu nama YHVH selain El/Elohim/Eloah, buat apa Musa menanyakan lagi? (Kel.3:13).
Nama YHVH Berasal Arab?
Dengan mempelajari latar belakang sejarahnya, ditemukan petunjuk bahwa nama YHVH bukan asli bahasa Ibrani tetapi bahasa asing yang diperoleh Musa dinegeri asing. Ada yang mengemukakan sebagai nama sesembahan suku ‘Keni’ atau ‘Median,’ atau berasal kata Arab ‘hwy (hawah)’ (angin/storm) apalagi diketahui Sinai adalah daerah suku Median cucu Ketura, ada yang mendukung bahwa nama itu berasal akar ‘hyh/hayah’ (menjadi), dan ada pula yang menyebutkan bahwa YHVH adalah ringkasan ‘ehyeh asher ehyeh’ (Kel.3:14). Perlu disadari bahwa ejaan yang dipakai paling umum ‘YHWH/Yahweh’ juga diragukan Ibraninya karena dalam bahasa Ibrani modern yang diakui resmi tidak ada sebutan ‘w’ jadi kemungkinannya salah, apalagi YHVH dalam naskah Tanakh yang tertua awalnya ditulis dalam aksara Funisia yang kemudian disebut ‘Ibrani Kuno’ (Ketav Ashurit) sesudah abad XII SM setelah bahasa Ibrani tulisan mulai berkembang, sebelum kemudian digantikan dengan huruf yang dipengaruhi huruf pesegi Aram sebagai ‘Ibrani Kitab Suci’ (Ketav Meruba) pada masa Ezra.
Setidaknya ada berbagai panggilan singkat yang ditujukan YHVH seperti a.l. ‘Yo, Ye, Ya, Yeho’ ini jelas menunjukkan bahwa tradisi Yahudi benar kalau mengakui bahwa orang sudah tidak mengenal ejaan YHVH sehingga sulit diperkirakan, itulah sebabnya agar tidak menyebutnya salah dan sembarangan (Kel.20:7) maka Yahudi ortodok membaca huruf-huruf YHVH dengan hormat sebagai ‘Adonai’ (Tuhan) atau ‘Ha-Syem’ (Nama Itu). Ejaan YHVH hanya diucapkan oleh Imam Besar (Kohen Gadol) di Yerusalem setahun sekali sebanyak 10 kali pada perayaan Yom Kippur.
Dari pembahasan di atas maka jelas bahwa ‘YHVH  berasal dari Sinai.’ Kita tidak perlu merasa kecil hati kalau mengetahui bahwa ‘nama YHVH bukan murni nama diri’ karena yang penting adalah memuliakan ‘pribadi & kehendak’ yang punya Nama Suci itu dan bukan huruf-huruf Nama-Nya, demikian juga kita tidak perlu merasa rendah diri kalau ‘nama YHVH  ternyata berakar bangsa dan bahasa asing’ (apalagi dengan kemungkinan berakar Arab), karena YHVH adalah Tuhan semesta alam yang mencipta dan memiliki langit dan bumi termasuk semua bangsa dan bahasa yang ada di dalamnya.
Selama ribuan tahun tidak pernah ada firman dan wahyu melalui para Nabi PL, Imam Besar Eliezer (yang merestui LXX), dan Yesus (yang menggunakan LXX), yang menyebutkan bahwa ‘Yang Empunya Nama Suci Itu’ keberatan untuk penerjemahan dengan kata pengganti itu bahkan Yesus sendiri tidak pernah menyebut ‘Nama Itu’ kecuali dengan panggilan kehormatan ‘Bapa’ atau ‘El’ (Mat.27:46, dalam dialek Arab = Allah) hingga kerajaan Allah berkembang ke seluruh dunia dan firman-Nya terus diterjemahkan ke bahasa-bahasa dunia.
Yang menarik untuk dicatat pula adalah dua aliran pemuja nama YHVH, yaitu Saksi-Saksi Yehuwa dan Gerakan Nama Suci sekalipun ada kemiripan dalam sakralisasi nama itu namun ada juga perbedaannya yang mencolok. SSY menerjemahkan YHVH dengan Jehovah (Ind: Yehuwa) sedangkan SNM dengan Yahweh/Yahwe dan variasinya, namun di Indonesia SSY menerima dengan sukacita terjemahan ‘Allah’ untuk El/Elohim/Eloah dan Theos, sedangkan SNM alergi berat dengan yang berbau Arab dan menolak terjemahan itu (ini menunjukkan kadar Semitisme mania dan Arabisme fobia yang kuat), demikian juga SNM menolak kelahiran Messias dirayakan pada bulan Desember melainkan kebanyakan menentukan pada bulan September/Oktober, padahal SSY fobia total terhadap perayaan Natal.

Pendengar Dan Pelaku Firman Tuhan


“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
(Rm. 10:17)

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”
(Yak. 1:22)



Sebagai orang Kristen, kita tentu percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang merupakan satu-satunya standar kebenaran bagi iman dan praktik hidup Kristen. Kepercayaan kita ini tentu disertai dengan kehausan mendengar firman Tuhan yang menimbulkan iman (Rm. 10:17). Apakah cukup haus saja? TIDAK. Yakobus menambahkan, “setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak. 1:19) Kata cepat di ayat ini TIDAK menunjukkan waktu (cepat atau lambat), tetapi menunjukkan suatu kesiapan. Kesiapan ini di sini berbicara mengenai kerelaan hati untuk mendengar firman Tuhan yang mengajar, mengoreksi, dan menghibur kita. Kerelaan hati di sini tentu berkaitan erat dengan kerendahan hati. Seorang yang rendah hati akan “mudah” mendengar firman Tuhan, meskipun firman Tuhan itu menegur dirinya. Contoh, setelah berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria, suami Batsyeba, raja Daud ditegur nabi Natan (2Sam. 12:1-12), lalu bagaimana reaksi Daud? Marahkah dia? TIDAK. Alkitab mencatat pengakuan yang jujur dari seorang raja yang takut akan Tuhan dan rendah hati, “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” (2Sam. 12:13)

Namun, fakta hari ini adalah banyak orang Kristen TIDAK suka mendengarkan firman Tuhan (khususnya pengajaran dan teguran), lalu menggantikan berita firman Tuhan dengan berita mimbar yang mengajarkan hal-hal yang mengenakkan telinga (2Tim. 4:3-4), seperti: ikut Tuhan pasti kaya, sukses, sehat, bahkan tidak pernah digigit nyamuk, dll. Mengapa? Karena hati mereka telah dikuasai (dan dibutakan) oleh ilah zaman ini (2Kor. 4:4). Lebih tajam lagi, sebenarnya yang mereka sembah selama ini bukan Allah, namun: kelebihan diri (tampan atau cantik), kebaikan diri, uang, jabatan, dll, sehingga tidak heran, ketika firman Tuhan menegur mereka, mereka langsung ngambek. Makin orang itu ngambek, makin terlihat bahwa selama ini yang mereka sembah BUKAN Allah Tritunggal, tetapi ilah-ilah lain.

Pertanyaan selanjutnya, cukupkah kita menjadi pendengar firman Tuhan saja? TIDAK. Karena fakta menunjukkan ada beberapa orang Kristen yang rajin mendengarkan firman Tuhan baik melalui khotbah mimbar di setiap kebaktian gereja maupun melalui seminar, rekaman MP3, DVD, dll, namun mereka makin sombong dan sok tahu. Ketika firman menegur mereka, mereka dengan yakin mengatakan, “Ya, saya tahu” atau “Ya, saya mengerti”, namun di kesempatan berikutnya, mereka mengulangi kesalahan mereka (tanpa merasa bersalah). Mereka lebih mudah percaya dengan teman-teman yang bukan orang percaya, ketimbang mendengarkan firman Tuhan dan teguran dari saudara seiman. Dengan kata lain, makin mendengarkan firman Tuhan, hidup mereka tidak diubah. Mengapa demikian? Karena hati mereka tidak murni. Hati manusia yang sudah tidak murni mengakibatkan sikap mereka juga tidak murni, sehingga tidak heran, makin mereka mengisi rasio mereka dengan pendengaran firman, hati mereka tetap kering dan hidup mereka tetap tidak menunjukkan adanya perubahan signifikan.

Hati yang tidak murni mengakibatkan mereka:
Pertama, meragukan firman Tuhan. Sikap meragukan firman Tuhan bukan hanya sekadar sikap akademis yang meragukan ketidakbersalahan Alkitab, namun juga menyangkut sikap praktis. Beberapa orang Kristen khususnya yang mengamini ketidakbersalahan Alkitab, namun faktanya mereka secara praktik meragukan kebenaran firman Tuhan. Bagi mereka, Alkitab terlalu ideal untuk dijalankan.

Kedua, bersikukuh pada pandangan sendiri. Orang yang di titik pertama secara praktis meragukan firman Tuhan tentu akan mengambil sikap bahwa firman Tuhan tidak bisa diaplikasikan, sehingga ia akan memiliki pandangannya sendiri dan yang lebih fatal, ia bersikukuh (ngotot) dengan pandangannya tersebut. Ia telah, sedang, dan akan menggantikan otoritas firman Tuhan dengan otoritasnya sendiri, meskipun secara perkataan, ia mengamini bahwa Alkitab itu tidak bersalah. Misalnya, Alkitab mengajar kita bahwa Allah itu berdaulat atas segala sesuatu, sehingga kita harus mengaitkan segala sesuatu dengan kehendak Tuhan, orang seperti ini biasanya mengerti firman Tuhan ini, namun secara praktik, ia mengerti kedaulatan dan kehendak-Nya itu sebatas apa yang cocok dengan dirinya. Yang lebih parah lagi, apa pun yang dia lakukan dikaitkan dengan kehendak Tuhan (memakai istilah-istilah “rohani”), padahal mungkin sekali sikapnya itu diizinkan Tuhan agar orang tersebut sadar bahwa sikapnya keliru (refleksi dari khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong pada Natal Akbar Surabaya 2010 pada tanggal 11 Desember). Makin mendengarkan firman, ia makin berdosa, karena ia menafsirkan apa yang tidak diajarkan Alkitab!

Jika demikian, apa yang harus kita lakukan? Sebagai pengikut Kristus, kita harus siap mendengar firman dan siap juga untuk menjalankannya, karena jika tidak demikian, kita menipu diri sendiri seperti seorang yang setelah mengamati mukanya di depan cermin, kemudian lupa bagaimana wajahnya tersebut (Yak. 1:22-24). Namun harus disadari bahwa TIDAK MUDAH untuk menjalankan firman Tuhan, karena saya menyadari bahwa terlalu banyak godaan yang membuat kita tidak menaati firman dan saya juga terus bergumul untuk menjalankan firman Tuhan. TIDAK MUDAH menjalankan firman Tuhan TIDAK berarti TIDAK BISA menjalankannya, karena ketika kita mengatakan TIDAK BISA, itu berarti kita tidak ingin menjalankannya. Namun tatkala kita berkata bahwa kita TIDAK MUDAH menjalankan firman, itu berarti kita bisa menjalankan firman meskipun itu sulit dan hal tersebut dimampukan melalui kuasa Roh Kudus. Dengan kata lain, ada PROSES yang harus kita jalani dan tentunya KOMITMEN dari diri kita untuk menjalankan firman Tuhan. Proses dan komitmen ini memampukan kita untuk mengintegrasikan antara mendengar dan melakukan firman:
Pertama, menyerahkan hati kita secara tulus kepada Tuhan. Kita harus menyadari bahwa problema tidak menaati firman adalah problema hati, sehingga alangkah bijaknya kita pertama kali berkomitmen menyerahkan hati kita secara tulus kepada Tuhan untuk dikoreksi-Nya.

Kedua, setelah mendengar firman, langsung berkomitmen menjalankannya. Orang yang hatinya sudah dimurnikan oleh Allah mengakibatkan ia akan memiliki komitmen yang kudus dan setia menjalankan firman-Nya setelah mendengar firman-Nya. Misalnya, jika firman mengajarnya untuk tidak berzinah, ia akan menyimpan itu di dalam hatinya dan kemudian langsung berkomitmen menjalankannya, bukan malahan mencari-cari alasan untuk tidak taat.

Ketiga, mau ditegur oleh saudara seiman dan berkomitmen untuk berubah. Meskipun kita telah berkomitmen, godaan entah dari dunia atau diri kita membawa kita untuk tidak menaati firman. Oleh karena itu, kita memerlukan saudara-saudara seiman kita yang lebih dewasa untuk menegur dan mengingatkan kita. Orang yang anti teguran membuktikan bahwa orang itu sombong dan sok tahu, lalu menganggap diri sendiri sebagai “Allah” yang tidak mungkin bersalah sedikitpun. Berhati-hatilah terhadap hal ini. Setelah ditegur, apa yang harus kita lakukan? Ada orang yang cepat mengerti dan menerima teguran dari orang lain, namun sayang ia kembali mengulangi kesalahan yang sudah ditegur orang lain tersebut (istilahnya: setelah tobat, kemudian kumat). Di sini, kita perlu belajar untuk BERKOMITMEN untuk mau ditegur jika salah dan setelah itu berubah.

Keempat, berkomitmen untuk hidup berintegritas. Setelah mendengar firman, ditegur oleh saudara seiman, maka kita belajar BERKOMITMEN untuk menjalankan apa yang telah kita percayai dan ketahui dengan sebisa mungkin konsisten, tegas, tidak gila hormat, dan tidak bermuka dua (alias tidak munafik). Itulah tanda hidup berintegritas seperti yang dituturkan oleh Maimunah Natasha, Direktur Eksekutif Nasional dari Haggai Institute di Indonesia, “Pribadi yang berintegritas adalah seorang pribadi yang hidup tanpa menggunakan kedok dalam hidupnya. Ia akan bertindak sesuai dengan ucapan yang dipikirkan, akan sama di depan dan di belakangnya. Ia akan konsisten antara apa yang diimani dan perilakunya, antara sikap dan tindakan, antara nilai hidup yang dianut dengan hidup yang dijalankan. Ia adalah seorang yang matang, tidak kompromi, dan menolak pengakuan untuk dirinya sendiri.”


Bagaimana dengan kita? Maukah kita hari ini berkomitmen menjalankan firman Tuhan, meskipun itu sulit? Maukah kita dipimpin Roh Kudus untuk bisa konsisten menjalankan firman Tuhan? Amin. Soli Deo Gloria.

oleh: Denny Teguh Sutandio

e enjte

MENGKRITISI YANG DIURAPI




MUNGKIN judul di atas dianggap tak lazim oleh sekelompok orang. Bagi yang lainnya, berpikir tentang apa yang dimaksud dalam kata yang diurapi. Tapi mungkin ada juga yang dengan segera akan berkata, “Ini tidak benar!” Setiap pendapat terhadap sebuah judul itu biasa, tapi akan menjadi sangat menyedihkan jika tak membaca tuntas. Mari kita mulai dengan kata-kata “yang diurapi”, yang sekarang ini sering kali dipakai dalam lingkungan orang Kristen, khususnya menyangkut hamba-hamba Tuhan yang dianggap hebat oleh dan dengan ukuran umat. Istilah lagi ngetop, naik daun, di kalangan para selebritis, ternyata menyelinap ke dalam dunianya pengkhotbah. Sehingga pengkhotbah kini disorot dari aspek populernya, jumlah undangan khotbahnya, dan tentu saja luas area khotbahnya. Sayangnya semua penilaian tentang pengkhotbah sering kali mengesampingkan asas yang justru terpenting, yaitu kehidupan moralnya, perilaku ekonominya, dan keluarganya. Pengkhotbah kini dijadikan sebagai pengundang masa. Maklum, sebuah ibadah terbilang sukses jika pengunjungnya membeludak. Ibadah adalah kuantitas, bukan lagi kualitas.

Nah pengkhotbah yang populer itu disebut sebagai hamba Tuhan “yang diurapi”. Dalam Perjanjian Lama (PL), kata diurapi secara asasi menunjuk kepada tindakan ilahi. Itu sebab mereka yang diurapi adalah yang memiliki jabatan nabi (1Raj. 19:16), imam (Kel. 28:41), raja (2Sam. 2:4), dalam pengertian ditahbiskan sebagai alat khusus bagi Allah. Begitu juga jika menyangkut benda tertentu, seperti tabut perjanjian dan perkakas bait Allah, diurapi yang berarti dikhususkan sebagai alat yang suci. Tetapi ingat, bukan alatnya yang suci, melainkan tujuan pemakaian alatnya. Itu sebab Allah akan murka jika umat mengultuskan benda apa pun, sebagaimana diatur dalam 10 hukum. Dalam pengurapan digunakan minyak yang dibuat dengan aturan yang ketat, begitu juga penggunaannya (Kel. 30:25). Orang yang membuat minyaknya sembarangan, atau menggunakannya sembarang-an akan dihukum mati (Kel. 30:33). Minyak yang dicurahkan dari buli-buli ini adalah merupakan simbol Roh Kudus.
Begitu juga dalam Perjanjian Baru (PB), minyak urapan merupakan simbol dari Roh Kudus. Dalam praktek masa kini, gereja membaptis umat dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dengan memakai air, juga adalah simbol dari Roh Kudus. Artinya, minyak adalah simbol, bukan benda magis. Tetapi tujuannya, yaitu pengurapan adalah suci. Maka siapa yang sembarangan Tuhan akan menghukumnya. Bentuk hukuman di era PL terus bergerak dinamis hingga ke era PB. Misalnya di PL yang sembarangan akan dilenyapkan (dihukum mati), tidak lagi di PB, tetapi tetap menjadi orang yang terhukum di hadapan Allah. Bentuk hukumannya yang berubah. Karena itu mengultuskan minyak sebagai benda magis adalah sebuat tindakan jahat, yang sama sekali tidak kristiani. Allah-lah sumber berkat, sumber penyembuh bagi umat-Nya, dengan atau tanpa minyak urapan.

Nah, sekarang pada hamba yang diurapi. Yang pertama, jika menyangkut gelar maka itu hanya ada satu, yaitu Tuhan Yesus Kristus (Kristus artinya Yang Diurapi). Jadi sangat mengerikan jika orang Krsiten memakai kata yang diurapi tanpa memahami arti kata itu sebagai gelar. Karena itu, mengingat hal ini bisa rancu, lebih baik hamba Tuhan disebut saja hamba yang sungguh-sungguh. Sementara yang kedua, jika itu menyangkut penahbisannya, maka semua pendeta ditahbiskan, yang berarti diurapi (dengan penumpangan tangan sebagai simbol berkat Allah Bapa, Anak, Roh Kudus). Artinya, tidak ada pendeta yang tidak diurapi (kecuali memang seseorang yang hanya mengaku, namun tidak jelas institusi gerejanya). Nah, dengan begini menjadi jelas bagi kita memahami arti kata “yang diurapi” dan bagaimana pemakaian yang bertanggung jawab dan tepat.

Sekarang bagaimana dengan kata jangan mengusik hamba yang diurapi Tuhan, yang membuat jemaat takut mengkritisi hamba Tuhan, bahkan yang jelas-jelas salah? Sembarang mengkritik, apalagi memfitnah seorang hamba Tuhan, tentu tak elok. Jangankan seorang hamba Tuhan, terhadap semua orang hal itu jelas tidak baik. Namun sebaliknya, mendiamkan kesalahan, atau tindakan tak terpuji, adalah perbuatan salah, termasuk jika yang salah itu adalah seorang hamba Tuhan sekalipun. Saling mengingatkan, menegur, untuk membangun, adalah semangat tubuh Kristus yang sehat. Namun memang perlu aturan yang jelas terhadap seorang hamba Tuhan. Teguran bisa dilakukan oleh tim hamba Tuhan, atau mereka yang dituakan dalam jemaat. Hamba Tuhan yang baik pasti tidak keberatan, karena teguran dalam kebenaran adalah kasih yang mendidik.

Memakai kasus Daud dan Saul, di mana Daud berkata, “Jauhlah dariku membunuh orang yang diurapi Tuhan, sangatlah tak layak”. Daud jelas menyatakan sikap melawan atas perilaku Saul yang semena-mena. Pelarian Daud dari hadapan Saul menjadi sikap yang mudah dibaca dan dipahami. Yang tak ingin dilakukan Daud adalah membunuh Saul, yang diurapi (ditahbiskan menjadi raja) oleh Tuhan sendiri. Daud menyerahkan soal hidup mati, atau pergantian posisi menjadi raja di antara mereka, kepada Tuhan sebagai yang berhak. Jadi, ini bukan soal Daud tidak menegur, atau tidak menyatakan sikap, sangat beda. Jadi, kasus Daud tak boleh dijadikan contoh agar tak menegur hamba Tuhan yang salah. Mengusik hamba Tuhan, memang tak disukai oleh Tuhan, jika itu dilakukan oleh orang tak benar. Dan sebaliknya, hamba Tuhan yang benar tentu tak perlu ditegur, yang perlu adalah hamba Tuhan yang tidak benar. Dalam ketidakbenarannya si hamba Tuhan telah menunjukkan bahwa dia bukan seorang hamba Tuhan. Namun jika seorang hamba Tuhan berbuat salah, dan me-ngakuinya, maka sudah seharusnya sikapnya dihargai. Yang perlu ditegur adalah hamba Tuhan yang mencari keuntungan diri atau cacat moral namun bersikap seakan tak salah. Di sinilah letak persoalan integritas, yaitu ketika orang berusaha menyembunyikan dirinya dari kesalahan dengan cara bersembunyi di balik ayat-ayat suci yang dipelintir. Seorang hamba Tuhan yang berintegritas tak perlu resah dikritik. Karena hamba Tuhan yang berintegritas pastilah seorang yang berkualitas.

Mengkritisi sebutan hamba Tuhan yang diurapi menjadi signifikan di situasi di mana terjadi degradasi moral di lingkungan gereja. Seperti Yesus menyucikan Bait Suci yang ternyata tak lagi suci, begitulah kita di zaman ini dituntut untuk berani menyucikan diri dengan sikap mengkritisi diri sendiri. Mari mengintropeksi diri agar tak rajin bersembunyi di balik ayat-ayat suci sebagai tameng diri. Untuk itu jagalah perilaku hidup, perilaku ekonomi, perilaku sosial, sehingga orang percaya hadir nyata, bukan sekadar pemanis agama. Apalagi bagi yang berani berdiri di mimbar agama, harus berani terbuka, dan teruji nilai moralitasnya. Jangan lagi terbiasa menghindari kritikan dengan berkata jangan mengkritik hamba Tuhan “yang diurapi” cukuplah salah untuk salah, benar untuk benar, tak perlu berdalih. Tak boleh lagi pembodohan terjadi dalam hidup bergereja di mana umat diindoktrinasi sehingga tak lagi kritis.
Umat Kristen harus menjadi model dalam integritasnya, terlebih lagi para pengkhotbah. Mengkritisi “yang diurapi”, mari ramai-ramai kita lakoni, bukan karena membenci tapi sebaliknya karena mengasihi. Kritisi hamba Tuhan yang tidak benar kehidupannya. Kritisi khotbah-khotbah yang ngawur, kontroversial, dan jauh dari ajaran Alkitab. Sehingga kita mempersempit ruang bagi kekacauan dalam kehidupan bergereja. Bagaimanapun harus diakui bahwa semakin panjang barisan pengkhotbah dengan sejuta masalah, mulai dari kasus pajak, keuangan gereja, perceraian, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga kasus moral lainnya. Dan gawatnya, yang terlibat justru para pengkhotbah dengan label hamba “yang diurapi”. Yang dengan gelap mata umat justru membela dan menyembunyikannya. Sebagai orang percaya kita rindu gereja yang bersih, jujur, dan berintegritas. Ayo maju dengan mengkritisi label-label yang dipakai pengkhotbah untuk menyembunyikan diri. Selamat mengkritisi diri sendiri, selamat intropeksi, agar semua kita bersama bisa bersih diri. Semoga.

oleh: Pdt. Bigman Sirait

Sumber:
http://www.reformata.com/04846-mengkritisi-yang-diurapi.html



Profil Pdt. Bigman Sirait:
Pdt. Bigman Sirait adalah Ketua Sinode dan gembala sidang Gereja Reformasi Indonesia (GRI) Antiokhia, Jakarta (www.gri.or.id) sekaligus sebagai Pemimpin Umum Tabloid Reformata. Beliau mendirikan Yayasan MIKA yang bergerak dalam dunia pendidikan dengan Sekolah Kristen Makedonia, di Kalimantan Barat. Beliau saat ini sedang mengambil studi Master of Divinity (M.Div.) di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta.

IMAN KRISTEN DAN KEDEWASAAN




“Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”
(Ibr. 5:14)



Ketika mendengar kata “dewasa”, apa yang ada di benak kita? Ada yang mengatakan bahwa orang yang telah berusia 25 tahun ke atas. Orang lain mengatakan bahwa orang dewasa adalah orang yang mandiri dan bertanggung jawab. Pada umumnya orang mengidentikkan kedewasaan dengan tingkat usia seseorang atau hal-hal superficial atau fenomenal yang dapat dilihat mata. Salahkah hal tersebut? Tentu TIDAK! Namun fakta membuktikan bahwa orang yang sudah berusia 25 tahun ke atas pun bertindak tidak dewasa, misalnya kalau ditegur langsung ngambek, setiap perkataannya harus ditaati sampai sedetail-detailnya, berkata apa pun selalu tidak bisa dipertanggungjawabkan (bahasa Jawanya: esuk dele sore tempe), dll. Lalu, jika kedewasaan HANYA diukur dari tingkat usia seseorang atau hal-hal superficial, apakah gejala-gejala di atas menunjukkan bahwa orang tersebut telah dewasa? TIDAK. Lalu, apa sebenarnya makna dewasa?


Iman Kristen dan Alkitab mengajarkan beberapa presuposisi kedewasaan:
 
Pertama, kedewasaan itu menyeluruh (holistik). Di dalam kuliah Surat Ibrani di Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika, Pdt. Thomy Job Matakupan, M.Div. mengatakan bahwa kedewasaan itu adalah sesuatu yang menyeluruh, meliputi kedewasaan: rohani, karakter, dll. Dengan kata lain, ada orang Kristen yang dewasa secara rohani namun tidak dewasa secara karakter dan sebaliknya. Sehingga adalah tugas orang Kristen untuk saling menguatkan dan menegur satu sama lain untuk mendewasakan satu sama lain di dalam pertumbuhan yang sehat dan menyeluruh ke arah Kristus.

Kedua, kedewasaan itu proses. Karena kedewasaan itu adalah hal yang menyeluruh, maka tentu saja kedewasaan itu membutuhkan proses. Artinya, seorang Kristen untuk menjadi dewasa secara menyeluruh dibutuhkan sebuah proses waktu. Oleh karena itu, jangan pernah menghina orang Kristen yang sedang bertumbuh, karena fakta membuktikan orang yang gemar menghina orang lain dengan celetukan, “kayak anak kecil”, orang yang menegur tersebut pun secara tidak sadar juga seperti anak kecil, misalnya ngambek kalau ditegur.

Ketiga, kedewasaan itu perlu bantuan. Karena kedewasaan itu sebuah proses, maka dibutuhkan bantuan untuk mendewasakan seseorang. Bantuan tersebut bisa berupa teguran dan pengajaran dari Alkitab, hamba Tuhan, saudara seiman, orangtua, saudara, dll. Nah, sering kali orang yang merasa diri sudah berumur/tua paling berbangga diri karena merasa diri sudah dewasa, sehingga kalau ditegur, selalu mengeluarkan seribu jurus melawan teguran tersebut! Justru, orang yang merasa paling dewasa dan tidak butuh orang lain untuk menegur, orang tersebut justru TIDAK dewasa, karena dewasa bukan suatu keadaan statis!


Dari presuposisi tentang kedewasaan, maka kita dapat menarik beberapa ciri kedewasaan. Saya membagi kedewasaan menjadi dua: internal dan eksternal.

Ciri-ciri kedewasaan internal:
 
Pertama, mengonsumsi makanan keras. Kalau kita kembali melihat Ibrani 5:14, penulis Ibrani mengatakan bahwa makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa. Kata “dewasa” dalam ayat ini dalam teks Yunaninya teleiōn artinya sempurna atau dewasa (mature). Hanya orang-orang dewasa yang dapat mengunyah makanan keras karena gigi-gigi mereka sudah terlatih. Di dalam kehidupan sehari-hari, orang (yang bertumbuh) dewasa adalah orang yang tidak lagi mendengarkan dongeng, namun sudah terbiasa membaca surat kabar dan buku-buku yang sulit. Di dalam kerohanian, orang Kristen (yang bertumbuh) dewasa adalah mereka yang sudah terlatih mendengarkan khotbah-khotbah yang keras yang menegur dosa supaya mereka bertobat dan kembali kepada Kristus. Namun berhati-hatilah, mendengarkan khotbah keras JANGANLAH menjadi suatu arogansi bagi kita lalu menghina khotbah-khotbah yang sederhana (sederhana TIDAK sama dengan dangkal!)

Kedua, peka membedakan yang baik dan jahat. Dalam bahasa Yunani, kata membedakan adalah diakrisis bisa berarti discerning atau judging (=membedakan, melihat, menghakimi). Dengan kata lain, kedewasaan internal diukur dari kepekaan seseorang (Kristen) mengetahui dengan jelas sesuatu atau seseorang apakah itu baik atau jahat, lalu pengetahuan itu menuntut pembedaan yang jelas antara keduanya, sehingga tidak mengaburkan dan menyesatkan. Kepekaan mengetahui dengan jelas dan kemudian membedakannya hanya dimiliki oleh seorang yang sudah dewasa. Orang dewasa mengetahui dan dapat membedakan mana etika yang benar dan salah. Di dalam kerohanian, orang Kristen (yang bertumbuh) dewasa peka membedakan mana yang baik dan jahat. Namun ingatlah, peka membedakan yang baik dan jahat HENDAKlah tidak mengakibatkan kita menjadi arogan lalu gemar mengkritik sini-sana. Peka membedakan yang baik dan jahat seharusnya berlaku pertama-tama bagi diri kita sendiri (introspeksi diri) dan kemudian bagi orang (dan ajaran) lain.

Ciri-ciri kedewasaan eksternal:

Pertama, mandiri. Mandiri adalah sikap berdikari sendiri, berani melakukan segala sesuatunya secara sendiri. Mandiri tidak berarti tidak membutuhkan bantuan orang lain sama sekali, tetapi mandiri adalah sikap seorang yang dewasa dalam mengerjakan segala sesuatunya tanpa bantuan orang lain, entah itu teman, orangtua, dll (meskipun bantuan mereka TIDAK boleh kita abaikan sama sekali). Mandiri berwujud: Pertama, menguasai banyak hal. Artinya, sebisa mungkin, orang yang bertumbuh dewasa adalah orang yang cukup menguasai banyak hal (theologi, filsafat, politik, pendidikan, ekonomi, dll), meskipun hal ini TIDAK berarti kita menjadi ahli dalam segala hal. Kedua, bijaksana. Secara implisit, Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. mendefinisikan bijaksana sebagai suatu tindakan yang diambil dengan tepat dengan pertimbangan yang matang di dalam kondisi yang tepat. Artinya, selain pintar, bijaksana juga membutuhkan hikmat tertinggi yaitu dari Tuhan. Bijaksana ini bisa diaplikasikan dalam: mengambil keputusan dan mengelola sesuatu (misalnya: keuangan, waktu, dll). Ketiga, bertanggung jawab. Seorang yang mandiri haruslah seorang yang bertanggung jawab atas apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan. Jangan merasa diri mandiri, namun ketika berkata sesuatu selalu mencla-mencle!

Kedua, kemampuan bersosialisasi. Mandiri saja TIDAK cukup syarat bagi seorang yang bertumbuh dewasa, karena jika yang diperlukan hanya mandiri, maka kita nantinya menjadi pribadi yang egois dan arogan. Oleh karena itu, seorang yang bertumbuh dewasa perlu memiliki kemampuan untuk bersosialisasi. Artinya, orang tersebut harus bisa berkomunikasi dan berhubungan dengan dunia luar, misalnya lingkungan gereja, masyarakat, pekerjaan, pendidikan, dll. Dengan berhubungan dengan dunia luar (berkomunitas), kita bisa belajar banyak hal, mulai dari prinsip hidup, kondisi masyarakat, dll. Selain itu, G. I. Jeffrey Siauw, M.Div. di dalam khotbahnya tentang komunitas di dalam Seminar Redemptive Spirituality Series pada tanggal 20 September 2008 di Surabaya mengajarkan bahwa pentingnya komunitas itu membukakan kepada kita realitas kita yang negatif dan teman kita dapat memberi terang kepada diri kita. Tanpa komunitas, kita tidak pernah merasa diri kita memiliki kelemahan/hal negatif. Tuhan memakai komunitas yang bertanggungjawab sebagai sarana mempertumbuhkan iman dan karakter kita.

Ketiga, rendah hati. Kemampuan bersosialisasi mengakibatkan seorang yang bertumbuh dewasa memiliki suatu kerendahan hati. Rendah hati TIDAK sama dengan rendah diri atau sungkan (bahasa Jawa: enggih-isme). Rendah hati adalah suatu sikap merendahkan hati kita untuk siap ditegur dan diajar oleh orang lain, sehingga kita bisa bertobat dari yang lama. Saya menjumpai terlalu banyak orang yang mengklaim diri dewasa (baca: yang sudah berumur/tua), tetapi ketika ada pendapat mereka yang salah secara objektif, mereka menjadi keras kepala dan enggan ditegur dengan beribu argumentasi “logis”. Tidak heran, saya sering mendengar orang berkata bahwa semakin tua usia seseorang, semakin susah orang tersebut ditegur! Mengapa? Karena orang itu sudah TIDAK memiliki sikap rendah hati ditambah kebanyakan mereka menjadi sombong. Kesombongan mereka ditandai dengan perkataan yang sering mereka ucapkan bahwa mereka sudah berpengalaman, sudah banyak makan asam garam (sampai darah tinggi, kolesterol, dll, hehehe). Orang yang bertumbuh dewasa khususnya orang Kristen seharusnya TIDAK meniru apa yang dunia pikir, katakan, dan lakukan, tetapi harus berubah. Kerendahan hati adalah sikap yang HARUS dimiliki orang Kristen dari segala macam usia untuk bertumbuh makin serupa dengan Kristus.


Bagaimana dengan kita? Biarlah artikel singkat ini boleh menyadarkan kita agar kita semakin lama semakin bertumbuh dewasa menuju ke arah Kristus dan tentunya kita membutuhkan bantuan agar kita bisa berada di dalam proses menuju kedewasaan itu. Jadilah orang yang membantu orang lain untuk bertumbuh dewasa dan rendah hatilah dalam menerima setiap teguran dan pengajaran dari orang lain yang sesuai dengan Alkitab agar kita pun juga bertumbuh makin dewasa. Amin. Soli Deo Gloria.


“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

oleh: Denny Teguh Sutandio

e shtunë

Ingin jadi calo atau yang naik


Setiap hari kita bisa mendengar teriakan para calo di terminal-terminal bus, agar orang turut dalam bus yang akan membawa mereka ke suatu tempat. Mereka berteriak dengan keras dan lantang, bahkan sepanjang hari mereka melakukannya tanpa lelah. Namun, meskipun telah berteriak dari pagi hingga petang, dan sudah banyak penumpang yang diberangkatkannya, tapi dirinya tetap tinggal di terminal tersebut. Tidak ikut berangkat. Ilustrasi tersebut merupakan gambaran sebagian orang Kristen sekarang ini. Mereka banyak cerita dan memberitakan tentang Tuhan, tapi dirinya sendiri tak turut terlibat. Sungguh ironis! Seharusnya, saat kita memutuskan untuk mengimani bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat, kita harus turut larut didalamnya, sebagai pelaku firman. Memang sebagai orang percaya, kita mempunyai tugas untuk menyebarkan berita kesukaan tentang kerajaan sorga, serta penebusan Tuhan Yesus Kristus (Kis. 5:20), tapi jangan lupa bahwa kita pun memiliki kewajiban untuk melaksanakan seluruh firman Tuhan tersebut.

Banyak orang Kristen cuma bisa mengajari orang lain, tapi dirinya sendiri tak mau melakukannya. Begitu pula para orang tua yang kerap melarang anaknya melakukan kejahatan, tapi mereka sendiri lelap dalam kelakukannya yang buruk. Tidak jarang kita dengar nasihat orang tua kepada anaknya untuk tidak merokok, tapi mulutnya sendiri tetap ngebul tak karuan. Konyolnya lagi, dengan enteng mereka berkata, “jangan seperti Bapak!” Aneh memang. Keimanan kita harus benar-benar dan sungguh-sungguh diterapkan dalam perkataan dan perbuatan. Jangan cuma rajin ke gereja, belajar tentang firman Tuhan, tapi tanpa penerapan. Sebab, iman tanpa perbuatan sama dengan mati dan tak berarti apapun (Yak. 2:18-26). Artinya bahwa pemahaman kita tentang firman Tuhan hendaknya mampu kita jabarkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Seorang calo hanya mampu berteriak-teriak saja mengajak orang untuk turut dalam kendaraan. Ia tak pernah bisa sampai ke tempat tujuan, karena ia tak pernah ikut naik. Begitu pula Kristen yang hanya bisa ngomong atau berkhotbah sekalipun, menjelaskan sedetail mungkin tentang kerajaan sorga, tapi ia tak pernah melakukan firman Tuhan dengan benar, seperti yang dikatakannya, sama saja seperti calo tersebut. Ia pun tak akan pernah sampai ke kerajaan Sorga.

Doa: Tuhan Yesus,mampukan kami untuk dapat menjadi pelaku-pelaku firmanMu yang setia,menjadi surat terbukanya Kristus. Amin
IMAN AKAN BERTUMBUH DALAM DIRI ORANG PERCAYA YANG MELAKUKAN SEGALANYA SETURUT FIRMAN TUHAN

e premte

PEMELIHARAAN TUHAN

Bacaan: Ulangan 11:12



"Suatu negeri yang dipelihara oleh Tuhan, Yesus mu: Mata Tuhan, Yesus mu,
tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun."



Firman Tuhan di atas, menjelaskan bahwa bangsa Israel menghadapi saat-saat penting hidup mereka, baik sebagai bangsa maupun pribadi. Kenapa? Karena mereka akan memasuki dan meninggalkan perjalanan panjang di gurun, selama 40 tahun. Perjalanan tersebut sangat melelahkan, untuk memasuki ke tahapan baru, yaitu tanah perjanjian. Tanah perjanjian Yesus tersebut berada di tengah-tengah padang gurun, yang sangat subur dan diberkati Yesus. Tanah Kanaan tersebut mendapat suplai air dari danau Galilea cukup luas dan berair jenih.
Perjalanan tersebut dipimpin langsung oleh Yesus, dengan menempatkan Nabi Musa di tengah-tengah bangsa yang kerap melakukan pemberontakan kepada Yesus. Melalui proses pembentukan Tuhan, Musa dididik Tuhan, sehingga akhirnya Musa menjadi seorang yang sangat lemah lembut. Pemberontakan- pemberontakan sering muncul pada bangsa Israel tersebut menentang kepemimpinan Musa. Karena itu ia selalu mengarahkan, membimbing supaya mereka dapat hidup dengan baik di Tanah Kanaan. Tetaplah hidup di dalam firman Yesus (ayat 8).
Meski Musa tak turut masuk ke Kanaan, tapi nasihatnya untuk selalu dalam lingkup firman Tuhan, merupakan nasihat yang sangat berguna bagi bangsa Israel. Begitu pula hendaknya bagi kita saat ini. Bukankah sangat baik, jika kita selalu hidup seturut firman Yesus. Tetapi, sangat banyak manusia sekarang ini lebih memilih hidup jauh dari Yesus.
Bukankah banyak pengalaman indah saat kita mau berjalan bersama Yesus. Bahkan masa depan kita pun telah dipersiapkanNya (ayat 9-12a), berkat-berkat Yesus akan kita terima, asal kita setia dan tekun di dalam Tuhan. Kesulitan dan tantangan pasti selalu ada, tetapi itu bukan alasan bagi kita untuk menjauh daripadaNya. Ingat ketika orang Israel mengintai tanah Kanaan (Bilangan 13:1-33), yang menyebutkan bahwa musuh bangsa Israel adalah bangsa-bangsa yang besar maksudnya adalah tantangan yang besar (2 Timotius 3:1).
Tuhan pasti akan memelihara kita senantiasa. Setiap kesulitan, di dalam hidup kita jangan membuat putus asa atau lemah iman. Sebaliknya, kita harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, banyak belajar firman Yesus agar iman kita diteguhkan. (nl)

Doa: Terimakasih ya Tuhan atas pemeliharaan- Mu dalam hidup kami. Karena itu kami tidak akan kuatir lagi karena kami tahu Engkau bersama kami. Amin!
PEMELIHARAAN TUHAN NYATA BAGI ORANG PERCAYA KETIKA IA BERSERAH SEPENUHNYA

e enjte

Bersukacita Senantiasa

Bacaan: I Tesalonika 5:16-18



"Bersukacitalah senantiasa." (I Tesalonika 5:16)

Banyak orang mengalami depresi, stres karena gejolak ekonomi yang hampir-hampir tidak terkendalikan lagi saat ini. Putus asa dan mungkin mengambil jalan pintas bunuh diri. Sedangkan firman Tuhan mengajar kepada anak-anak Tuhan agar tetap mengucap syukur dalam segala hal. Mungkin ada orang berkata, "Kamu bodoh, bagaimana saya dapat mengucap syukur kalau usaha sedang kacau!".
Mari kita belajar dari firman Tuhan, tentang menghadapi kehidupan ini, sehingga kita bisa memahami dan mengerti tentang banyak hal yang diajarkanNya. Pertama, mengucap syukurlah dalam segala hal. Sudah rugi kok mengucap syukur lagi, bagaimana mungkin itu dapat dilakukan? Mungkin saja kita lakukan, jika kita punya hati yang tulus, dan menyadari bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari Tuhan.
Kemudian berdoalah senantiasa. Ada beberapa orang berkata, ya saya sudah berdoa terus, tetapi mana jawabannya? Doa merupakan nafas kehidupan rohani orang percaya. Tuhan menjawab doa sesuai waktunya dan dengan caranya. Berdoa bukan berarti persoalan kita langsung selesai begitu saja. Perlu hikmat Tuhan untuk menghadapinya segala persoalan.
Lalu bersukacitalah senantiasa. Bagaimana kita bisa bersukacita, mana sedang dilanda kesulitan ekonomi, penyakit, lalu persoalan keluarga, mana mungkin bisa? Secara manusiawi mungkin kita akan merasa gentar dengan berbagai persoalan tersebut. Tetapi, ketika kita melakukannya penuh dengan kerelaan, serta percaya bahwa Tuhan akan bertindak bagi kita, maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita. Sebab, Yesus sendiri yang menjanjikan bahwa Dia akan memberi kelegaan kepada orang yang mau berserah padaNya.
Kelihatannya mengucap syukur, berdoa dan bersukacita itu mudah, tetapi dalam prakteknya memang sulit dilakukan. Tetapi, kita jangan menyerah dalam kesulitan tersebut. Secara logika terasa sulit, tetapi ketika kita mau mengandalkan iman, dan berpegang teguh dengan firman Tuhan, niscaya semuanya akan bisa kita lalui. Jadi, bersukacitalah selalu, dan berserahlah pada Tuhan, karena itu menyukakan hati Tuhan. (tlt)


Doa: Tuhan ajar kami selalu mengucap syukur, berdoa dan bersukacita senantiasa di dalam segala perkara. Amin
HATI YANG SELALU MENGUCAP SYUKUR DAN BERSUKACITA PASTI MAMPU MERAIH JANJI-JANJI TUHAN


Doa Untuk Anda

Apakah Anda Ingin mendapat kiriman text Doa-Satu-Menit setiap hari ? Kirim Email Kosong ke : doa-satu-menit-subscribe@yahoo.com
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)

Jika Kamu di Surabaya, Stay Tuned at

  • Bahtera Yuda at 96.4 MHz
  • Bethany FM at 93.8 MHz
  • Nafiri FM at 107.10 MHz

Firman Tuhan Untuk Anda

"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yohanes 6:51)




Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. (Yohanes 10:14-15)




“Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)




Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yohanes 11:25-26)




Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)




“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakan lah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)




-----000000------00000------00000---------