Masih belum menemukan apa yang Anda cari? Masukkan kata kunci pencarian Anda untuk mencari artikel yang ada di Blog ini:
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)

e diel

03. Dan Kepada Yesus Kristus, AnakNya Yang Tunggal, Tuhan Allah Kita.

Penulis Injil Markus mengawali tulisannya dengan sebuah pernyataan yang cukup jelas tentang Yesus, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Markus 1:1). Nama Yesus, dalam bahasa Ibrani berarti, Allah membebaskan.

Ketika Allah dengan perantaraan malaikatNya menyampaikan berita tentang rencanaNya kepada Maria, juga menegaskan, siapakah Dia dan untuk apa Dia diutus (lihat Lukas 1:31-33). Ia adalah Allah sendiri yang telah datang dan menyatakan diri sebagai manusia (lihat Yohanes 1:14), dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa.

Pernyataan Allah dalam diri Yesus sesungguhnya merupakan suatu misteri yang tidak pernah dimengerti oleh manusia. Akan tetapi peristiwa ini juga menjadi sumber sukacita manusia. Karena dengan perantaraan karyaNya, Allah yang sejak jatuhnya manusia dalam dosa tidak terhampiri, sekarang menjadi yang terhampiri dan berkenan menyambut kehadiran manusia. Suatu peristiwa yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh manusia. Dengan perantaraan Tuhan Yesus, Allah berkenan hadir dalam pribadi AnakNya.

1. Yesus

Menurut Injil Matius (Matius 1:21) dan Injil Lukas (Lukas 1:31), nama Yesus berasal dari Allah sendiri seperti yang disampaikan oleh malaikatNya. Artinya, dalam nama itu ada sesuatu yang penting tentang diri Yesus. Memang kalau diperhatikan dalam Injil Matius, yang menerima pesan dari malaikat adalah Yesus, sedangkana dalam Injil Lukas yang menerima pesan adalah Maria. Adanya perbedaan ini tidak menunjukkan adanya pertentangan antara kedua Injil. Adanya perbedaan ini tidak lain karena dipengaruhi latar belakang budaya kedua penulis Injil. Keduanya mempunyai maksud yang sama, yaitu ingin menunjukkan bahwa Yesus tidsak berasal dari manusia, tetapi dari Allah sendiri. Selanjutnya Yesus mempunyai peranan yang penting dalam rencana keselamatan Allah.

Hal ini sebenarnya bukan hal baru dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, Allah telah memerintahkan supaya nama Abram diganti menjadi Abraham (Kejadian 17:5), Yakub diberi nama Israel (Kejadian 32:29). Dalam Perjanjian Baru hanya ada dua nama yang berasal dari Allah, yaitu Yohanes Pembabtis dan Yesus sendiri.

Sebagai manusia yang mendapatkan nama dari Allah, maka Yesus tidak hanya menerima tugas khusus dari Allah, tetapi juga ditempatkan di bawah perlindungan Allah secara khusus pula. Ia juga menjadi “milikNya” yang paling istimewa dari antara umat manusia. Nyatanya Yesus mempunyai hubungan yang khas dengan Allah.

Nama Yesus juga mempunyai arti, “Yahwe adalah penolong / keselamatan”. Dalam Matius 1:21 ditegaskan, “Sebab Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka”. Berdasarkan keterangan dari Injil Matius, arti keselamatan bukan sekedar selamat dari bahaya atau penderitaan, tetapi selamat dari hukuman Allah akibat dosa.

Dalam keempat Injil, khususnya Injil synoptis, nama Yesus sering dikaitkan dengan nama kota Nazaret. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah tokoh sejarah, bukan sekedar makhluk surgawi atau malaikat yang turun ke dunia. Memang dalam Perjanjian Baru ada beberapa kitab yang dalam menempatkan Yesus menimbulkan kesan berbau mitos. Misalnya dalam Injil Yohanes (Yohanes 3:13; 6:62) atau dalam surat Efesus (Efesus 4:9-10). Meskipun para penulis Injil Yohanes dan Efesus memberikan keterangan yang seperti itu, Perjanjian Baru pada umumnya selalu berkata bahwa Yesus adalah seorang manusia.


Seringkali Yesus disebut sebagai Isa (nabi Isa). Kata Isa berasal dari bahasa Arab. Asal-usul nama Isa yang dikenakan pada diri Yesus sampai saat ini tidak jelas. Ada yang berpendapat bahwa di antara bangsa Yahudi menyebut Yesus sebagai Esau. Sebutan Esau bagi orang Yahudi sebenarnya merupakan sebutan yang nadanya penghinaan. Esau dianggap sebagai pencuri bakat dari Yakub. Ada lagi yang berpendapat bahwa dalam bahasa Siria nama Yesus diterjemahkan menjadi Yehsu, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab menjadi Isa. Karena asal-usulnya tidak jelas, seyogyanya kita tidak perlu menyebut Yesus dengan nama Isa.

2. KRISTUS

Pada suatu saat Yesus bertanya kepada murid-muridNya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu ?” (Matius 16:13; Markus 8:27; Lukas 9:18). Uniknya, pertanyaan itu diajukan oleh Yesus ketika sedang berada di Kaisarea-Filipi, sebuah daerah di luar Palestina. Pertanyaan itu sangat penting artinya. Setelah para murid menjelaskan, bagaimana pendapat orang banyak, sekarang Yesus bertanya kepada mereka. Petrus menjawab “Engakaulah Kristus” (Matius 8:30).

Kristus adalah kata Yunani untuk ungkapan Messias, yang artinya, Yang Terurapi. Yesus mendapatkan nama Kristus karena menjadi utusan Allah dalam rangka menyatakan rencana dan karya keselamatan. Dalam Perjanjian Lama pengurapan atas nama Allah sudah biasa dilakukan. Bangsa Israel selalu mengurapi raja dan imam dengan cara menuangkan minyak ke atas kepala mereka yang menerima tugas dari Allah. Biasanya yang diurapi adalah raja, imam dan kadang-kadang nabi (lihat I Raja-raja 19:16).

Yesus sendiri diurapi oleh Allah saat dibabtis oleh Yohanes Pembabtis (Matius 3:13-17). Maka apabila kita menyebuat nama Yesus itu Kristus, berarti Yesus adalah orang yang dipilih dan diutus oleh Allah untuk tugas khusus, yaitu menjadi Raja dan Penyelamat manusia. Bahkan Ia juga adalah Imam dan Nabi.

3. Yesus, Anak Allah yang Tunggal

Sebutan Anak Allah sudah dikenal dalam Perjanjian Lama. Sebutan ini diberikan kepada,malaikat (Ayub 1:6), bangsa Israel (Keluaran 4:22), anak-anak Israel (Ulangan 14:1) dan juga kepada raja Israel (2 Samuel 7:14; Mazmur 82:6). Sebutan anak atau anak-anak Allah menunjukkan adanya hubungan yang dekat antara Allah dengan manusia. Sama sekali tidak menunjukkan hubungan secara biologis. Allah tidak mungkin mempunyai anak. Pengertian anak tidak harus berarti yang dilahirkan secara biologis.

Yesus juga disebut sebagai Anak Allah. Sebutan ini menunjukkan bahwa Ia mempunyai hubungan yang istimewa dan begitu dekat dengan Allah. Yesus sendiri telah menyatakan bahwa, “Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30; 5:19). Bahkan dalam Yohanes 3:16, Yesus menyatakan bahwa diriNya adalah Anak Allah yang tunggal. Dengan demikian Yesus telah meneguhkan pra-adanya yang abadi (bandingkan Yohanes 10:36). Sekaligus Yesus berharap agar semua orang percaya kepada, “nama Anak Allah yang tunggal” (Yohanes 3:18).

Bahwa Yesus adalah Anak Allah juga diakui oleh bangsa bukan Yahudi, yaitu kepala pasukan yang telah menyalibkan Dia, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah”. (Markus 15:39).

Kedudukan sebagai Anak Allah mencapai puncaknya ketika ia dibangkitkan dari antara orang mati (Roma 1:4). Ia dinyatakan sebagai Anak Allah dalam kekuasaanNya Roh Kudus. Lalu para rasul yang lain pun dapat mengakui kemuliaanNya, …… kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. (lihat Yohanes 1:14). Jelas bahwa sebutan Anak Allah dalam diri Yesus bukan sekedar sebutan atau gelar kehormatan yang diberikan oleh manusia. Pengakuan Petrus yang menyatakan bahwa Yesus adalah Messias, Anak Allah yang hidup jelas bukan berasal dari Petrus sendiri. Tetapi Allah, Bapa di surga yang menggerakkan hatinya. Demikian juga dengan pengalaman Paulus, seperti yang dinyatakan dalam Galatia 1:15-16. Paulus mengakui bahwa semuanya itu berkat pertolongan Allah.

4. Yesus, Tuhan kita.

Bagi bangsa Israel nama Allah yang ditulis dengan empat huruf, yaitu YHWH, tidak boleh diucapkan. Mengucapkan nama itu dianggap sebagai penghujatan. Sebagai gantinya, jika menjumpai empat huruf ketika membaca kitab Taurat, mereka akan menyebut Adonai, yang artinya juga sama dengan Tuhan. Jadi sebutan Tuhan untuk Allah bukan hal yang asing bagi mereka. Perjanjian Baru juga memakai kata Tuhan sebagai sebutan untuk Allah Bapa, tetapi bersamaan dengan itu juga kata Tuhan dipakai untuk Yesus. Ini merupakan sesuatu yang baru, yang sebenarnya tidak dikenal oleh bangsa Yahudi sebelumnya.

Agaknya Yesus sendiri sadar dengan sebutan Tuhan itu. Hal ini bisa dilihat ketika berdiskusi dengan orang Farisi tentang arti Mazmur 110 (Lihat Matius 22:41-46). Yesus seakan-akan menuntut sebutan itu. Yesus merasa berhak menerima sebutan Tuhan seperti yang dikatakan dalam Kisah Para Rasul 2:36, Allah sendiri yang memberi sebutan Tuhan.

Paulus dalam suratnya yang ditujukan pada jemaat di Korintus (I Korintus 12:3) menegaskan, “Tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus”. Dengan demikian Paulus menyampaikan kepada kita sebuah pengakuan iman Kristen yang paling tua, yaitu tentang kedudukan Yesus sebagai Tuhan.

Dengan menyebut Yesus sebagai Tuhan, tidak berarti bahwa orang Kristen telah menyembah dua Tuhan atau lebih, yaitu Tuhan Allah, yang juga sebagai Bapa dan Tuhan Yesus, yang juga sebagai Anak. Dalam I Korintus 8:6, dengan jelas disebutkan bahwa, “…., namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripadaNya berasal segala sesuatu yang untuk Dia kita hidup dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”.

Dalam kata Tuhan (Yun – Kurios) tidak mengandung ide Allah. Kata kurios memang agak sukar diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Jawa kata yang sama diterjemahkan menjadi Gusti. Kata Gusti tidak hanya untuk Allah, tetapi juga bisa dipakai untuk manusia, misalnya, Gusti Kanjeng Pangeran (gelar pangeran Jawa). Kata Gusti disini menunjuk kepada gelar kebangsawanan Jawa.

Kalau sekarang kepada Yesus diberi kata Tuhan atau Gusti, karena Yesus menjadi pokok keselamatan yang datang dari Allah dan sekaligus sebagai gelar yang diberikan kepadaNya.


Maka dengan memberi sebutan Tuhan bagi Yesus, kita mengakui bahwa Yesus sebagai yang berkuasa sehubungan dengan karya keselamatan dan penyelamatan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah sendiri. Di samping Yesus (dan Allah) tidak ada yang setinggi Dia (bandingkan I Korintus 8:6). Yesuslah yang menjamin keselamatan bagi mereka yang taat kepadaNya.

Nuk ka komente:

Buku Tamu

Waktu saat ini menunjukkan :

 

Dan Kamu adalah pengunjung ke :

Firman Tuhan Untuk Anda

"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yohanes 6:51)




Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. (Yohanes 10:14-15)




“Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)




Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yohanes 11:25-26)




Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)




“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakan lah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)




-----000000------00000------00000---------

Doa Untuk Anda

Apakah Anda Ingin mendapat kiriman text Doa-Satu-Menit setiap hari ? Kirim Email Kosong ke : doa-satu-menit-subscribe@yahoo.com

Jika Kamu di Surabaya, Stay Tuned at

  • Bahtera Yuda at 96.4 MHz
  • Bethany FM at 93.8 MHz
  • Nafiri FM at 107.10 MHz
Online Reference
Dictionary, Encyclopedia & more
Word:
Look in: Dictionary & thesaurus
Computing Dictionary
Medical Dictionary
Legal Dictionary
Financial Dictionary
Acronyms
Idioms
Wikipedia Encyclopedia
Columbia Encyclopedia
Periodicals
Literature
by: