Masih belum menemukan apa yang Anda cari? Masukkan kata kunci pencarian Anda untuk mencari artikel yang ada di Blog ini:
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)

e hënë

07. AKAN DATANG DARI SANA, MENGHAKIMI ORANG YANG HDUP DAN YANG MATI.

1. Kedatangan-Nya yang Kedua Kali

Kedatangan Yesus yang kedua kali, atau dalam bahasa Yunani parusia juga sering disebut sebagai Hari Akhir atau eskhatologis. Kata parusia secara hurufiah berarti, ada di situ, kedatangan, kehadiran. Jadi secara khusus parusia, berarti kedatangan Tuhan atau hari-Nya. Sedangkan kata, eskhatologi (juga berasal dari bahasa Yunani), mempunyai arti, yang penghabisan atau hal-hal yang terakhir. Hal ini berkaitan erat dengan tradisi Apokalipsis Perjanjian Lama, mengenai kedatangan Allah. Dari situ dapat ditarik kesimpulan umum bahwa eskhatologis dan parusia berarti, penyelesaian, penyempurnaan rencana dan karya Allah (bdk. Zakharia 9:9; Matius 24:3, 27, 37, 39; 1Korintus 15:23; 1Tes. 2:19; 2Ptr. 1:16 dsb).

Kata apokalipsis dalam konteks ini berarti pemahaman tentang rahasia-rahasia jaman atau dimensi-dimensi tersembunyi tentang makna sejarah dimana karya penyelamatan terwujud tahap demi tahap.

Dalam Alkitab banyak digunakan istilah tentang hal itu, antara lain; Hari Kedatangan Kristus, Hari Anak Manusia, Hari Kiamat, Hari Tuhan, Hari Pengadilan atau Penghakiman Allah, Yerusalem Baru, Langit dan Bumi baru, serta istilah-istilah lain yang sejiwa dengan itu. Semua istilah tersebut dapat disimpulkan sebagai Hari Pernyataan Kerajaan Allah secara sempurna. Kesempurnaan pernyataan Kerajaan Allah ini mengakhiri segala ketidak-sempurnaan dunia untuk diperbaharui dengan yang baru dan yang sempurna. Peristiwa ini tidak terjadi di dalam perjalanan waktu, tetapi di akhir perjalanan waktu.

Eskhatologi atau Parusia itu juga termasuk di dalamnya saat penghakiman Allah. Penghakiman Allah di sini memiliki makna bahwa pada akhirnya segala sesuatu, baik yang pernah ada maupun yang masih ada, harus berdiri di hadapan Allah. Ini juga merupakan suatu pengakuan bahwa tidak ada realitas lain yang dapat mempunyai hakekat dan keberadaan di luar Allah. Oleh karena itu segala sesuatunya harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah. Di sini semua orang, baik yang hidup maupun yang mati memang akan dihakimi oleh apa yang telah mereka lakukan. Namun yang lebih penting harus disadari adalah bahwa Allah menghakimi berdasarkan Kitab Kehidupan (Wahyu 20:15). Ia tidak terikat oleh aturan apapun, apalagi aturan-aturan penghakiman yang dibuat manusia. Mengapa demikian? Karena di hadapan Allah tidak seorangpun dapat mengakui tidak bersalah.

Penghakiman Allah ini berdasarkan pada kasih dan karunia-Nya, bukan pada besar-kecilnya dosa dan pahala. Penghakiman Allah berdasarkan pada kehidupan, bukan pada kematian dan hukuman. Kitab kehidupan yang dipakai sebagai acuan itu adalah kitab kasih karunia Allah. Penghakiman Allah yang tidak dilandasi oleh kasih dan karunia-Nya tidak dapat dibayangkan apa akibatnya, sebab semua manusia telah jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu sudah sewajarnya jika manusia harus menanggung hukuman. Di sini Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang Hidup. Allah yang bebas dalam memutuskan segala sesuatu sesuai dengan keadilan kasih-karunia yang diberlakukan-Nya. Penghakiman ini juga bermakna sebagai wujud penyempurnaan Allah atas segala rencana-Nya. Dan rencana-rencanaNya itu baik, itulah sebabnya ditulis dalam Kitab Kehidupan, bukan Kitab Kematian.

Jika membaca Alkitab sekilas, yang berkaitan dengan masalah tanda-tanda kedatangan Yesus yang kedua, memang ada kontradiksi atau pertentangan. Di satu sisi dikatakan, bahwa kedatangan Yesus yang kedua itu bagaikan seorang pencuri di waktu malam, yang datang dengan tiba-tiba. Dan tidak ada yang tahu – termasuk Yesus sendiri – kecuali Bapa di surga (Matius 24:36; 1Tes 5:2, 4; Wahyu 16:15). Di pihak lain, Alkitab juga mengatakan bahwa kedatangan Yesus yang kedua akan ditandai dengan berbagai tanda, seperti bencana alam, Kristus palsu, banyaknya orang yang murtad, banyak keluarga yang terpecah, saling membenci, banyak peperangan, Allah palsu dan sebagainya (lih. Matius 24; 2Tes 2:3-7).

Pertentangan ini tidak perlu menjadikan kita bingung, karena kalau bagian-bagian tersebut diteliti lebih lanjut, maka kita akan tahu bahwa tidak ada petunjuk yang pasti tentang titik waktu kedatangan Yesus yang kedua. Artinya, tanda-tanda itu boleh saja terjadi, tetapi kedatangan Yesus yang kedua kalinya tetap menjadi rahasia yang tidak terungkapkan sekarang ini. Matius 24, yang mengungkap panjang lebar tentang tanda-tanda kedatangan Yesus yang kedua, pada akhirnya menutup keterangannya dengan suatu tekanan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu saatnya, kecuali Bapa yang di surga sendiri (ayat 36). Demikian juga dengan kitab Wahyu. Kitab Wahyu sangat visualistik dalam menggambarkan kedatangan Kristus yang kedua pada akhirnya mengakui bahwa Ia datang bagaikan pencuri (Wahyu 16:15).

Yang jelas, Alkitab merupakan bahwa kedatangan Kristus yang kedua itu pasti terjadi, meskipun tidak ada seorangpun yang tahu kapan peristiwa itu akan terjadi. Kepastian ini hendaknya menjadikan setiap orang percaya senantiasa berjaga-jaga, supaya sewaktu-waktu bisa mempertanggung-jawabkan kehidupan ini yang tidak lain adakah anugerah Allah. Yang justru penting disini adalah kita menyadari bahwa Kerajaan Allah dan hidup kekal itu bukan akan terjadi kelak di kemudian hari. Yesus sendiri memberitakan bahwa Kerajaan Allah sesungguhnya sudah datang dan ada di antara kita (Lukas 11:20; 17:21). Artinya, kehadiran dan kuasa Kerajaan Allah sudah dapat dirasakan oleh orang-orang percaya. Sedangkan kedatangan Yesus yang kedua kali itu untuk menyempurnakan Kerajaan Allah yang sudah datang.

Ketika seorang mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat, saat itu juga ia sudah masuk ke dalam kuasa Kerajaan Allah (1Yohanes 3:14). Sebagai warga Kerajaan Allah berarti seluruh keberadaan/eksistensi kehidupannya bukan lagi menjadi miliknya sendiri, tetapi Kristuslah yang hidup di dalam dirinya (Galatia 2:20). Itulah yang memberi makna sejati pada seluruh kehidupannya, sehingga seluruh pikiran dan perbuatan manusia mempunyai nilai kekekalan.

Hidup dalam Kerajaan Allah bukan berarti pelipat-gandaan dari kenikmatan dunia ini sehingga manusia bisa menikmati segala sesuatu yang selama di dunia ini belum dapat dinikmati. Intisari hidup dalam Kerajaan Allah adalah persekutuan yang sempurna dengan Allah.

Ada lima hal yang dapat diperoleh dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah, yaitu :

- Hidup manusia telah mendapatkan makna dan isi yang sejati

- Dalam persekutuan tersebut manusia benar-benar dapat mengenal Allah

- Manusia dapat mengenal kasih yang sejati. Karena Kerajaan Allah adalah Kerajaan Anak yang dikasihi (Kolose 1:13). Di situ iman dan harapan diganti dengan memandang muka dengan muka dan yang tinggal adalah kasih yang sejati (1Korintus 13:12, 13). Kasih itu adalah kasih yang sempurna antara Allah dengan manusia dengan sesamanya.

- Hidup dalam Kerajaan Allah berarti memuji dan memuliakan nama Allah, baik dengan pikiran, perasaan, keinginan, kata-kata dan perbuatan dari seluruh aspek kehidupan manusia.

- Pada akhirnya hidup dalam Kerajaan Allah adalah hidup dalam kebahagiaan sejati dan kekal. Itulah keselamatan yang utuh dan lengkap (Matius 5:3-10).

Keselamatan yang utuh dan lengkap itu bukan hanya meliputi keselamatan rohani saja, tetapi juga keselamatan bagi seluruh keberadaan hidup manusia. Artinya, bahwa keselamatan tersebut betul-betul juga dirasakan oleh aspek kehidupan yang lain, karena Allah menciptakan manusia. Dalam keselamatan itu Allah mengembalikan esensi dan eksistensi manusia sebagai makhluk ciptaan yang secitra dengan Diri-Nya (bdk Kej. 1:26).

Lebih dari itu, keselamatan tersebut tidak bersifat eksklusif, tetapi juga harus disampaikan/ditawarkan kepada seluruh umat manusia. Sebab keselamatan yang demikian itulah yang direncanakan dan dikehendaki Allah serta telah diwujudnyatakan dalam diri manusia Yesus.

Keselamatan yang utuh dan lengkap itu juga meliputi langit dan bumi. Artinya, keselamatan itu tidak hanya diperuntukkan kepada manusia, tetapi juga bagi seluruh tatanan semesta yang akan diperbaharui oleh Allah sendiri. Ini adalah bagian dari keselamatan yang tidak eksklusif tadi. Keselamatan atas manusia juga berarti keselamatan atas semesta, dimana manusia tinggal di dalamnya. Justru dengan keselamatannya semesta itu, berarti semakin lengkap dan utuhlah keselamatan yang dialami manusia. Dengan demikian Allah tidak hanya mengembalikan manusia kepada citranya yang semula, tetapi juga mengembalikan seluruh ciptaan kepada rencana dan kehendak-Nya semula. Dimana Ia menciptakan segala sesuatu itu baik adanya.

2. Menghakimi orang Hidup dan Mati.

Seperti para nabi (mis Maleakhi 4:1 dst) dan juga Yohanes Pembabtis (Matius 3:7-12), Yesus pun mengumumkan pengadilan pada hari akhir pada khotbah-Nya (lih Markus 12:38-40). Dalam peristiwa pengadilan akhir, Yesus yang adalah Messias akan menyingkap tingkah laku dan isi hati yang paling dalam dari setiap orang (bdk. Luk. 12:1-3; 16:19-31). Kehadiran Yesus dalam pengadilan akhir adalah sebagai Hakim, yang mengadili manusia. Pengadilan ini tidak bisa dianggap sebagai pengadilan “balas dendam”, yaitu mengadili mereka yang menolak percaya kepada-Nya atau juga bukan sebagai pengadilan “balas jasa”, bagi umat-Nya karena telah menerima dan percaya kepada-Nya.

Yesus Kristus, adalah Tuhan kehidupan yang kekal. Sebagai Messias Ia mempunyai hak penuh mengadili perbuatan manusia. Ia mendapatkan hak ini melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Karena itu, Allah yang adalah Bapa-Nya telah ”menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak” (Yoh. 5:22). Meskipun demikian, ketika Ia datang yang kedua kalinya, bukan semata-mata sebagai Hakim yang siap menghakimi manusia seturut dengan perbuatannya, tetapi justru Ia datang sebagai Juru Selamat (lih Yoh. 3:17). Alkitab dalam melukiskan peristiwa pengadilan tidak menampakkan suasana yang mencekam dimana manusia yang diadili berada dalam suasana ketakutan. Justru, Alkitab melukiskan suasana pengadilan itu sebagai puncak dari kemuliaan Kristus sendiri yang akan memberikan hidup kepada umat-Nya (Yoh. 5:25-26).

Nuk ka komente:

Buku Tamu

Waktu saat ini menunjukkan :

 

Dan Kamu adalah pengunjung ke :

Firman Tuhan Untuk Anda

"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yohanes 6:51)




Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. (Yohanes 10:14-15)




“Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)




Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yohanes 11:25-26)




Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)




“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakan lah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)




-----000000------00000------00000---------

Doa Untuk Anda

Apakah Anda Ingin mendapat kiriman text Doa-Satu-Menit setiap hari ? Kirim Email Kosong ke : doa-satu-menit-subscribe@yahoo.com

Jika Kamu di Surabaya, Stay Tuned at

  • Bahtera Yuda at 96.4 MHz
  • Bethany FM at 93.8 MHz
  • Nafiri FM at 107.10 MHz
Online Reference
Dictionary, Encyclopedia & more
Word:
Look in: Dictionary & thesaurus
Computing Dictionary
Medical Dictionary
Legal Dictionary
Financial Dictionary
Acronyms
Idioms
Wikipedia Encyclopedia
Columbia Encyclopedia
Periodicals
Literature
by: