Masih belum menemukan apa yang Anda cari? Masukkan kata kunci pencarian Anda untuk mencari artikel yang ada di Blog ini:

Jodoh Yang Sesuai Kehendak Tuhan

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Mengasihi Diri Sendiri

Mengasihi Diri Sendiri

BERSYUKUR KARENA DISELAMATKAN

BERSYUKUR KARENA DISELAMATKAN

e diel

Rancangan Allah Untuk Hasrat

Jalan keluar selalu ditemukan dengan menciptakan atau mengembalikan ingatan mengenai rancangan. Segala sesuatu memiliki rancangan, mulai dari urat daun sampai surai kuda, mulai dari kepingan (chip) komputer sampai Menara Sears di Chicago, mulai dari mainan anak-anak sampai peluru kendali Thunderbird yang memiliki kekuatan luar biasa. Segala sesuatu memiliki rancangan, waktu, dan tempat. Segala sesuatu menunjukkan adanya pemikiran kreatif di balik suatu rancangan. Demikian juga dengan seksualitas. Seksualitas merupakan hasil rancangan Perancang Mahabijaksana.

Menurut Kejadian 1:26-28, setelah Allah menciptakan dunia dengan tanaman, hewan, dam musimnya, Dia berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.

Kejadian 2 semakin memperluas asal-usul gender dan seksualitas kita. Dalam penjelasan kedua dam penjelasan yang lebih khusus, Musa mengatakan kepada kita bahwa setelah mula-mula diciptakan Adam, tampak jelas bahwa tidak ada kawan yang setara dengannya di antara kawanan binatang. Karena itu, dari tulang rusuk Adam sendiri, Tuhan menciptakan wanita. Kemudian Musa berkesimpulan, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” (Kejadian 2:24-25).

Penejelasan Kitab Kejadian mengenai rancangan Allah memperjelas bahwa seksualitas berasal dari Allah. Meskipun menjadi laki-laki atau perempuan dianggap banyak orang sebagai suatu kutukan, pada awalnya hal itu tidak demikian. Pada awalnya, gender merupakan karunia yang luar biasa dari Allah. Laki-laki dan perempuan merupakan mahkota penciptaan. Mereka sama-sama memiliki identitas seksual yang saling melengkapi, sehingga memampukan mereka untuk menjadi pasangan yang tepat satu sama lain. Dalam pernikahan, jenis kelamin mereka yang saling melengkapi akan menciptakan dasar bukan hanya untuk persahabatan, melainkan juga untuk kenikmatan yang saling dinikmati dari aktivitas hubungan seksual secara fisik dan kesatuan. Di luar pernikahan, laki-laki dan perempuan akan memperkaya satu sama lain melalui gabungan dari perbedaan kemaskulinan dan kefeminiman mereka. Mereka akan saling memberikan kekayaan pribadi dan hubungan yang tidak ada dalam kebersamaan dengan kelompok yang semuanya-pria dan semuanya-wanita.

Kitab Kejadian juga menunjukkan kepada kita bahwa meskipun laki-laki dan perempuan agaknya diciptakan berbeda satu sama lain, keduanya diciptakan sangat berbeda dengan binatang. Laki-laki dan perempuan sama-sam memiliki citra Allah dalam suatu hal sehingga mereka bukanlah pasangan dari binatang. Karena itu, pandangan Musa tentang seks sangat berbeda dari teori evolusi modern. Filosofi naturalistik yang telah banyak membentuk pendidikan saat ini menyatakan bahwa tidak akar yang membedakan antara manusia dan binatang. Karena itu tidak mengherankan jika mereka yang melihat diri mereka lebih dekat dengan binatang daripada dengan Allah bertingkah seperti binatang dalam hubungan seksual mereka.

Selama berpuluh-puluh tahun kita hidup dengan filosofi naturalistik, dimana teori evolusi dimasukkan dalam sistem pendidikan kita, maka dapat dimengerti apabila generasi kita akan mempertahankan pilihan seksual mereka dengan menyebutkan keberadaan homoseksual dengan menyebutkan keberadaan homoseksual atau hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan dalam dunia binatang. Kita sering mendengar, ”Seks adalah hal yang alami dan indah. Lihatlah binatang. Mereka menunjukkan bahwa kita tidak perlu terlalu terikat dan menganut nilai-nilai moral dalam mengekspresikan hasrat heteroseksual atau homoseksual kita.”

Namun, Musa menunjukkan kepada kita bahwa meskipun kita dan binatang diciptakan oleh Pencipta yang sama, kita bukanlah binatang! Tidak seperti makhluk dalam dunia binatang, kita diciptakan sesuai dengan citra Allah. Selain itu, Allah memiliki hubungan seksual manusia untuk mereproduksi keserupaanNya dalam anak yang dilahirkan.

Keserupaan dengan Allah inilah yang dinodai ketika laki-laki dan perempuan memandang satu sama lain sebagai obyek seksual, dan bukanlah sebagai manusia utuh yang sama-sama memiliki kebutuhan, impian, dan nasib. Terjadi dehumanisasi yang luar biasa dalam etika seksual yang memandang wanita semata-mata dari kenikmatan fisik secara seksual yang ditawarkan tubuh mereka. Menilai ”bagian tubuh” satu sama lain yang akan segera dimakan usia dan kehilangan daya tarik merupakan sesuatu yang merendahkan nilai. Dan suatu hal yang lebih menjunjung martabat apabila kita melihat setiap laki-laki dan perempuan sebagai manusia utuh yang tidak perlu dieksploitasi dan ditipu demi kenikmatan seksual orang lain, tetapi justru dihormati, dikasihi, dihargai, dan dinikmati sebagai manusia yang utuh. Lebih mulia apabila menjadi pria yang mengasihi wanita sebagai sahabat, bukannya menganggap wanita sebagai obyek untuk ditaklukkan dalam hubungan seks. Namun, ini bukannya masalah menjadi terhormat. Yang benar adalah bahwa kita dirancang untuk sebuah hasrat lebih dari sekadar agresi seksual yang terpusat pada diri sendiri.

Namun, Kitab Kejadian memaparkan penciptaan lebih dari sekadar menggambarkan martabat dan asal mula seksualitas kita. Kejadian juga mengembalikan kita pada akar masalah seksualitas kita.

Penyimpangan Rencana Allah. Dalam Kejadian 3:1-5, Setan mengatakan kepada Adam dan Hawa bahwa Allah merahasiakan sesuatu dari mereka. Sambil menunjuk sebuah pohon di taman yang buahnya dilarang oleh Allah untuk mereka makan, Setan berkata, ”tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (ayat 5).

Oswald Chambers mengatakan, ”Semua dosa bersumber dari prasangka bahwa Allah tidak cukup baik.” Setan menghasut Hawa untuk percaya bahwa Allah menyimpan yang terbaik bagi diriNya sendiri. Jika hal itu benar, berarti Dia tidak bisa dipercaya.

Kebenaran Setan yang bersifat setengah-setengah itu mengandung sesuatu yang sangat jahat. Kejadian 3:7 mengatakan, ”Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang.” Sejak saat itu seksualitas mereka menjadi sumber pencobaan dan perjuangan yang tidak ada hentinya. Seksualitas manusia menjadi medan peperangan yang strategis antara surga dan neraka karena ia tidak lagi dikendalikan dan dilindungi oleh kasih sejati. Sejak saat itu, seksualitas yang diciptakan untuk dinikmati dalam keintiman dan kebahagiaan hubungan cinta penuh kesetiaan yang timbal balik, telah menjadi indikator tingkat kedurhakaan manusia.

Fantasi seksual digunakan banyak orang untuk mengatasi kesepian yang tidak terhindarkan di dalam dunia yang telah begitu tragis didera dosa. Hal tersebut merupakan usaha untuk menemukan jalan kembali apa yang telah hilang. Patric carnes dalam bukunya Don’t Call It Love: Recovery From Sexual Addiction, menulis bahwa “orang Amerika membelanjakan uangnya lebih banyak untuk pornografi selama setahun daripada jumlah penjualan Coca-Cola” (hal. 57). Fotografer halaman tengah majalah Playboy tahu benar bagaimana mempertahankan ilusi-ilusi tersebut. Begitu pula para wanita tuna susila atau pasangan selingkuhan. Mereka semua hidup dalam sebuah fantasi yaitu ”di sebuah tempat ada seseorang yang akan mencintai aku dengan sempurna”.

Di dalam pemberontakan itu kita menolak untuk menerima kenyataan yang menyedihkan bahwa kita tidak dapat kembali ke Eden. Maka, alih-alih kembali pada Allah untuk mendapatkan pengampunan, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mencoba mengurangi penderitaan kita melalui bentuk-bentuk kesenangan yang dapat kita kendalikan. Amoralitas seksual berhasil mengatasi beberapa penderitaan itu. Ia menciptakan perasaan hidup dan hasrat yang palsu, yang hanya sekejap saja membuat kita melupakan penderitaan atas keterasingan kita dari Allah. Dengan demikian, kita mencoba menuruti nafsu seksual kita yang menyimpang untuk meringankan beban dalam jiwa kita. Namun sebenarnya, kita telah menukarkan satu-satunya Allah yang benar dengan ilah palsu. Tetapi untuk itu kita harus membayar harganya.

Harry Schaumburg menulis,”Ketika orang-orang mencari kenikmatan surga dengan cara mereka sendiri, maka mereka menciptakan neraka di dunia dengan hasrat yang tidak terkendalikan” (False Intimacy, hal. 60). Akar dari seluruh penyimpangan dan amoralitas seksual dimulai dari hasrat untuk menggantikan penderitaan seseorang dengan kenikmatan. Akan tetapi, hasrat menggebu dengan keintiman dengan Allah begitu dalam melekat di hati manusia. Hasrat tersebut tak dapat dibungkam, oleh karenanya ia menurun menjadi sebuah usaha yang sia-sia untuk membinasakan semua hasrat.

Menurut Hosea, penggantian ibadah yang sepenuh hasrat kepada Allah dengan kenikmatan yang menyedihkan tersebut tidak akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan: ”Mereka akan makan, tetapi tidak menjadi kenyang, mereka akan bersundal, tetapi tidak menjadi banyak, sebab mereka telah meninggalkan TUHAN untuk berpegang kepada sundal .” (Hosea 4:10). Gambaran tentang prostitusi, perzinahan, penyembahan berhala ditampilkan berulang-ulang di dalam Kitab Suci (Yeremia 3:2-5, Yehezkiel 16,23).

Karena manusia menyembunyikan kebenaran tentang Allah (Roma 1:18), mereka ”menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran” yang ia buat sendiri (ayat 23). Karena itu Allah menyerahkan umat manusia ke dalam kuasa dosa yang lebih kita sukai daripada Dia:

  • Penyimpangan heteroseksual (ayat 24)
  • Penyimpangan homoseksual (ayat 26, 27)
  • Penyimpangan pikiran yang menuntun kita pada perilaku yang menyimpang dalam setiap segi kehidupan (ayat 28-32)

Harry Schaumbur menekankan, ”Perbuatan Allah sungguh hebat. Dia menyerahakan kita tidak hanya kepada keinginan kita, tetapi pada sebuah kondisi hasrat yang tidak terkendalikan. Kita menuntut Allah untuk mundur. Kita memilih untuk mengatur hidup kita sendiri daripada menghormati dan mematuhi Allah; kita kehilangan kemampuan untuk mengatur hasrat kita” (False Intimacy, hal. 59).

Intinya: Sekali kita mengabaikan ibadah yang penuh hasrat kepada Allah, maka hasrat apapun yang kita miliki akan menjadi ilah bagi kita. Ucapan Paulus seharusnya menjadi peringatan bagi kita, yaitu jika kita tidak mengizinkan Tuhan menggerakkan hati kita dengan penuh gairah untuk memuji Dia, maka hasrat kita pasti akan digerakkan oleh hal lain. Urutaannya sudah jelas. Sekali orang telah berpaling dari kebenaran Allah, maka pikiran mereka menjadi menyimpang, pengertian mereka menjadi gelap, hati mereka menjadi keras, dan kemampuan untuk mengalami hasrat secara mendalam akan berkurang. Satu-satunya hal yang menggores permukaan hati adalah sensualitas. Akan tetapi keefektifannya telah berkurang. Bukannya mengendalikan hasrat kita, kita justru menjadi budak hasrat tersebut.

Namun masih ada harapan. Allah berkehendak untuk mengembalikan hasrat kepada hidup kita, bukan memusnahkannya.

Pemulihan Kembali Rencana Allah. Menghadapi seksualitas kita sedemikian rupa sehingga sesuai dengan rencana Allah memang tidak mudah. Tetapi dengan bantuan Tuhan, dengan kucuran sabdaNya, dan dengan bantuan dari para sahabat yang akan berbagi penderitaan dengan kita serta secara pribadi membuat diri kita sendiri mampu bertahan, maka semuanya akan menjadi mungkin. Beberapa langkah dapat dimulai untuk membalikkan pola-pola adiktif seperti yang diungkapkan dalam Efesus 4:17-19

1. Mengakui bahwa kita diciptakan untuk memiliki hasrat. Allah tidak ingin kita mengingkari atau menekan kapasitas kita terhadap kesenangan. Ada hubungan yang erat antara hasrat dan kemampuan kita untuk beribadah. Hasrat adalah satu cara yang digunakan Allah untuk membawa kita kepadaNya. Daud menyiratkan hal itu ketika ia menulis, ”Bergembiralah karena Tuhan, maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mazmur 37:4).

Hal itu bukan berarti bahwa jika kita bersukacita dalam Allah maka kita akan mendapatkan apa pun yang kita inginkan. Namun, ini berarti bahwa Allah sangat baik, sangat penyayang, sangat berkuasa, sangat dekat dengan kita, dan akan memenuhi kesejahteraan kita pada akhirnya, sehingga Dia dapat memuaskan kerinduan terdalam di hati kita.

Seseorang bernama Asaf menggambarkan hal itu dengan sangat percaya diri ketika ia menuliskan, ”Siapa gerangan yang ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (Mazmur 73:25). Namun, yang menarik tentang Asaf adalah ia tidak percaya diri begitu saja tanpa sebuah pergumulan. Di bagian awal Mazmur 73, ia mengemukakan banyak kekecewaan terhadap Allah. Ia memulainya dengan mengatakan bahwa ia tahu Allah begitu baik kepada Israel, pada saat yang sama ia tidak begitu yakin bahwa Allah telah begitu baik kepadanya. Kenyataannya, secara pribadi ia tidak percaya terhadap kebaikan Allah kepadanya hingga ia hampir kehilangan imannya. Setelah mendapatkan pemahaman tentang takdir bangsa yang ia cemburui, ia kemudian belajar untuk sungguh-sungguh puas terhadap Allah. Setelah itu ia dapat dengan jujur berkata, ”Siapa gerangan yang ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (Mazmur 73:25).

Masalah Asaf bukan karena ia terlalu berhasrat untuk mendapatkan kepuasan dari Allah. Masalahnya adalah sebelum ”pemahaman itu didapat”, ia belum berpikir dengan cukup jernih mengenai sesuatu yang bersifat duniawi atau mengenai Allah sendiri untuk mengetahui dimana ia bisamenemukan kenikmatan dan kepuasan yang sesungguhnya.

John Piper dalam bukunya yang berjudul Desiring God memuat maksud yang hampir sama, ”Hambatan terbesar dalam beribadah bukanlah karena kita adalah orang-orang yang hanya mencari kenikmatan, melainkan karena kita telah bersedia tinggal dalam kenikmatan-kenikmatan yang menyedihkan itu” (hal. 77). Ketika kita memikirkan apa yang ditawarkan Allah kepada kita untuk mencari hubungan yang mendalam dengan Dia, ”maka akan tampak bahwa sepertinya Tuhan menganggap hasrat kita tidak terlalu kuat, tapi terlalu lemah. Kita adalah makhluk setengah hati, suka bermain dengan minuman keras, seks, dan ambisi ketika kenikmatan yang tak terbatas ditawarkan kepada kita. Kita seperti seorang anak yang tidak tahu apa-apa, yang ingin terus membuat kue lumpur di kubangan karena ia tidak bisa membayangkan apa artinya tawaran berlibur ke pantai. Kita memang terlalu mudah merasa puas” (C.S. Lewis, The Weight Of Glory, hal. 1-2).

2. Dengan jujur menghadapi sisi gelap dari hasrat kita. Meskipun kita diciptakan untuk memiliki hasrat, tetapi nafsu seksual yang salah arah menempatkan ancaman besar bagi keberadaan kita. Pergumulan seksual bukan sesuatu yang dangkal. Masalahnya bukan hanya menyangkut dorongan hormonal yang lepas kontrol, yang dapat diatasi dengan larangan-larangan dan disiplin yang keras. Amoralitas seksual menyangkut arahan yang salah dari hati kita yang tidak bersih, yang menolak untuk menyembah Allah pencipta kita.

Setelah semua usaha sia-sia kita untuk mengendalikan hidup kita dengan menyembah ilah kenikmatan seksual yang palsu mengalami kegagalan, kita harus mulai memandang Allah sebagai satu-satunya Pribadi yang mampu mengenyahkan teror kerasingan kita dengan kehadiranNya yang baik dan penuh kuasa. Dia ingin membawa kita dekat dengan Dia dengan harapan keterlibatan yang penuh sukacita dan membersihkan diri kita dari sikap keras kepala untuk bertahan dengan cara kita sendiri.

Keberanian sangat diperlukan untuk menghadapi teror kehidupan (Yosua 1:9). Kita takut akan menemui suatu atau seseorang yang akan menghancurkan kita. Tetapi iman yang berani memercayai bahwa kita akan mampu mengatasi segala sesuatu dalam hidup ini karena kita adalah milik Allah yang telah mengatasinya untuk kita (Yohanes 16:33). Keberanian diperlukan untuk menghadapi kekecewaan duniawi dan kerusakan pada sisi gelap hati kita. Ini berarti bahwa kita menolak untuk berpura-pura tentang segala sesuatu, dan hal itu menanamkan kejujuran.

Kerendahan hati sangat diperlukan jika kita dengan jujur menghadapi arogansi dan kemarahan di balik kekerasan hati kita untuk bertahan hidup di dunia dengan cara kita sendiri karena kecurigaan bahwa Allah kita tidak cukup baik. Jika kita bersedia merendahkan diri kita di hadapan Allah dan mengakui pemberontakan kita di hadapanNya, maka Dia akan memberikan kelembutan dan pengampunan untuk menopang kita dalam menjalani kehidupan (Yakobus 4:6).

Apakah kita lebih tergerak oleh sebuah hubungan gelap, fantasi seksual, atau selembar halaman tengah majalah Playboy [biasanya menggambarkan wanita tanpa busana] daripada ketika kita membaca kisah-kisah Tuhan Yesus dalam Alkitab? Apakah kita merasa lebih hidup ketika menonton adegan cinta yang menggebu-gebu di layar televisi daripada ketika kita mendapatkan kesempatan untuk berbagi iman dengan orang yang belum percaya? Jika memang demikian, maka kita baru saja mengungkapkan komitmen kita pada pengertian hidup yang gelap, terpisah dari Allah (Efesus 4:18).

3. Mintalah kepada Allah untuk mengarahkan kembali hasrat Anda. Akar dari permasalahannya bukanlah dorongan seksual yang terkendali, tetapi hati yang tidak terkendali, yang mengeras melawan pancaran sinar anugerah dan kebenaran Allah yang hangat. Kenikmatan yang diperoleh dari hubungan seks yang terlarang (atau semua bentuk perilaku dosa yang adiktif) merupakan kenikmatan yang singkat. Setan selalu mencari orang yang dapat dimangsanya (1 Petrus 5:8), oleh karena itu setiap bentuk kecanduan (atau ilah palsu) telah diciptakan untuk menghancurkan orang-orang percaya. Setan tidak menghargai hasrat dari hati; ia menghancurkan hasrat dari hati manusia agar tidak ada lagi hasrat yang menggebu kepada apapun, terutama kepada Allah.

Mengakui dosa-dosa kita kepada Allah (1Yohanes 1:9) dan kepada sesama (Yakobus 5:16), haruslah tidak terbatas pada tindakan-tindakan dan perilaku kita yang tampak saja. Kita harus selalu memperhitungkan akar dari perbuatan dosa kita, yaitu hati, yang telah menjadi beku terhadap pengampunan, anugerah, dan belas kasihan Allah yang tiada habisnya. Pertobatan dalam tingkatan ini merupakan perubahan arah hati kita untuk menjauh dari ilah palsu menuju Allah yang satu dan benar ( 1 Tesalonika 1:9).

Pertobatan yang sejati selalu ditandai oleh hati yang hancur dan penyesalan yang dalam. Hati yang berhasrat seperti itulah yang disenangi Allah (Mazmur 51:18,19).

4. Dengan penuh hasrat berjanjilah untuk hidup sesuai dengan rancangan Allah. Jika sekarang kita setia untuk hidup dalam Kristus (Roma 6:11), maka cukup beralasan jika kita mendengarkan apa yang dikatakan Rasul Paulus, ”Serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13). Kita semua terlibat dalam peperangan bagi jiwa laki-laki dan perempuan. Kita dapat menjadi senjata di tangan si jahat untuk merenggut kemuliaan dan penyembahan kepada Allah (Roma 6:12,13), atau kita akan menjadi senjata kebaikan dalam memuliakan Allah melalui cara kita menikmati Dia.

Hubungan seksual dengan banyak orag merupakan senjata yang efektif bagi Setan untuk merenggut kemuliaan dan kehormatan Allah. Kerap kali kita tidak berpikir demikian, tetapi bagaimana kita menangani perilaku seksual kita akan berpengaruh kepada Allah dan bagaimana pandangan orang lain terhadap Dia. Setiap kali kita terlibat dalam aktivitas seksual terlarang, kita membawa Allah bersama kita dan membuat Dia menjadi bagian dari amoralitas kita (1 Korintus 6:12-20). Ketika kita menolak untuk terseret dalam amoralitas seksual karena sukacita yang dalam dan rasa syukur yang kita rasakan dalam hati kita terhadap kebaikan Allah, berarti kita telah mengalahkan kekuatan jahat dengan perbuatan baik (Roma 12:21). Mengatakan tidak bagi perbuatan-perbuatan amoral menjadi menyenangkan karena aktivitas seksual yang terlarang tidak sebanding dengan sukacita karena kehadiran Bapa (Mazmur 16:11).

Godaan seksual akan selalu menjadi daya tarik bagi kita selama kita masih hidup, namun hal itu akan menjadi lebih mudah dilawan ketika kita memfokuskan diri pada pencarian kita akan hubungan yang penuh hasrat dengan Kristus. Menikmati kedekatan dengan Allah akan mengungkapkan pesona akan kenikmatan seksual yang sesungguhnya, pencuri yang telah merenggut kita dari sukacita keintiman yang sejati. Dalam realisasinya, hasrat akan kenikmatan seksual menjadi sangat penting atau mengancam.

5. Dengan penuh rasa syukur menerima gender sebagai karunia Allah yang berharga. Ketika belajar melihat kenikmatan seksual dalam perspektif yang berbeda, sangatlah penting bagi kita untuk tidak mengecilkan makna seksualitas kita dalam proses tersebut. Hasrat seksual dan seksualitas merupakan hal yang berbeda. Hasrat seksual adalah kapasitas yang diberikan Allah acapkali dinilai terlalu tinggi sebagai sebuah kenikmatan. Seksualitas, di lain pihak, merupakan karunia gender dari Allah yang kerap kali dinilai rendah sebagai sebuah faktor identitas. Seksualitas merupakan suatu dimensi dari diri seseorang yang merefleksikan bagaimana kita telah dipilih dan diciptakan sebagai cerminan citra Allah.

Selama berabad-abad, karena prasangka dan perlakuan yang salah, maka banyak orang memandang kemaskulinan atau kefeminiman sebagai suatu kutukan. Misalnya, sebagian kaum laki-laki Yahudi dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah dengan rutin karena mereka dilahirkan bukan sebagai orang kafir atau seorang perempuan. Namun demikian, kemaskulinan dan kefeminiman, sebagaimana terdapat dalam diri manusia, merupakan bagian dari rencana Allah yang baik dan bijaksana.

Karena antara jenis kelamin acap kali terjadi konflik, maka Rasul Paulus menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan berhutang kepada Allah atas keberadaan mereka. Kedua-duanya tidak mungkin ada tanpa yang lainnya (1 Korintus 11:11,12). Keduanya memiliki jalan yang sama menuju keselamatan dalam Yesus Kristus (Galatia 3:28). Keduanya memiliki peran yang berbeda menurut rencana Allah bagi keluarga dan gereja (Efesus 5:17-33, 1Korintus 11:1-16).

Akibatnya, Alkitab memuat larangan-larangan keras terhadap pertukaran pakaian antara laki-laki dan perempuan (Ulangan 22:5), homoseksualitas (1 Korintus 6:9), atau perilaku-perilaku lain yang dengan sengaja mengaburkan talenta gender yang telah diciptakan Allah pada diri kita.

6. Menghormati hubungan seks dalam pernikahan. Kenikmatan dalam keintiman seksual diharapkan menjadi sebuah perayaan keintiman dalam pernikahan. Dalam konteks pernikahan yang abadi dan saling setia, kepatuhan dan cinta yang timbal-balik merupakan pedoman dalam menikmati tubuh satu sama lain (Amsal 5:15-23; Kidung Agung 4:1-15; 7:1; 8:4).

Namun, rancangan Allah bagi hubungan seks dalam ikatan pernikahan tidak dapat dipisahkan dari rancangan Allah yang menyeluruh terhadap hubungan pernikahan satu daging. ”Undang-undang pernikahan” harus ditaati oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan yang saling berhubungan ”di luar kamar tidur” sehingga merefleksikan hubungan Kristus dengan gerejaNya.

Efesus 5:22-33 memberikan gambaran kepada kita tentang hubungan yang dirancang Allah untuk menyertai tindakan-tindakan seksual dalam pernikahan. Tujuh puluh lima persen dari tulisan-tulisan Paulus dalam perikop ini terfokus pada tanggung jawab manusia untuk menghadirkan kembali miniatur kelahiran Tuhan kita: ”Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (ayat 25). Sebagai contohnya adalah salah satu tindakan yang agresif, kekuatan yang lembut, dan maksud yang mendalam. Hal itu tidak ditunjukkan dengan penarikan diri melainkan dengan gerakan aktif untuk menjadi pengantinNya yang dimaksudkan untuk membersihkan segala sesuatu yang mengotori keindahan dan cahaya yang memancar dari dalam (ayat 26,27). Allah telah menciptakan dalam diri seorang pria hasrat untuk secara aktif terlibat di dalam kehidupan istrinya agar kecantikan dari dalam dirinya muncul.

Perintah Paulus kepada para istri adalah agar mereka tunduk kepada suami mereka (ayat 22,23). Namun, bukan berarti bahwa seorang wanita harus secara pasif tidak menggunakkan pikirannya dan melakukan apa yang diperintahkan seorang pria kepadanya. Jauh dari itu! Itu berarti bahwa ia dengan aktif menyatukan semua sisi kepribadian femininnya demi kebaikan suaminya. Rancangan Allah adalah bahwa ia akan mengalami kebahagian terbesar dalam hidup dengan menanggapi suaminya seperti gereja mengalami kebahagiaan dengan menerima Kristus sebagai mempelainya (ayat 24). Gereja diharapkan untuk secara terbuka memercayai maksud baik Kristus dan menerima keterlibatanNya, bahkan ketika hasilnya cukup berat untuk diterima. Dengan cara yang sama, seorang isteri akan menghormati suaminya (ayat 33) dan menganggap suaminya bertanggung jawab atas panggilannya untuk menjadi kekasih yang lembut bagi jiwanya. Dalam proses penyerahan kecantikan jiwa yang feminin kepada suaminya (1 Petrus 3:1-6), ia dengan rasa hormat mendorong suaminya untuk menjadi laki-laki seperti yang telah dirancangkan Allah.

Hubungan seperti inilah yang dirancangkan Allah untuk menyertai hubungan persetubuhan dalam pernikahan. Karena hati adalah sumber utama dari perasaan dan kenikmatan seksual, maka jelas terlihat bahwa Allah jauh lebih bijaksana daripada mereka yang memperlakukan kenikmatan seksual sebagai sesuatu yang tidak lebih dari sesuatu yang bersifat teknis. Allah tahu bahwa kenikmatan seksual yang paling bermakna berasal dari hati yang bersih dan saling setia.

7. Buatlah agar cinta menjadi tujuan Anda. Entah kita menikah atau tidak, kasih kepada Allah harus menjadi satu hal yang jauh lebih penting bagi kita daripada mengejar kenikmatan seksual semata. Hanya dengan memusatkan diri untuk menyenangkan Dia, dan hanya jika kita lebih memerhatikan orang lain daripada diri sendiri, maka kita akan menjadi kuat terhadap godaan seksual.

Laki-laki atau perempuan yang menikmati keintiman yang terus berkembang dan penuh dengan kasih dalam Kristus tidak akan bersedia menyalahgunakan orang lain secara seksual. Kasih tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kasih menumbuhkan hasrat yang meluap-luap untuk menghormati Tuhan dan melihat kekuatan karakter dalam diri orang lain (1 Timotius 5:1,2).

Nafsu seksual memang sangat kuat, tetapi dapat dikekang dengan ketaatan penuh kepada Kristus yang lebih dari sekadar pemenuhan kewajiban terhadap hukum tertulis. Rasa lapar dan haus akan Allah (Mazmur 42:2,3) melalui Dia, bukannya melalui hasrat kedirian yang buta.

Rasul Paulus tahu bahwa kasih yang datang dari hati tertuju terutama kepada Allah. Ia memberi kita penghormatan terbaik terhadap kasih yang pernah dituliskan :

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan

semua bahasa manusia dan bahasa malaikat

tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,

aku sama dengan gong yang berkumandang

Dan canang yang bergemerincing.

sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat

dan aku mengetahui segala rahasia

dan memiliki seluruh pengetahuan;

dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna

untuk memindahkan gunung,

tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,

aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu

yang ada padaku,

bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar,

tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,

sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu

Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan

tidak mencari keuntungan diri sendiri.

Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan

kesalahan orang lain.

Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan,

tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu,

percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu,

sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih tidak berkesudahan (1 Korintus 13:1-8).

Ini adalah hasrat yang telah diarahkan kembali. Ia memberi arti dan arah dan kepuasan untuk hidup, entah terdapat kesempatan untuk seksualitas dalam pernikahan atau tidak. Di mana kasih seperti itu ada, laki-laki dan perempuan tidak akan saling memanfaatkan dan menyalahgunakan apa yang sebenarnya bukan milik mereka untuk memberi atau menerima. Tentu saja, kasih seperti itu akan selalu menjadi tidak lengkap dan tidak sempurna bila dipandang dari sisi surga. Akan tetapi untuk meningkatkan supaya kasih itu tetap ada, ia akan mengarahkan kembali hati kita kepada hasrat yang tidak mementingkan diri sendiri, seperti apa yang telah dirancangkan Allah untuk kita.

Akar Permasalahan Seksual


Perbudakan seksual mencengkeram kita erat-erat

ketika kita menggunakan

kemabukan kenikmatan seksual yang bersifat sementara


Bagi mereka yang terjebak dalam perselingkuhan secara seksual atau kecanduan terhadap pornografi, masalah hidup tampaknya hanya berkaitan dengan fisik dan hanya terpusat pada satu hal. Sepertinya jelas sekali bahwa untuk memuaskan keinginan seksual, kita harus memberi kepuasan yang diminta. Namun, yang tidak selalu tampak jelas bahwa dibalik keinginan fisik kita terdapat nafsu jiwa, yang hanya dilumpuhkan sementara waktu oleh kenikmatan seksual. Masalah sebenarnya yang ditimbulkan oleh pemenuhan kebutuhan kecanduan seksual bukanlah masalah fisik, melainkan jiwa. Hal yang menjadi akar permasalahan kita adalah kepercayaan bahwa kita dapat memuaskan hati kita dengan kekuatan kita sendiri dan memperlakukan keinginan dan nafsu kita seperti halnya nafsu fisik. Namun dengan mempercayai kebohongan ini, kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan solusi yang sejati dan pengendalian diri.

Gejala-gejala dari Masalah yang Lebih Dalam. Mengakui dosa seksual atau kecanduan seks barangkali terlihat cukup memalukan. Dengan pengakuan itu kita sepertinya memperlihatkan bahwa kita tidak dapat memenuhi harapan kita atau harapan Allah. Atau, dengan pengakuan itu kita telah menyakiti orang yang kita kasihi karena pilihan seks kita. Namun, sebelum kita benar-benar menerima kesalahan kita, sebelum kita mengetahui kelimpahan kasih dan pengampunan Allah, dan sebelum kita mendapatkan kembali hasrat hidup yang sehat, kita harus meengerti bahwa akar dari permasalahan dosa seksual adalah pemujaan terhadap berhala.

Pemujaan berhala adalah pemujaan terhadap sesuatu atau orang lain lebih daripada Allah yang sejati. Perjanjian Baru menjelaskan lebih lanjut bahwa hasrat yang salah kendali adalah pemujaan berhala (Efesus 5:5, Kolose 3:5). Menurut Paulus, menginginkan sesuatu (mendambakan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh Allah) sama halnya dengan melakukan penyembahan berhala. Alasannya jelas. Apabila kita menginginkan sesuatu yang telah dilarang Allah, dan kita tidak ”lapar dan haus” akan sesuatu yang diminta Allah untuk kita kejar, kita telah menyembah keinginan kita sendiri lebih daripada Allah sendiri.

Dengan pandangan mengenai bahaya penyembahan berhala, pada suratnya yang pertama di Perjanjian Baru, Yohanes mengakhiri dengan kalimat, ”Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala” (1 Yohanes 5:21). Peringatan ini adalah ”kata terakhir” dari surat yang menyerukan kepada pembacanya untuk mengasihi Allah lebih dari segalanya dan mengasihi satu sama lain sebagai tanda kasih kita kepada Bapa. Yohanes sadar bahwa bila Allah tidak lagi menjadi hasrat hidup kita, dan bila kita tidak secara jujur memerhatikan orang lain dengan kasih yang telah kita terima dari Allah, maka hilangnya kasih yang sehat akan membuat kita terus-menerus mengejar nafsu sehinggga kita menjadi berbahaya bagi diri kita sendiri dan orang lain (1 Yohanes 2:15-17). Nafsu-nafsu ini adalah gejala dari penyembahan berhala.

Penyembahan berhala yang diperingatkan oleh Rasul Yohanes ini memiliki sejarah yang panjang. Hal itu adalah akar dosa dari dua kota yaitu Sodom dan Gomora. Meskipun Sodom terkenal karena dosa seksualnya, Alkitab menggambarkan secara gamblang bahwa obsesi seksual dan dosa-dosanya adalah gejala dari permasalahan yang lebih dalam yakni penyembahan berhala. Sebelum jatuh ke dalam kebingungan gender dan takluk pada seks, orang-orang Sodom mengalihkan hasrat mereka dari Allah kepada diri mereka sendiri.

Nabi Yehezkiel berkata kepada Yerusalem, ”Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin. Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan kekejian di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu” (Yehezkiel 16:49,50)

Dosa seksual Sodom adalah akibat dari kesalahannya, bukan penyebab kesalahan itu. Di balik homoseksualitasnya terdapat pola pilihan yang menempatkan diri sendiri, keinginan, dan kesenangannya di pusat dunianya. Di akhir kehancurannya, orang-orang Sodom mengganti Allah dengan obsesi seksual yang tidak mungkin terpuaskan (lihat juga Roma 1:18-32).

Gejala-gejala Hilangnya Hasrat Akan Allah. Obsesi seksual terjadi (di dalam maupun di luar pernikahan) apabila kita semakin terfokus pada kesenangan fisik sesaat daripada mecari kepuasan dalam rancangan dan kehendak Allah. Kecanduan terjadi apabila kehilangan semangat terhadap Allah dan apabila kita tidak lagi ”lapar dan haus” terhadap apa yang hanya dapat dilakukan Allah di dalam hati kita (Matius 5:6). Perbudakan seksual mencengkeram kita erat-erat ketika kita menggunakan kemabukan kenikmatan seksual yang bersifat sementara untuk mematikan keinginan yang bergejolak, yang hanya dapat dipuaskan oleh hasrat dan kasih yang dibagikan Allah kepada mereka yang mempercayaiNya.

Namun, yang kerap kali terjadi adalah tak banyak orang yang di sekitar kita dapat menolong kita melihat jenis hasrat yang telah hilang dari diri kita. Sangat mungkin bila kita tidak tahu apa yang hilang. Karena itu penting sekali meluangkan waktu dengan Pribadi yang mengajar kita untuk ”lapar dan haus terhadap kebajikan”. Kristuslah yang menunjukkan contoh bahwa mereka yang penuh dengan kasih yang sehat terhadap Allah dan sesama tidak dikuasai oleh kenikmatan seksual secara fisik supaya menjadi pria dan wanita yang sejati.

Kristus menunjukkan apa yang hilang dalam diri kita. Bahkan tanpa hubungan seksual, Dia adalah teladan sempurna dari kemaskulinan. Dia adalah sumber kekuatan dan perlindungan bagi pria dan wanita dalam hidupNya. Dia bertarung melawan musuh demi kita. Dia mengorbankan hidupNya demi mempelaiNya yaitu gereja. Dia menerima hukuman dan penghinaan dari musuhNya. Dia menjalin persahabatan yang personal, baik dengan pria maupun wanita. Dia menentang godaan dari si penggoda. Dia cukup kuat untuk bersikap lembut, cukup bersemangat untuk membersihkan rumah BapaNya, dan cukup merasa nyaman untuk menangisi orang-orang yang Dia kasihi. Meskipun Dia Allah, Dia benar-benar memiliki sifat manusia. Namun, Dia melewati masa remaja dan melewati umur dua puluhan sebagai lajang yang tidak ”membutuhkan” hubungan seksual secara fisik.

Reaksi kita barangkali, ”Ya, tapi saya bukan Kristus. Seandainya saya Kristus, saya akan memiliki hasrat yang kuat terhadap Allah dan saya tidak akan mendapatkan masalah seksual seperti sekarang ini.” Memang benar, kita bukan Kristus. Tetapi Dia ada di dalam diri kita. Dalam hidup ini kita tidak bisa sesempurna Dia. Namun, kita dapat menempatkan diri kita di bawah kuasaNya. Kita dapat mengundangNya agar Dia hidup di dalam kita dan melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan sendiri. Kita dapat mengundangNya untuk mengalihkan hati kita kepada Allah dan membagikan kepada kita hasratNya terhadap Bapa, kehausanNya untuk melakukan kehendak Allah, serta kasihNya yang dalam dan tak berkesudahan baik terhadap kawan maupun lawan.

Akan tetapi, bagaimana jika, walaupun kita berhasrat untuk menyenangkan Kristus, kita masih menginginkan keintiman seksual dari sebuah pernikahan? Bagaimana jika kita bergumul dengan pemikiran bahwa Allah mungkin tidak memberi kita seorang suami atau istri ?

Maka kita perlu membawa kekecewaan, ketidakpuasan, dan keputusaasaan kita kepada Allah. Inilah yang dilakukan Tuhan di Taman Getsemani. Ketika Dia dihadapkan pada hukuman mati karena dosa-dosa kita, Dia tidak begitu saja menekan ketakutanNya dan mencoba bersikap saleh. Dengan kekuatan yang luar biasa, Dia bergumul dengan keinginanNya untuk menghindari salib. Dengan kejujuran yang sungguh-sungguh, Dia memohon kepada Bapa supaya Dia bisa menghindari penderitaan yang akan menimpaNya. Namun, Dia tetap tinggal di taman itu sampai Dia mampu berkata, ”Tetapi bukanlah kehendaKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi” (Lukas 22:42). Dia bergumul dengan Allah sampai Dia memperoleh kembali hasrat yang lebih kuat terhadap kehendak Allah, dan memperoleh kembali keinginan yang lebih dalam untuk menyelamatkan manusia dengan kematianNya, bukannya untuk mendapatkan kelegaan sementara bagi diriNya sendiri.

Ibrani 12:2 mengatakan bahwa Yesus, ”dengan mengabaikan kehinaan (karena dibunuh sebagai penjahat) dengan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia (untuk menyelamatkan kita dari kekekalan yang sesat dan kelam), yang sekarang duduk di sebelah tahta Allah.” Pada hari-hari ketika Dia ”berhasrat untuk mati”, Dia juga menjadi contoh dari rancangan Allah untuk hasrat.

Sejarah Masalah Seksual



Krisis sosial mengenai perceraian, AIDS, aborsi, pelecehan seksual, kehamilan yang tidak diharapkan, ketidakjelasan gender sepertinya adalah hal-hal yang baru. Namun, dalam banyak hal sebenarnya kita mengulang kesalahan nenek moyang kita. Dalam banyak hal, sekali lagi kita menunjukkan kebutuhan kita akan pertobatan dan pengampunan Allah. Dalam banyak hal, kita sering kali dihadapkan pada kebutuhan untuk memisahkan diri dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Musa memperingatkan bangsa Israel agar tidak jatuh ke dalam praktek seksual yang terdapat dalam budaya masyarakat di sekitar mereka. Dalam Imamat 18, ia menyatakan kepada umatnya apa yang telah dikatakan Allah tentang bahaya perzinahan, incest, homoseksualitas, dan percabulan. Dengan detail seperti seorang pengacara, ia membuat hukuman berat untuk hubungan seksual dengan anak, anak tiri, orangtua, orang tua tiri, saudara lelaki, saudara perempuan, saudara tiri laki-laki, saudara tiri perempuan, saudara ipar laki-laki, dan saudara perempuan. Ia juga mengatakan bahwa hubungan seksual dengan bibi, paman, istri tetangga, sesama jenis, atau dengan binatang adalah hubungan yang melanggar hukum.

Bukan Umat-Ku! Nabi Musa memperjelas alasan-alasannya. Semua bentuk dosa seksual seperti itu adalah hal yang umum terjadi dalam budaya masyarakat pada masanya. Namun, umat Allah harus membedakan dirinya dengan orang lain dengan cara menghindari perilaku seperti itu karena perilaku tersebut membawa kehancuran, penyakit, dan rasa malu terhadap bangsa-bangsa di sekitar mereka. Secara khusus Musa menulis, ” Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu; janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka” (Imamat 18:3). Allah mengatakan bahwa perilaku seperti itu akan membawa malapetaka besar bagi mereka yang melakukannya (ayat 24-30).

Namun, umat Allah tetap tidak setia kepada Allah mereka. Bahkan Raja Daud pun, orang yang berkenan di hati Allah, menyerah terhadap godaan. Saat ia dikendalikan oleh nafsu yang keliru, ia menjalin hubungan gelap dengan istri lelaki lain sehingga akhirnya membawa kepedihan yang luar biasa bagi dirinya sendiri, keluarga, bangsa, dan bagi Allahnya.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bagaimana orang se-saleh Daud dapat jatuh sebegitu dalamnya? Apa yang terjadi pada dirinya dalam ”kegelapan malam”? Bagaimana mungkin godaan seksual dapat mengubah orang yang berkenan di hati Allah menjadi seorang pemangsa seks dan pembunuh? Jika hasrat seksual yang keliru dapat membuat Daud berperilaku seperti pengikut aliran sesat, seberapa besar kemungkinan yang kita miliki untuk tidak mengulangi kesalahannya?

Jangan ada di antara kamu! Seribu tahun kemudian, umat Allah masih bergumul untuk memisahkan diri mereka dari perilaku seksual yang ada dalam budaya masyarakat sekitarnya. Rasul Paulus menulis surat kepada saudara-saudarinya di kota metropolitan Efesus, ”Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus” (Efesus 5:3).

Sebelumnya, di surat yang sama, ia meminta, ” Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran (Efesus 4:17-19).

Keprihatinan Paulus memiliki alasan yang benar. Efesus menyombongkan sebuah keajaiban dunia kuno, yakni kuil yang diperuntukkan bagi Dewi Diana. Di tempat suci ini, para pekerja seksual dipekerjakan dalam upacara persetubuhan dengan orang-orang yang beribadah. Namun, sebenarnya tidak hanya itu. Menurut Henry Marrou dalam sejarah tentang pendidikan kuno, homoseksualitas juga diajarkan dalam masyarakat Yunani yang ”terbuka” ini. Perilaku homoseksualitas merupakan hak istimewa yang memisahkan bangsawan Yunani yang beradab dengan masyarakat barbar.

Namun, masih saja ada yang bertanya, lalu kenapa? Mengapa agama harus melongok ke ”urusan tempat tidur” masyarakat? Mengapa Allah menaruh perhatian terhadap perilaku seksual orang-orang yang percaya kepadaNya? Bukankah yang lebih penting adalah bila kita percaya kepadaNya, saling mengasihi, dan menghargai perbedaan di antara kita? Mengapa Allah ingin agar Musa dan Paulus membuat peraturan tentang perilaku seksual? Ada beberapa cara untuk menjawab pertanyaan ini. Salah satu jawabannya adalah bahwa menurut Alkitab, Allah peduli akan perilaku seksual karena iu berakar pada masalah yang lebih dalam. Nanti kita akan membahas mengenai hal itu lebih dalam. Saat ini, cukuplah bila kita menyebutkan apa yang terjadi dalam masyarakat kita ketika kita semakin mengesampingkan pengendalian hasrat seksual seperti yang diminta oleh Musa dan Paulus. Mungkinkah Allah cukup mengasihi kita sehingga Dia ingin supaya kita terhindar dari rasa sakit akibat hasrat seksual yang salah arah?

Penyakit Menular Seksual (PMS). Suatu penelitian yang baru-baru ini diadakan oleh Institut Alan Guttmacher menyatakan bahwa satu dari lima orang Amerika, sekitar 56 juta orang, mengidap penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks. Di antara 12 juta kasus baru yang didiagnosa setiap tahun, dua pertiganya diidap oleh mereka yang berusia di bawah 25 tahun, dan seperempatnya diidap oleh kaum remaja (The Christian Science Monitor, ”Sexual Revolution-Woman Pay the Cost,” 8-4-93). AIDS kini menjadi penyebab kematian peringkat keenam bagi mereka yang berusia di antara 15 sampai 24 tahun (USA Today, hal. 3A, 16-6-93). Apalagi sekarang ini.

Anak-anak yang tidak diharapkan. Laporan terbaru Pusat Studi Kebijakan Sosial di Washington, mendokumentasikan ”tingkat memburuknya” para remaja. Laporan itu menunjukkan bahwa hampir 9 persen bayi yang lahir pada 1990, lebih dari 360.000 dilahirkan oleh remaja yang belum menikah. Hal itu ditambah lagi dengan data statistik mengenai aborsi yang dilakukan oleh remaja, dimana seperempat dari aborsi itu dilakukan oleh remaja. Mungkin sama halnya dengan yang terjadi Indonesia, banyak kaum muda yang menjadi tumpuan harapan orang tua tiba-tiba sudah hamil dengan pacarnya, kemudian menikah karena terpaksa ”Married By Accident” (MBA). Atau akan ”gelar” tersebut akan menjadi cemoohan orang lain.

Kekerasan Seksual. Pengorbanan dan tangisan karena penyalahgunaan seksualitas ada diman-mana. Perasaan tergila-gila akan sesuatu hal dan penaklukan secara fisik telah menggantikan cinta. Pelindung masyarakat telah menjadi pemangsa. Kecurigaan menggantikan kepercayaan. Anak-anak kecil diwanti-wanti untuk menjauhi orang dewasa. Sebaliknya, orang dewasa ragu-ragu untuk menyapa anak-anak kecil di jalan, karena takut disalah artikan. Laki-laki curiga terhadap laki-laki lain, dan perempuan curiga baik terhadap laki-laki maupun perempuan.

Banyak keluarga mengalami goncangan karena adanya kekerasan seksual yang berlangsung berpuluh-puluh tahun. Para suami dan istri bergumul dengan kenangan dan luka yang timbul dari hubungan mereka dengan pasangan terdahulu. Perceraian dari komitmen jangka panjang dianggap sebagai kebebasan untuk mengejar nafsu sesaat dari hubungan yang baru. Pastor, pendeta, konselor, dan pekerja perlindungan anak bekerja di bawah awan ketidakpercayaan yang telah diciptakan oleh banyak sekali perlakuan seksual yang buruk yang dilakukan orang lain dalam profesi mereka.

Inilah sebabnya mengapa Allah menaruh perhatian terhadap perilaku seksual kita. Namun, ada pula masalah yang lebih dalam. Di halaman-halaman berikut, kita akan melihat lebih dekat mengapa Alkitab membahas mengenai perilaku seksual kita.

Pulih Dari Dosa Seksual

PENDAHULUAN



Masalah ini kembali penyusun angkat karena peliknya masalah penyimpangan seksual akhir-akhir ini, yang banyak membuat pusing para orang tua, ataupun seseorang yang tidak dapat lepas dari dosa ini. Juga tidak terlepas maraknya situs-situs porno yang banyak ragam dan jenisnya, dan lagi situs-situs banyak diakses oleh kebanyakan anak muda dan anak-anak sekolah ketika mereka terkoneksi dengan internet. Dan penyusun sangat sayangkan sekali hal tersebut, karena internet adalah sarana media komunikasi dan berita, sungguh sangat percuma jika hanya digunakan untuk mengakses situs-situs seperti itu, maka hendaknya sebagai user kita bisa lebih bijak dan menyeleksi yang terbaik bagi diri kita. Penyusun kutip tulisan ini dari buku “Pulih dari Dosa Seksual” yang judul aslinya “Design For Desire” oleh Tim Jackson dan Mart De Haan.

Penyusun merasa prihatin dengan keadaan yang ada, terutama bagi kaum muda yang menjadi korban paling besar dari dosa seksual ini. Ataupun remaja yang beranjak dewasa, yang memasuki masa pubertas tetapi menjadi tersesat dengan lingkungan dan hawa nafsunya sendiri. Dalam Matius 9:37-38 “Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Sebagai kaum muda, harusnya adalah masa emas dan waktu terbaik dimana kita dapat mengenal Tuhan dan berkarya di dalam namaNya, jangan sampai di waktu kita tua ataupun mau dipanggil ajal kita baru sadar akan kesalahan kita. Mumpung di waktu muda, kita lebih mengenal akan Tuhan dan bertumbuh di dalamnya. “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. “ (Mazmur 103:5). Tuhan yang paling mengerti akan diri kita, akan tetapi kita juga harus punya ketulusan hati dan kemauan untuk berubah. Tuhan berjanji akan memberikan masa muda yang indah bila kita selalu dekat dengan Tuhan.

Kita cenderung salah memahami karunia Allah akan keintiman dan hasrat. Kita cenderung menyangkal dan membunuh hasrat yang kita miliki, atau memuaskan untuk sementara waktu dengan cara yang sebenarnya hanya menambah frustasi dan penyesalan kita. Kita juga cenderung gagal untuk melihat perbedaan antara kebutuhan dan hasrat yang mengarah ke jalan yang salah. Kita sudah belajar bahwa ketika kita haus, kita membutuhkan air; saat kita lapar, kita membutuhkan makanan; jika kita lelah, kita membutuhkan istirahat. Karena dengan itu, dengan mudah kita mengasumsikan bahwa jika hasrat seksual kita bangkit, kita perlu memuaskan diri kita dengan hubungan seksual yang nyata maupun yang hanya berupa khayalan.

Budaya kita mendukung asumsi tersebut. Industri dan media telah menciptakan seni godaan seksual. Kita dikelilingi oleh orang-orang yang tahu bahwa mereka dapat mencari nafkah dengan membangkitkan dan menimbulkan hasrat seksual. Industri televisi, radio, musik, video film, buku, iklan, baju dan berbgai hal yang mengeksploitasi keinginan kita yang keliru dan salah arah mengenai keintiman dan kepuasan.

Bagaimanapun, kita sebenarnya tidak membutuhkan pengalaman seksual yang merampas kesempatan kita untuk mendapatkan persahabatan dan hubungan yang langgeng. Kita tidak membutuhkan hubungan seksual secara fisik agar dapat dibedakan secara maskulin maupun feminin. Melakukan hubungan seksual di luar nikah bukanlah tanda kebebasan, penghargaan diri, atau kemodernan.

Apabila Anda telah tersesat dalam dunia seksualitas yang gelap, Anda tetap dapat menemukan jalan untuk kembali. Ada suatu cara untuk meyakini pengampunan Allah. Namun, pertama-tama kita perlu memiliki pemahaman yang jelas mengenai masalah tersebut. Meskipun tulisan berikut mungkin menyakitkan untuk dibaca, tetapi penting bagi kita untuk mengetahui pikiran Allah mengenai perilaku seksual yang tidak sesuai dengan rancanganNya mengenai hasrat. Kita akan lebih cepat pulih bila kita rela mendengarkan suara Allah dengan seksama.

ENGKAULAH HARAPANKU, YA TUHAN

Bacaan Mazmur 71: 1-11



Manusia lahir lalu mati. Manusi bertumbuh di masa kanak-kanak kemudian menjadi tua. Segala sesuatu ada waktunya. Ketika masih muda manusia mengandalkan kekuatannya. Tibalah masa tua kekuatan pun habis. Hilanglah cahaya kehidupan. Hidup manusia bagaikan perjalanan mentari, ketika datang pagi bersinar cerah, tetapi bila senja cahayanya semakin meredup, dan kalau malam hilanglah kebesarannya.

Apa yang dapat di”HARAP”kan dan apakah CITA-CITA manusia selama perjalanan hidupnya yang pendek di bawah langit ? Manusia muda dan menjadi tua. Manusia yang lahir dari perut ibu akan pasti masuk ke rahim bumi. Apa arti hidupnya ?

Pemazmur memberikan nasehat jalan keluar. TUHAN itu sumber harapan. TUHAN itu terpercaya! Dari pernyataan itu pemazmur bermaksud menceritakan perjalanannya sejak anak-anak, bahkan sejak dalam perut ibu, sampai masa tua. Bayak peristiwa pemazmur alami sejauh perjalanannya, suka duka bergantian serta sukses-gagal dihadapi bersama dengan TUHAN. Ia menyaksikan banyak orang gugur dalam perjuangan ke masa depan, tapi pemazmur menikmati pertolongan Allah. Allah membuat musuh-musuh menjadi sahabat karib. Allah meluaskan jalan baginya. Allah menghidupkan ketika ia sakit. Allah menjadi benteng pertahanan ketika orang merancangkan kejahatan, ketika kekuatan melemah pada masa tua, ketika semua kenalan meninggalkan, ketika ia berbuat dosa, TUHAN mengampuninya, ketika ia kehilangan kasih sayang, rahmatNya diberikan. TUHAN selalu menetap dan tinggal menjadi sahabat karibnya. Allah adalah kebaikan bagi Pemazmur.

Pemazmur mengajarkan kepada manusia, khususnya kepada orang lanjut usia: Jangan kamu takut, kamu tidak akan sendirian, sebab AKU, TUHAN, Dialah Allahmu, yang menyertai engkau sepanjang perjalanan hidupmu. Allah itu pokok harapan. Amin.

Doa Untuk Anda

Apakah Anda Ingin mendapat kiriman text Doa-Satu-Menit setiap hari ? Kirim Email Kosong ke : doa-satu-menit-subscribe@yahoo.com
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)

Jika Kamu di Surabaya, Stay Tuned at

  • Bahtera Yuda at 96.4 MHz
  • Bethany FM at 93.8 MHz
  • Nafiri FM at 107.10 MHz

Firman Tuhan Untuk Anda

"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yohanes 6:51)




Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. (Yohanes 10:14-15)




“Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)




Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yohanes 11:25-26)




Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)




“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakan lah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)




-----000000------00000------00000---------