Masih belum menemukan apa yang Anda cari? Masukkan kata kunci pencarian Anda untuk mencari artikel yang ada di Blog ini:

Jodoh Yang Sesuai Kehendak Tuhan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Mengasihi Diri Sendiri

Mengasihi Diri Sendiri

BERSYUKUR KARENA DISELAMATKAN

BERSYUKUR KARENA DISELAMATKAN

e shtunë

02.KEPADA ALLAH, BAPA YANG MAHAKUASA, PENCIPTA LANGIT DAN BUMI.

1. Allah

Dalam masyarakat Pancasila setiap orang berusaha mengetahui dan mengenal Allah. Ternyata tiap-tiap agama yang ada di negara Indonesia mempunyai pengertian yang tidak sama tentang Allah. Masing-masing berusaha memberikan pengertian yang sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Allah, sebagaimana yang dikenal dalam iman kristen adalah Allah yang berkenan “memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” (Kisah Para Rasul 17:25). Bahkan, Allah dalam iman Kristen adalah Allah yang berkenan menyatakan diri kepada manusia. Melalui pernyataan ini Allah tidak hanya sekedar ingin memperkenalkan diri kepada manusia. Tetapi Allah juga ingin menyatakan rahasia kehendakNya, yaitu karya penyelamatan.

Mengenal Allah tidak sama artinya dengan mengetahui Allah. Untuk mengetahui Allah tidak perlu beriman. Melalui pengetahuannya seseorang bisa mengetahui Allah, hanya melalui iman yang benar. Tetapi juga harus diingat bahwa Allah tetap Allah “yang bersemayam dalam terang yang tidak terhampiri; seorang pun tidak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (I Timotius 6:16). Pengertian ini tidak berarti bahwa keberadaan Allah merupakan sesuatu yang selalu diliputi misteri atau serba rahasia. Allah dalam mewujudkan kehendak dan rencanaNya justru berkenan menyatakan diri sebagai manusia, yaitu dengan perantaraan Yesus Kristus. Meskipun demikian keberadaan Allah tetap tidak terbatas. Karena keberadaanNya yang tidak terbatas maka kehadiranNya juga tidak terbatas. Allah dapat hadir di mana-mana sebagaimana yang dikehendaki. Allah juga berkenan hadir dalam hidup manusia. Kehadiran Allah tidak bisa dibatasi dalam ruang dan waktu. Maka dari itu seperti yang dikatakan oleh penulis Kisah Para Rasul bahwa, “di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kisah Para Rasul 17:28).

Allah berkenan hadir dalma hidup manusia karena menghendaki agar manusia menemukan kebenaran dan kebahagiaan. Oleh sebab itu makna yang paling luhur dalam martabat manusia adalah dalam panggilanNya untuk memasuki persekutuan dengan Allah.

2. Bapa yang Maha Kuasa

Pada dasarnya manusia selalu berusaha mengenal Allah dengan baik. Dalam iman Kristen, Allah seringkali juga disebut sebagai Bapa. Tuhan Yesus ketika mengajar para murid berdoa juga menyebut Allah sebagai Bapa. Bahkan bangsa Israel sebenarnya juga sudah mengenal Allah sebagai Bapanya (lihat Keluaran 32:6)

Dengan disebut sebagai Bapa, menunjukkan adanya dua hal yang ingin disampaikan kepada kita. Pertama, bahwa Allah adalah awal mula dari segala sesuatu dan yang kekuasaanNya penuh kemuliaan. Kedua, mencerminkan kebaikan dan kepedulian Allah atas umat manusia. Kebaikan Allah ini kadang-kadang juga digambarkan dalam sebutan “ibu” bagi Allah (lihat Yesaya 66:13 ; Mazmur 131:2). Ini berarti keberadaan Allah sifatNya melebihi keberadaan laki-laki dan perempuan.

Sebagai Allah yang hidup dan yang telah menyatakan diri sebagai Bapa dan atau Ibu, Ia tidak hanya mempunyai hidup dan kekuasaan yang besar. Tetapi juga berbeda total dengan manusia dan makhluk lain. Namun demikian Allah tetap menyatakan diri sebagai Allah perjanjian. Dalam janjiNya, Allah merencanakan karya keselamatan bagi umat manusia. Sehingga apa yang dilakukan oleh Allah semata-mata demi keselamatan manusia sendiri.

Oleh karena itu dengan beriman kepada Allah akan menumbuhkan rasa aman. Bahkan iman akan memberikan kesadaran bagi manusia bahwa hidupnya akan ditampung oleh Allah. Ini tidak berarti bahwa beriman kepada Allah akn menjadikan manusia kehilangan martabatnya. Justru dengan beriman kepada Allah akan membawa manusia kepada cara hidup yang lebih kreatif dan bermartabat.

3. Pencipta Langit dan Bumi

Tidak seorangpun yang mengetahui pada tahun berapa alam semesta ini diciptakan. Alkitab bukanlah suatu buku sejarah yang menguraikan sejarah dan proses penciptaan atau terjadinya alam semesta ini. Meskipun demikian Tuhan tidak membiarkan manusia selalu bertanya. Dalam kitab Kejadian 1:1 dengan jelas menyebutkan bahwa sejak semula Allah telah berbuat sesuatu atas alam semesta. Melalui firmanNya yang penuh dengan kuasa, Allah berkenan menciptakan segala sesuatu sehingga alam semesta yang semua “tidak terbentuk dan kacau balau”(kejadian 1) “diubah” menjadi dunia yang teratur dan Tuhan melihat dalam keadaan baik (lihat Kejadian 1:10,12,18,21,25).

Kalau melihat urut-urutan peristiwa penciptaan seperti yang diuraikan dalam kitab Kejadian memang kelihatan sangat kacau bahkan sangat tidak masuk akal. Misalnya, pada hari pertama Allah menciptakan terang. Sedangkan matahari yang adalah sumber terang baru diciptakan pada hari yang keempat. Bumi ini berbentuk bentangan yang ditutupi oleh langit. Tetapi seperti yang telah dijelaskan di depan, bahwa Alkitab, khususnya kitab Kejadian tidak bermaksud menulis proses penciptaan menurut ilmu pengetahuan.

“Proses” penciptaan yang seperti yang tertulis dalam kitab Kejadian tidak bisa dilepaskan dari kerangka karya Allah sendiri. Yaitu awal dari rencana keselamatan Allah atas manusia. Itulah sebabnya dalam menulis “proses” terjadinya alam semesta sama sekali tidak mementingkan kebenaran secara ilmiah. Penulis kitab Kejadian ingin memberikan kesaksian bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini merupakan karya Allah.

Untuk menjelaskan asal usul alam semesta, para ahli ilmu pengetahuan, khususnya astronomi mempunyai dua teori. Teori pertama dikenal dengan nama Teori Ledakan Besar (Big Bang) dan teori kedua adalah Teori Keadaan Statis (Steady State). Teori ledakan besar dikemukakan pada tahun 1929 dan sampai sekarang masih banyak orang yang meyakini kebenarannya. Menurut teori ini terjadinya alam semesta dimulai dengan adanya gumpalan materi yang sangat padat dan panas. Pada suatu saat gumpalan materi ini meleddak dan kemudian menjadi dingin. Peristiwa ledakan yang maha dahsyat diperkirakan terjadi sekitar 10 sampai 20 milliar tahun yang lalu. Dalam proses pendinginan materi yang meledak tadi terwujudlah alam semesta ini.

Teori kedua menjelaskan bahwa alam semesta ini terus berkembang dan proses perkembangannya tidak akan pernah berakhir. Kedua teori ini tidak berhubungan langsung dengan iman dan penciptaan seperti yang tertulis dalam kitab Kejadian. Sebab teori-teori ini merupakan perkiraan manusia yang sebenarnya, kebenarannya belum bisa dibuktikan.

Dengan demikian Alkitab hanya ingin menegaskan bahwa dunia yang sudah diciptakan oleh Allah merupakan kemuliaan Allah sendiri. Jadi bukan merupakan suatu peristiwa yang terjadi secara acak atau kebetulan atau karena Tuhan membutuhkan adanya dunia.

Ilmu pengetahuann dalam upaya menguak rahasia terjadinya alam semesta memberi kesan bahwa dunia ini ada karena terjadi secara kebetulan saja. Meskipun demikian, jawaban yang diberikan oleh ilmu pengetahuan masih belum memuaskan manusia. Masih ada sesuatu yang belum bisa dijawab sepenuhnya oleh ilmu pengetahuan. Para ilmu pengetahuan belum bisa mengetahui bagaimana dari tidak ada bisa menjadi ada. Namun demikian tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan telah melakukan pekerjaan yang sia-sia. Banyak sumbangan yang bisa dan telah diberikan oleh ilmu pengetahuan sehingga manusia semakin mendapatkan gambaran, betapa kuasanya Allah, Sang Pencipta yang sejati.

Karya Allah yang menciptakan tidak berhenti ketika alam semesta sudah tercipta dan tertata dengan baik. Sebagai puncak karya Allah, Sang Pencipta adalah menjadikan manusia (lihat Mazmur 8:1 dst). Kehadiran manusia dalam alam semesta, ciptaan Tuhan bukan sekedar melengkapi ciptaan Allah. Manusia diberi tugas dan tanggung jawab yang besar, yaitu memelihara dan mengelola alam semesta. Sesuai dengan maksud penciptaan maka kehadiran manusia tidak dapat dilepaskan dari rencana keselamatan Allah sendiri.

Pada mulanya memang hanya seorang manusia saja. Namun Allah tidak menghendaki manusia itu seorang diri saja. Maka Allah menjadikan seorang manusia lagi, yang sepadan dan mempersekutukan mereka dalam persekutuan yang diikat ddalam kasih. Dengan demikian awal dari sejarah dunia ini tidak dimulai dengan proses penciptaan, tetapi justru dari manusia yang sudah dipersekutukan dengan sesamanya yang sepadan oleh Allah. Allah memberikan hak dan wewenang sepenuhnya kepada manusia dalam mengelola dan memelihara ciptaan Tuhan, yaitu dunia yang sudah tertata dengan baik.

4. Manusia sebagai citra Allah

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang mulia dan sekaligus sebagai mahkota dari seegala ciptaanNya (Mamur 8:1 dst). Sebagai mahkota ciptaan Tuhan, manusia mendapat tugas dan tanggung jawab yang besar, yaitu mengelola alam semesta demi kesejahteraan bersama.

Sebagai mahkota ciptaan Tuhan manusia dijadikan menurut citra atau gambar Allah (Kejadian 1:26-28). Tidak berarti bahwa keberadaan manusia addalah sama seperti Allah. Manusia juga bukan sebagai duplikat atau foto copy dari Allah. Hakekat Allah adalah roh dan tidak terbatas. Hakekat manusia bersifat jasmani dan dibatasi oleh ruang dan waktu.

Sebagai makhluk yang dijadikan, manusia dijadikan dalam kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Alkitab tidak meengajarkan bahwa manusia itu terdiri dari badan, jiwa dan roh seperti yang diajarkan oleh filsafat Yunani kuno. Manusia dijadikan oleh Allah menurut citra/gambar Allah dalam wujud jasmani dan sekaligus rohani. Alkitab menjelaskan masalah tersebut dalam bentuk kiasan, yaitu ketika Allah berkenan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kejadian 2:7) . Demikianlah, manusia menjadi makhluk yang hidup seutuhnya seperti yang dikehendaki oleh Allah sendiri.

Sebagai citra/gambar Allah berarti manusia memiliki martabat sebagai pribadi. Dia atau manusia bukan hanya sesuatu tetapi seseorang yang dalam hidupnya harus bisa mencerminkan kehendak Allah. Allah penuh kasih dan setia, adil benar. Maka kasih setia, keadila dan kebenaran Allah juga harus tercermin dalam hidup manusia.

Manusia dijadikan oleh Allah sebagai laki-laki dan perempuan (Kejadian 2:18,23). Artinya, manusia dijadikan dalam persamaan yang sempurna. Di satu pihak, sebagai pribadi manusia di pihak lain dalam keberadaannya sebagai laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki dan perempuan, keduanya juga sudah dipersekutukan dalam ikatan kasih.

Sesuai dengan rencanaNya, manusia dipanggil untuk, “mengolah bumi dan segala isinya dan sekaligus memenuhi bumi ini” (Kejadian 1:28). Manusia sebagai penguasa di atas bumi yang diciptakan Allah. Sebagai penguasa manusia bertindak sebagai wakil Allah. Berarti dalam diri manusia ada panggilan Allah untuk ikut ambil bagian dalam karya Allah.

Sebagai makhluk yang dijadikan oleh Allah, manusia ditempatkan dalam sebuah taman, yaitu Firdaus. Kehidupan dalam taman Firdaus mencerminkan suasana kehidupan yang bebas, selaras dengan kehendak Allah, selaras dengan dirinya sendiri. Bahkan manusia juga harus selaras dengan alam semesta. Sebagai makhluk yang bebas, manusia bertanggung jawab kepada Allah. Jelas bahwa manusia bukan robot. Allah tidak bermaksud menciptkan robot yang berakal, tetapi makhluk sepenuhnya sadar akan tugas dan tanggung jawab yang besar dalam membangun kehidupannya di dunia.

Di sinilah martabat manusia akan menjaddi nampak, yaitu manusia yang mempunyai hak dan kewajiban. Oleh sebab itu Allah menghendaki juga agar manusia bisa menghargai hak dan kewajiban sesamanya di dalam kehidupan bersama.

Sejak Charles Darwin mencetuskan teori evolusinya pada tahun 1859. Manusia mulai mempertanyakan kebenaran kesaksian Alkitab. Banyak orang yang kemudian meragukan keberadaan Allah dan percaya bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini merupaka proses yang alamiah saja.

Ajaran tentang penciptaan dan teori evolusi sebenarnya merupakan dua pendekatan yang berbeda atas dunia. Bahkan juga membicarakan dua aspek yang berbeda. Teori evolusi mengungkapkan kenyataan yang nyata dari dunia, sedangkan ajaran penciptaan berbicara tentang dimensi baru yang harus dihayati sebagai pendasaran dari kenyataan yang nyata tadi. Teori evolusi hanya mau dan bisa menjelaskan perkembangan dari sesuatu yang ada.

Dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan kita tidak boleh berpikir bahwa pada mulanya Allah yang menciptakan alam semesta ini kemudian Allah beristirahat dan selanjutnya ilmu pengetahuan yang berperan atau melanjutkan. Allah tidak pernah beristiraha. Penemuan-penemuan di bidang ilmu pengetahuan seharusnya mendorong manusia untuk lebih menghargai dan mengagumi karya Allah.


5. Manusia Jatuh Dalam Dosa

Kebaikan dan karya Allah tidak terbatas. Namun manusia meremehkan dan sekaligus menyalahgunakan kebaikan dan karyaNya. Manusia tidak menghargai kedudukannya yang mulia di antara segala ciptaan Allah. Hanya karena ingin menjadi sama dengan Allah, manusia terbujuk oleh godaan iblis supaya memberontak melawan Allah ddan sekaligus memutuskan hubungannya dengan Allah (Kejadian 3:5-6,22). Inilah yang disebut dengan dosa.

Kata dosa, dalam bahasa Yunani, hamartano, mempunyai beberapa arti :

(1).meleset, meyimpang dari sasara, (2). Kehilangan tujuan lihat Keluaran 20:20; Amsal 8:36 dan (3). Bengkok, keliru, berbuat salah.

Di samping kata hamartano, juga ada kata anomia yang artinya : (1). Tidak adanya kepercayaan kepada pribadi yang memberi hukum, ketidaktaatan, ketidaksetiaan (lih I Yohanes 3:3 ; 4:8), (2) memberontak terhadap kekuasaan yang syah ( I Raja-raja 12:19; 2 Raja-raja 8:20). Juga pemberontakan terhadap hukum Tuhan (Yesaya 1:12 ; Hosea 8:1)

Jadi yang dimaksud dengan pengertian dosa bukan hanya soal salah atau benar, juga bukan soal kekhilafan, tetapi menyangkut hubungan dengan Allah yang baik dan benar itu. Dalam pemberontakkannya kepada Allah manusia ingin menjadi sama seperti Allah dan sekaligus memutuskan hubungannya dengan Allah.

Tuhan Yesus, melalui perumpamaan anak yang hilang dengan tepat telah merumuskan arti dosa (Lukas 15:11-dst). Dalam ayat 12 disebutkan bahwa anak yang bungsu meminta warisan kepada ayahnya. Padahal ayahnya saat itu masih hidup dan setelah menerima bagiannya ia segera meninggalkan rumahnya dan menghambur-hamburkan kekayaan yang ia miliki. Dengan kalimat tersebut, menurut Tuhan Yesus yang dimaksud dengan dosa tidak lain adalah, pemberontakan dan pemutusan hubungan dengan Allah dan selanjutnya hidup di jalan yang tidak benar, atau menyimpang dari tujuan yang benar. Dengan demikian Alkitab tidak menyampaikan asal-usul dosa.

Dalam kejadian 3 memang diceritakan tentang peranan ular dalam usaha membujuk manusia. Tetapi di sini, ular tidak dimaksudkan sebagai lambang iblis. Dimasukkan unsur ular dalam kisah jatuhnya manusia dalam dosa supaya proses jatuhnya manusia dalam dosa bisa dikisahkan. Perlu juga diperhatikan bahwa ular adalah binatang darat yang diciptakan oleh Tuhan. Berarti ular bukan sebagai kekuatan illlahi. Jadi sumber kehancuran manusia bukan dari Allah, tetapi justru dari manusia sendiri.

Akibat dari pemberontakkannya, hubungan dengan Allah yang semula ada dalam suasana persekutuan yang serasi menjadi terputus. Manusia menjadi makhluk yang terasing di hadapan Allah. Ia dikuasai iblis dan sekaligus telah menjadi budaknya (Roma 6:17, 20). Manusia gagal dalam mewujudkan kehendak dan rencana Allah dalam hdupnya. Jatuhnya manusia dalam dosa mengakibatkan kebinasaan bagi seluruh ciptaan Allah. Tidak hanya manusia saja yang hancur, tetapi seluruh dunia ini (lihat Roma 5 :12-21).


6. Manusia Merindukan Keselamatan


Dosa telah menjadikan manusia terpisah dengan Allah. Sejak itu hidup manusia tidak lagi dalam suasana yang selaras lagi, baik hubungannya dengan Allah maupun hubungannya dengan sesamanya. Di antara manusia muncul suasana saling membenci, penuh kekerasan , kegelisahan dsb. Manusia juga kehilangan hubungan yang selaras dengan ciptaan Allah yang lain. Kodrat manusia yang semula sebagai citra / gambar Allah telah rusak dan ditaklukkan leh kebodohan, kesengsaraan bahkan juga berada di bawah kekuasaan maut. Di pihak lain, Allah pada dasarnya tidak menghendaki hidup manusia menjadi binasa, “Allah tidak menghendaki kematian pendosa, melainkan supaya dia bertobat dan hidup” (Ezra 3:11), demikian yang dikehendaki oleh Allah atas manusia.

Sejak manusia jatuh dalam dosa, berusaha menemukan kembali martabatnya sebagai ciptaan Allah yang mulia namun tidak pernah beerhasil. Cara yang ditempuh bermacam-macam. Misalnya, dalam agama primitif, percaya akan adanya kuasa-kuasa gaib yang menguasai dan mengatur hidup manusia dan menyelamatkannya. Manusia juga berusaha menemukan kembali keselarasan hidupnya, baik kepada sesama maupun ciptaan yang lain melalui upacara-upacara yang ditujukan kepada sesuatu yang dianggap berkuasa. Oleh mereka disebut sebagai dewa-dewi. Ada dewa surya, dewa agni, dewi sri, dewi pertiwi, dsb. Mereka juga percaya bahwa di puncak-puncak gunung, di pohon-pohon tertentu adalah tempat para dewa-dewi bersemayam. Di samping mereka percaya kepada dewa-dewi yang mempunyai kekuasaan juga percaya adanya dewa tertinggi yang kekuasaannya melebihi kekuasaan dewa-dewi tadi. Tetapi sayangnya, dewa tertinggi berada “jauh” dari hidup manusia. Sebagai sarana untuk berhubungan dengan dewa-dewi dibutuhkan sesaji atau korban. Bahkan tidak jarang pula manusia melakukan upacara dengan cara menyiksa diri dengan harapan agar dewa tertinggi mau memperhatikan dirinya.

Di lain pihak, Allah tetap setia kepada manusia. Seperti yang disaksikan oleh Ezra, bahwa Allah pada dasarnya tidak menghendaki manusia mengalami kematian akibat dari dosanya (Ezra 3:11). Dalam Roma 6:1-23, Paulus dengan jelas menguraikan bahwa dosa tidak hanya merusak suasana kehidupan manusia, tetapi juga memperbudak manusia.

Karena manusia telah memutuskan hubungan dengan Allah dan merusak hubungannya dengan sesama dan ciptaan yang lain dan dari dirinya sendiri tidak mampu menyelamatkan hidupnya dari kekuasaan dosa, maka sekarang Allah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan dan memulihkan kembali martabat manusia. Inisiatif dari Allah sudah nampak dari janjiNya (lihat Kejadian 3:15). Janji itu semakin dipertegas ketika Allah berkenan memanggil Abraham dari Ur-Kasdim. Disini Allah sudah mempersiapkan rencana karya keselamatanNya. Janji yang disampaikan kepada Abraham diteguhkan kembali dalam peristiwa pemberian Kesepuluh Hukum kepada bangsa Israel ketika berada di gunung Sinai dalam perjalanan pulang dari Mesir ke tanah yang dijanjikan Allah ( Keluaran 20:1-17, Ulangan 5:1-21). Meskipun demikian, usaha Allah dalam menyelamatkan manusia “kurang” mendapatkan tanggapan yang baik dari manusia. Berulangkali umat Allah melanggar ketetapan-ketetapan Allah. Maka Allah juga berkenan mengutus nabi-nabiNya untuk mengajar dan mengingatkan bangsa Israel. Karya penyelamatan Allah atas manusia mencapai puncaknya dalam kedatangan Yesus. Dengan perantaraan Tuhan Yesus, Allah berkenan menyatakan diri kepada manusia (Yohanes 3:16, Roma 3:23-26; 5:15, 17, 21).

Kehadiran dan pernyataan Allah dalam diri Tuhan Yesus menunjukkan besarnya perhatian Allah kepada manusia. Tetapi keberhasilan “usaha” Allah dalam menyelamatkan manusia juga tergantung dari keputusan manusia sendiri. Apakah manusia mau menerima uluran tangan Allah ? Yang jelas Allah tidak akan pernah memaksakan kehendakNya kepada manusia.

01. Aku Percaya

Pengakuan Iman Kristen diawali dengan rumusan yang mengakui adanya Allah. Dalam rumusan pengakuan iman dengan sengaja dipakai kata, Aku, bukan, Kami. Dipandang dari sudut tata bahasa Indonesia, maka kata, Aku berfungsi sebagai kata ganti pertama tunggal. Sedangkan kata, Kami berfungsi sebagai kata ganti pertama jamak. Maka jika dalam rumusan pengakuan iman dipakai kata Aku, maka yang mengakui iman kepada Allah bukan kelompok atau sekelompok orang, tetapi justru diri sendiri sebagai pribadi yang berdiri sendiri di hadapan Allah.

Dengan mengucapkan “Aku percaya …”, berarti sebagai orang yang beriman atau percaya kepada Allah harus berani menyatakan pengakuannya di hadapan orang lain, Mazmur 118:6, TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?. Sebab belum tentu orang lain juga mengakui Allah yang sama seperti yang disembah oleh orang Kristen.

Beriman kepada Allah berarti menundukkan seluruh pikiran dan kehendakNya kepada Allah. Abraham bersedia meninggalkan Ur-Kasdim menuju tempat yang akan ditunjukkan oleh Tuhan karena percaya kepada kehendak Allah sendiri (Kejadian 12). Dalam peristiwa ini, Abaraham tidak lagi mengandalkan kehendak dan pikirannya sebagai manusia, tetapi sepenuhnya mengandalkan kehendak dan rencana Allah sendiri. Karena imannya kepada Allah yang begitu besar maka Abraham tidak hanya menjadi orang yang beriman atau orang yang percaya, tetapi juga akhirnya menjadi Bapa bagi orang percaya. Demikian juga dengan kisah Rut, wanita dari bangsa Moab. Rut berani mengambil keputusan yang berat, yaitu meninggalkan sanak keluarganya di Moab dan ikut Naomi ke Israel. Maka percaya atau beriman juga merupakan suatu ikatan pribadi manusia sebagai pribadi dengan Allah dan sekaligus mempercayai segala kebenaran yang telah dinyatakan oleh Allah sendiri.

a. Manusia mencari Allah

Manusia setiap hari melihat kenyataan yang sulit dimengerti, yaitu adanya siklus kehidupan yang berkisar sekitar kelahiran dan kematian. Dua peristiwa ini dirasakan sangat bertolak belakang dan manusia hidup di antaranya. Kelahiran seorang anak manusia umunya disambut dengan sukacita, sebaliknya peristiwa kematian seorang manusia dirasakan menyedihkan, menyakitkan hati dan juga dianggap sebagai peristiwa yang tidak masuk akal serta mengerikan.

Oleh sebab itu dirasakan dan dianggap sebagai sesuatu yang berharga. Manusia ingin menikmati hidupnya dengan kebahagiaan. Maka dalam diri manusia selalu timbul kerinduan untuk mempertahankan hidupnya dengan segala cara. Salah satu cara yang dilakukan adalah menciptakan hubungan yang baik dan selaras dengan sesama dan lingkungan. Bahkan juga dengan dunia yang berada di luar jangkauan akal budinya, atau sering disebut sebagai dunia akodrati.

Bersamaan dengan itu pula manusia mulai bertanya-tanya, “Apa arti dan tujuan hidup ini ? Mungkinkah kebahagiaan bisa terwujud ? Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan. Demikian juga jawabannya bisa beragam. Hanya saja dari sekian banyak jawaban ternyata tidak ada yang bisa memuaskan hati dan kerinduan manusia. Akhirnya manusia cenderung mengakui adanya Yang Mahakuasa, yang disebut sebagai Tuhan. Kepada-Nya manusia berusaha mempercayakan seluruh perjalanan hidupnya .

Meskipun demikian tidak berarti manusia sudah puas dan berhenti bertanya. Bahkan sekarang muncul pertanyaan baru, yaitu, “Siapakah Dia itu? Apa pula maksud dan rencanaNya sehingga menciptakan alam semesta dan manusia? Kalau memang Dia yang menciptakan segala-galanya, mengapa dalam kenyataan harus ada siklus kehidupan dalam hidup manusia ? Bahkan juga ada yang mulai berpikir, apakah percaya kepada Allah itu bisa dipertanggungjawabkan?

Munculnya pertanyaan seperti itu dari manusia tidak lain karena manusia itu sendiri yang tidak bisa dilepaskan dari kodratnya. Manusia, menurut kodratnya memang merupakan makhluk yang selalu merenungkan kebenaran adanya Illahi. Di samping itu kemajuan iptek telah mendorong manusia berpikir secara rasional. Segala sesuatu yang tidak masuk akal akan diragukan kebenarannya.

Sebagai makhluk manusia yang mempunyai akal. Ini menunjukkan bahwa manusia manusia bukan sekedar makhluk yang kedudukannya sama dengan makhluk lain. Dengan akalnya manusia bisa berpikir dan merenungkan tujuan hidupnya, lihat .Mazmur 8. Sebagai makhluk yang berakal,manusia mempunyai cita-cita, rencana dan juga memikirkan tujuannya. Hanya saja tidak semua yang dipikirkan, dicita-citakan dapat dijawab dan terpenuhi. Tidak aneh kalau pada akhirnya ada yang beranggapan bahwa hidup ini sebagai misteri.

b. Allah yang telah menyatakan diri

Allah yang dikenal dalam iman Kristen sebagaimana yang disaksikan dalam Alkitab adalah Allah yang telah menyatakan diri kepada manusia (bangsa Israel) sebagai Allah yang esa (Kel. 6:4-5) “Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing,

tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku”. Sebagai Allah yang esa berkenan memanggil manusia supaya senantiasa berpaling kepadaNya, Yesaya 45:22-24, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam TUHAN. Semua orang yang telah bangkit amarahnya terhadap Dia akan datang kepada-Nya dan mendapat malu”.

Sebagai yang esa, Allah juga Allah yang hidup. Dalam Keluaran 3:6, Allah berkenan menyapa Musa, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Iskhak dan Allah Yakub”. Di sini Allah berkenan menyatakan kepada Musa bahwa sebagai Allah yang hidup selalu akan melakukan kehendakNya tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat. Meskipun demikian Allah, manusia patut menaruh rasa hormat, pakering dhateng Gusti.

Lebih jauh lagi Allah berkenan menyatakan namaNya yang kudus. Kepada Musa Allah telah berfirman, “AKU ADALAH AKU” (Keluaran 3:13-15).

Menurut kepercayaan bangsa-bangsa Timur Tengah kuno, nama mengungkapkan hakekat seseorang, identitas pribadi dan juga menyangkut hidup dan matinya seseorang, identitas pribadi dan juga menyangkut hidup dan matinya seseorang. Oleh sebab itu tidak kepada setiap orang seseorang menyatakan namanya, kecuali pada orang terdekat atau orang yang dipercaya. Khawatir kalau orang yang mengetahui namanya itu akan mengetahui juga kelemahannya, sehingga ia akan mudah dikalahkan. Dengan memperkenalkan namaNya, berarti Allah berkenan menyatakan dirinNya, kehadiranNya dan kesetianNya kepada manusia.

Mengingat kehadiran Allah yang penuh dengan rahasia dan kemuliaanNya, manusia menjadi sadar akan kehinaannya. Ketika Musa berdiri di depan Allah, harus menanggalkan kasutnya dan menutupi mukanya, demikian juga dengan nabi Yesaya yang harus mengakui kehinaannya dengan berseru, “Celakalah aku, aku binasa. Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam”. (Yesaya 6:5).

KehadiranNya juga menunjukkan bahwa Allah tidak hanya bersemayam di tempat yang jauh. Tetapi Ia juga hadir di antara umatNya untuk menyatakan firman dan kebenaranNya.

“Mazmur 119:160. Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya.

II Samuel 7:28. Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu. “

Dengan perantaraan firman dan kehendakNya, Allah berkenan mengatur dan mengarahkan hidp manusia. Karena Allah selalu menepati firmanNya. Dengan beriman kepada Allah telah mendorong manusia supaya senantiasa berpaling kepadaNya. Sebab Dia adalah awal mula dan tujuan akhir manusia.

Selanjutnya Allah senantiasa menawarkan dan menyatakan diriNya kepada manusia. Tawaran ini mempunyai arti bahwa Allah pada dasarnya menghendaki agar manusia mau mempersekutukan diri dengan Allah. Tidak berarti bahwa ada persamaan antara Allah dengan manusia. Allah tetap Allah dan manusia tetap manusia. Tetapi sekaligus Allah bersekutu dengan manusia dan manusia bersekutu dengan Allah. Dengan ungkapan lain, Allah yang transenden atau yang melampaui segala sesuatu menjadi Allah yang imanen atau Allah yang hadir.

c. Alkitab

Allah yang disembah orang Kristen adalah Allah yang hidup dan yang senantiasa menyatakan kehadiranNya. Sebagai Allah yang hidup, ia juga menyapa manusia dalam bahasa manusia. FirmanNya yang disampaikan kepada manusia dalam bahasa manusia “dikumpulkan” dalam Alkitab. Melalui apa yang sudah tertulis dalam Alkitab, Allah bermaksud menyatakan DiriNya seutuhnya, Ibrani 1:1-3, Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, 1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi.

Oleh sebab itu Alkitab bukan sekedar sebuah buku yang hendak memuat kisah tentang asal-usul manusia dan makhluk hidup yang lain. Tetapi melalui firmanNya manusia diharapkan mendapatkan kekuatan, penghiburan dan inspirasi yang bermanfaat bagi hidupnya sehari-hari.

Sebagai Firman Allah yang telah dinyatakan dalam bahasa manusia, tidak berarti bahwa Alkitab merupakan wahyu yang langsung diberikan kepada orang tertentu, dalam hal ini para nabi. Alkitab lebih merupakan kesaksian iman umat Allah tentang iman yang sejati dan yang benar. Melalui kesaksiannya umat Allah – termasuk para penulis Alkitab – ingin menyatakan bahwa Allah telah berkarya sejak kekal. Maksud dan tujuan karyaNya tidak lain untuk keselamatan manusia.

Agama-agama lain, selain agama Kristen, pada umumnya memandang kitab sucinya sebagai wahyu yang langsung diturunkan oleh Allah kepada manusia melalui utusanNya. Sehingga apa yang tertulis dalam kitab suci juga dianggap sebagai sesuatu yang suci dan tidak boleh dirubah.

Kata “wahyu” merupakan kosakata yang diambil dari bahasa Arab yang sudah diindonesiakan. Dalam pandangan saudara-saudara yang beragam Islam, kata “wahyu” dibedakan dengan kata “ilham”. Wahyu adalah petunjuk dari Allah yang disampaikan melalui Nabi atau RasulNya dan ditujukan kepada orang banyak atau kepada manusia.

Sedangkan ilham adalah petunjuk, ajaran, pesan perintah Allah untuk orang yang menerima dan bukan untuk orang banyak. Tidak demikian wahyu menurut iman Kristen, wahyu leebih dekat dengan pengertian, pengalaman orang tertentu yang dipahami sebagai campur tangan Tuhan sendiri. Tuhan yang membuka kekhendakNya kepada manusia.

Meskipun Alkitab bukan sebagai wahyu Allah, seperti dalam pengertian pada umumnya, orang Kristen tetap diperbolehkan memandang Alkitab sebagai wahyu Allah. Sebagai wahyu dari Allah karena berkat Roh Kudus yang berkarya melalui orang-orang yang dipilih oleh Allah sendiri.

Pengakuan Iman

Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi,

dan kepada Yesus Kristus, AnakNya yang Tunggal, Tuhan kita.

Yang dikandung oleh Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria.

Yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,

Disalibkan, Mati dan Dikuburkan. Turun ke dalam Kerajaan Maut,

pada hari Ketiga Bangkit dari antara orang mati dan naik ke surga.

Duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa.

Dan akan datang dari sana, untuk menghakimi orang yang hidup dan mati.

Aku percaya kepada Roh Kudus.

Aku percaya kepada Gereja yang Am dan Persekutuan orang kudus.

Pengampunan dosa, kebangkitan daging dan hidup kekal.

Amien.

e enjte

Agama

Agama bisa didekati dari beberapa sudut pandangan. Sebagian orang beranggapan bahwa agama tidak lain sebagai dasar hidup manusia selama masih berada dalam dunia. Melalui agama perjalanan hidup manusia menjadi teratur dan terarah. Sebagian lagi ada yang beranggapan bahwa agama adalah sebagai salah satu sarana bagi manusia dalam menghadapi kenyataan kehidupan di dunia ini. Agama sebagai sarana disini yang dimaksudkan adalah untuk menjaga keseimbangan antara hidup yang jasmani dan yang rohani.

Sebenarnya sampai saat ini pengertian agama itu sendiri masih belum jelas. Ada pendapat yang menyatakan bahwa agama itu berasal bahasa Sansekerta; a-gama, yang artinya : tidak kacau. Dengan beragama diharapkan hidup manusia tidak lagi mengalami kekacauan. Kata, agama bisa juga didekati dari bahasa Latin. Kata agama merupakan terjemahan dari kata dalam bahasa inggris, religion. Kata religion berasal dari kata dalam bahasa Latin, religare. Kata religare itu sendiri mempunyai banyak arti. Arti yang pertama ialah, memperhatikan dengan teliti. Yang kedua, menggantungkan atau mengikatkan diri. Biasanya, selalu dikaitkan dengan apa yang dianggap sebagai yang ilahi. Berdasarkan pengertian tersebut, agama sering diartikan sebagai, keyakinan manusia kepada yang illahi di mana manusia dapat menggantungkan seluruh hidup dan harapannya serta memperhatikan kehendaknya dengan teliti.

Dalam kenyataan memang bisa dilihat bahwa manusia yang beragama selalu mempercayai adanya kekuatan dan kekuasaan yang bersifat akodrati. Biasanya yang akodrati itu dipersonifikasikan atau diwujudkan dalam berbagai bentuk. Ada yang mewujudkan dalam bentuk dewa-dewi. Sedangkan dalam iman kristen, yang akodrati disebut Allah.

Kalau diperhatikan dengan seksama, dalam tiap-tiap agama selalu ada dua hal yang sama, yaitu :

  1. Adanya pernyataan dari yang illahi. Yang illahi itu telah menyatakan diri sedemikian rupa sehingga bisa dikenal oleh manusia.
  2. Adanya jawaban dari manusia atas pernyataan dari yang illahi. Dalam iman Kkristen, pernyataan yang illahi adalah seperti yang disaksikan dalam Alkitab dan dalam kehadiran Yesus. Melalui kesaksian Alkitab orang Kristen dapat mengenal Allah.

MAKNA AGAMA

Agama, termasuk yang bukan agama Kristen, merupakan pengungkapan iman. Melalui agama yang dipeluknya seseorang dapat mengungkapkan imannya.Tiap-tiap agama dalam mengungkapkan imannya mempunyai ciri yang khas. Ungkapan iman Kristen tidak akan sama dengan ungkapan iman agama lain. Melalui agama, seseorang juga harus memperlihatkan sikap batin yang terdalam di hadapan Allah. Demikian juga dengan orang Kristen dalam hidupnya sehari-hari.

Sikap batin manusia di hadapan Allah dalam agama Kristen dituntut ikut bertanggung jawab atas kelestarian alam semesta yang sudah diciptakan oleh Allah. Manusia wajib mengelola alam semesta ini supaya bisa menghasilkan buah-buah yang baik dan sekaligus menjadi tempat yang layak untuk didiami. Oleh itu agama bukan sekedar ageman atau baju seperti diyakini oleh orang Jawa. Kalau agama hanya sekedar ageman berarti tiap orang bisa dengan seenaknya ganti ageman kalau selama yanga diyakini itu sudah tidak mampu memberi kepuasan batin lagi.

Karena yang pokok dalam agama adalah sikap batin, maka agama tidak boleh bersifat lahiriah. Agama yang bersifat lahiriah akan menjadi agama yang bersifat formalitas saja, agama KTP. Artinya, dalam menjalankan ritus-ritus agamanya hanya sekedar memenuhi kewajiban tanpa menyentuh hati yang terdalam.

Semua agama pada dasarnya mengajarkan tentang yang Illahi, atau tentang sesuatu yang diyakini sebagai yang Mahakuasa. Masing-masing agama mempunyai gambaran tersendiri tentang Yang Mahakuasa. Oleh sebab itu tidak mudah untuk membuat definisi agama. Iman dan agama saling berkait tetapi iman tidak pernah bersifat umum.

Di negara Indonesia ada 6 agama yang diakui oleh pemerintah, yaitu agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Islam, Hindu, Budha dan Konghucu. Disamping itu juga ada Aliran-aliran kepercayaan. Aliran-aliran kepercayaan ini di satu pihak tidak mau disebut sebagai “agama baru”. Menurut mereka, aliran kepercayaan ini berakar dari kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa. Tetapi dalam kenyataan mereka mempunyai ritu-ritus yang harus dijalani oleh para pengikutnya. Karena berakar dari kebudayaan Indonesia, maka aliran-aliran kepercayaan ini tidak di bawah naungan Departemen Agama tetapi di bawah naungan departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemerintah Indonesia juga tidak menolak kehadiran agama-agama lain Agama Yahudi, Shinto, Taoisme, Zaraustrian sehingga juga tidak dilarang berkembang di Indonesia.

Iman Kristen




Iman Kristen mempunyai ciri khas yang tidak terdapat dalam agama lain. Pusat iman kristen adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak hanya dipercayai sebagai nabi atau utusan Allah. Yesus kristus adalah Anak Allah yang menjadi “perantara antara Allah dan manusia” lihat I Timotius 2:5-6 (Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan). Melalui iman Kristen manusia menjawab kehadiran Allah dalam diri Yesus Kristus. Jawaban manusia terungkap dalam sikap yang menaklukan seluruh pikiran dan perbuatannya kepada Tuhan. Karena imannya Abram – yang kemudian atas kehendak Allah dirubah menjadi Abraham – bersedia dan berani meninggalkan kampung halamannya menuju ke sebuah tempat yang belum dikenal. Abraham adlah adalah salah satu contoh pembuktian definisi imanNya kepada Allah. Ibrani 11:1 (Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat).

Melalui imannya manusia telah mengikatkan diri secara pribadi kepada Allah dan sekaligus mempercayai apa yang telah dinyatakan oleh Allah melalui Firman-Nya. Firman itu telah menjadi manusia dalam diri Yesus, Yohanes 1:14 (Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran). Kepada-Nya manusia harus percaya dan sekaligus mendengarkan kehendakNya, Yohanes 14:1 ("Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku). Tetapi manusia tidak bisa beriman kepada Yesus tanpa mendengarkan suara Roh Kudus yang selalu bekerja dalam hati manusia. Roh Kudus menyatakan kepada manusia, siapakah Yesus Kristus itu, I Korintus 12:3 (Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus). Ketika Petrus mengakui bahwa Yesus adalah Messias, Anak Allah yang hiudp, berkatalah Yesus kepadanya, “Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang ada di surga” (Matius 16:17). Berarti iman juga merupakan anugerah dari Allah.

Meskipun demikian, iman tetap merupakan kegiatan manusiawi. Sebab yang bisa mengambil keputusan menerima atau sama sekali menolak panggilan Roh Kudus hanya manusia sendiri. Allah hanya memanggil manusia dengan perantaraan Roh Kudus. Yesus Kristus tidak pernah memaksakan kehendakNya kepada manusia. Melalui karyaNya, Ia memberi kesaksian tentang kebenaran yang sejati. KerajaanNya di dunia ini tidak didirikan dengan kekerasan, tetapi dikukuhkan dengan kesaksianNya tentang kebenaran melalui kasih dan kebaikanNya. Jadi dapat dikatakan bahwa iman merupakan suatu kegiatan akal budi dan kehendak manusia yang bekerja sama dengan Roh Kudus. Oleh sebab itu beriman kepada Allah tidak bertentangan dengan kebebasan dan hakekat manusia.

Di dalam Matius 17:20 Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

Seberapa besar iman kita kepadaNya ? Dan iman kepada Tuhan bukanlah ucapan di mulut saja tetapi juga kita lakukan dalam perbuatan. Sebab Kekristenan adalah iman dan perbuatan kepada Tuhan.

Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebab firman bukanlah untuk didengar atau dibaca saja tetapi untuk didengarkan.

Kiranya Tuhan Allah dan Roh Kudus memberi tuntunan bagi anda untuk lebih mengerti dan mendalami firmannya. Semakin banyak kita menabur, makin banyak yang kita tuai.

To be continued ...

e martë

Orang Farisi dan Orang Saduki


Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah”


Saat kita membaca Alkitab kita pernah membaca perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Tuhan Yesus sangat senang dengan tabiat orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang melaksanakan hukum Taurat dan kewajibannya. Tetapi di lain hal Tuhan Yesus sangat membenci orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan orang Saduki karena mereka itu munafik.

Dalam Matius 23:23-33, pada ayat ke 27, ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan perbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.”

Dalam Markus 7:6-8, ”Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."”.

Lukas 12:1, ”Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”

Dan masih banyak lagi dalam Alkitab yang menulis tentang kemarahan Tuhan Yesus terhadap golongan orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan orang Saduki.

Yesus juga mengatakan suatu perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam Lukas 18, hal itu dikatakanNya dalam pengajaran kepada murid-muridNya. Sebagai seorang guru atau rabuni, Tuhan Yesus tahu dengan jelas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh golongan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Orang Farisi suka untuk mencobai dan mencemooh Tuhan Yesus dengan pertanyaan dan perkataannya. Banyak golongan orang Farisi dan ahli Taurat yang berdebat dengan Yesus dan mengadakan tanya jawab dengan Dia, seperti salah satunya Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi yang bertanya kepada Yesus tentang lahir baru dalam Yohanes 3. Inti dari hal ini adalah Tuhan Yesus sangat senang dengan orang yang patuh dan taat dengan Hukum Taurat dan menjadikan teladan hidupnya. Tetapi Tuhan juga sangat membenci orang yang munafik dengan hal itu, hanya menjalankan Taurat hanya karena adat istiadat, kewajiban, ingin dilihat orang lain, mengejar pahala, dll. Bukan karena takut akan Allah dan karena panggilan dari diri sendiri untuk setia mengikut Tuhan. Karena Tuhan Allah mengetahui hati tiap-tiap orang, Tuhan Allah tahu sikap dan maksud masing-masing orang.

Tuhan Yesus berfirman dalam Matius 5:20, ”Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Tuhan Yesus sangat memuji dengan keagamaan orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi Tuhan Yesus tidak setuju dengan ajaran-ajaran orang Farisi itu yang munafik.

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tentang hukum kasih dalam Matius 22:37-40, ” Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."”.

Dalam pengertiannya :

Farisi adalah suatu golongan dari para rabi dan ahli Taurat yang sangat berpengaruh. Mereka berpegang pada Taurat Musa dan pada ”adat istiadat nenek moyang” (Matius 15:2). Seluruh hukum dan peraturan mereka taati secara mutlak.

Saduki adalah suatu golongan pemimpin agama Yahudi, yang sebagian besar terdiri dari imam-imam. Mereka mendasarkan pengajarannya pada kelima kitab Musa dan menolak segala adat istiadat yang ditambahkan kemudian. Mereka tidak percaya adanya kebangkitan dan adanya malaikat. Terhadap kebudayaan Yunani golongan ini sangat terbuka.

Rabi : Kata Ibrani yang berarti guru atau guruku. Sebagai bentuk sapaan terhadap para ahli Taurat dan Farisi. Juga Rabuni (Markus 10:51; Yohanes 2:16) sama artinya.

Taurat : Kata Ibrani Torah sebenarnya berarti pengajaran oleh Allah. Diterapkan pada Kesepuluh Hukum, kemudian pada segala hukum dan peraturan dari Tuhan, khususnya pada kelima kitab Musa atau kitab Taurat. Kesepuluh Hukum Tuhan yang diberikan Tuhan kepada Musa di gunung Sinai kepada bangsa Israel. Menjadi peringatan, ketetapan dan peraturan, yang dikatakan Musa dari Tuhan Allah kepada orang Israel, dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir. Kesepuluh Hukum Tuhan dituliskan pada dua loh batu yang diletakkan di atas tabut dan diletakkan pada Kemah Suci dan dipasangnya tabir penudung sesuai dengan firman Tuhan pada Musa. Dan hal itu menjadi ketetapan bagi orang Israel turun-temurun. Sering disebut sebagai tabut perjanjian Allah dan tabut hukum Allah.


Maka dari itu tanamkanlah dalam hatimu dan laksanakanlah hukum kasih itu dalam hidupmu. Dan janganlah munafik seperti golongan orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan orang Saduki.

Doa Untuk Anda

Apakah Anda Ingin mendapat kiriman text Doa-Satu-Menit setiap hari ? Kirim Email Kosong ke : doa-satu-menit-subscribe@yahoo.com
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)

Jika Kamu di Surabaya, Stay Tuned at

  • Bahtera Yuda at 96.4 MHz
  • Bethany FM at 93.8 MHz
  • Nafiri FM at 107.10 MHz

Firman Tuhan Untuk Anda

"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yohanes 6:51)




Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. (Yohanes 10:14-15)




“Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)




Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yohanes 11:25-26)




Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)




“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakan lah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)




-----000000------00000------00000---------